Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 18



Verona, Italia.


.


.


Pagi ini adalah hari pertama Justin mulai bekerja di kantor yang baru setelah kesepakatanya ia tanda tangani kemarin dengan Dio dela morte Grup. Justin memimpin salah satu proyek besar hingga harus menetap beberapa waktu lamanya di Verona.


Untuk itu perusahaan menyediakan apartemen untuk ia tempati sementara keberadaaanya di Verona. Justin juga meminta seorang sekretaris yang lincah dan juga pintar untuk membantunya menyelesaikan beberapa pekerjaan tersebut. Karena tidak mungkin ia bekerja tanpa seorang asisten. Justin juga memberi kriteria jika ia ingin sekretarisnya sama seperti Sophia. Daya tarik gadis itu benar-benar berbeda di mata Justin. Ada rasa yang berbeda setiap kali Justin menatap wajah Sophia. Ia seperti bertemu dengan kawan lama. Namun, sama sekali tidak saling kenal. Ia selalu berusaha mengingat apa pernah bertemu Sophia sebelumnya.


Alsan Justin memberi keriteria sesuai dengan kriteria Sophia karena ia yakin jika Elio akan mempertimbangkan untuk memberi Sophia kepadanya. Sekretaris itu di pilih langsung oleh Elio selaku ditektur pengganti, karena direktur sebenarnya adalah Ayahnya Zigo. Selaku ditektur bayangan, Elio bukan hanya memegang nama besar direktur saja, melainkan menangani beberapa pekerjaan penting yang ada di perusahaan. Ia juga bisa mengambil beberapa keputusan dan tidak perlu bertanya kepada ayahnya selagi ia bisa menanganinya. Salah satunya adalah meminjamkan sekretaris pribadinya itu kepada Justin.


Karena kesepakatan itu, pagi-pagi sekali Sophia sudah berada di aparteman milik Justin untuk mempersiapkan segala kebutuhannya. Ia membereskan seluruh bagian apartemen dan juga membuatkan makanan kesukaan justin lalu meletakkannya di atas meja.


"Selamat pagi Tuan Justin." Sophia dengan tanpa malu-malu masuk ke kamar pribadi Justin.


Pria itu nampak sedikit kaget dengan kehadiran Sophia yang tiba-tiba saja masuk ke kamarnya. Segera ia membalikkan bandan membelakangi Sophia. Untung saja ia sudah memakai celana. Namun, tetap saja memalukan karena ia belum mengenakan baju.


Sambil memakai bajunya Justin berbicara. "Nona Alexander. Seingat saya, bukankah kau sedang cuti. Lagi pula aku bukan atasanmu, lalu sedang apa kau di kamarku? Ini sangat tidak sopan."


Sophia auto memasang wajah manis. "Maafkan aku, kemarin aku benar-benar tidak tahu jika aku sudah di tugaskan untuk menjadi sekretaris pribadimu selama proyek berlangsung," ucapnya dengan menyunggingkan senyum termanisnya meski sebenarnya ia risih melakukan itu.


"Benarkah?"


"Tentu saja Tuan."


Sophia sedikit membungkuk. "Sarapanmu sudah siap Tuan."


Justin selesai dengan pakaiannya dan berbalik menatap Sophia. "Sayangnya aku sedang tidak lapar."


"Bukankah anda hrus sarapan sebelum berangkt ke kantor?"


"Yah... Sayangnya pagi ini aku tidak ingin melakukan kebiasaan itu."


"Tuan Justin, anda ..."


"Tidak ada, kau sudah boleh keluar."


Sophia sedikit tersinggung dengan penolakan Justin. Namun, ia menahan rasa dongkolnya itu dengan terus tersenyum. Sebelum keluar dari dalam kamar. Sophia memberi saran kepada Justin soal penampilannya itu.


"Maaf, aku hanya ingin mengatakan jika kau salah memasukan kancing ke dalam lubang kemejanya." Setelah mengtakan itu, Sophia langsung berbalik melangkah keluar dan menutup pintunya dengan sopan.


Justin yang baru menyadari ucapan Sophia langsung melihat ke arah tubuhnya. Dan memalukan sekali, ia memang salah memasukan kancing. Baru saja itu Sophia seperti bukan memberi saran tapi leboh tepatnya mengejek. Dengan wajah antara kesal dan malu, Justin memperbaiki kancing kemejanya yang ia kenakan dengan gerakan sedikit kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like vote dan komentar sebanyak-banyaknya yah. Maaf jadwal upnya selalu malam karena emang jam segitu aku punya kesempatan setelah baby ketiduran 🥲🙏🙏💙