
"Kau sekretaris utusan dari Louis grup kemarin bukan."
"Si." Sophia sedikit menunduk di depan pria yang sama sekali tidak ingin ia temui.
"Siapa namamu?"
Sophia menelan ludah kasar. Dia sangat gugup saat ini, padahal baru dua pertanyaan saja dari Justin. Bagaimana jika lelaki ini terus bertanya padanya.
Justin menatap intens wajah Sophia. "Nona Alexander, namamu? Kau belum menyebutkannya."
"Sophia Alexander," jawab Sophia dengan penuh semangat.
"Nama yang indah," jawab Justin. Ia melangkah mendekati Sophia. "Apa kita pernah bertemu? Nama dan wajahmu sangat familiar." Justin hendak menyentuh bagian sisi pipi kirinya. Namun, Sophia dengan cepat menghindar.
"Tidak! Kita tidak pernah bertemu Tuan Ruiz. Ini adalah pertemuan pertama kita," jawab Sophia melangkah mundur. Jantungnya berdebar dengan kencang saat ini, dia takut jika jarak yang terlalu dekat akan membuat Justin mendengar debaran di jantungnya.
"Kau sudah berkerja cukup lama di Louis grup bukan. Bahkan status sekretaris pribadi tidak pernah berpindah ke orang lain." Justin kembali memberika pertanyaan yang membuat Sophia sedikit merasa aneh.
"Si. Kau benar."
"Aku penasaran, apakah mungkin jika kau bosan dan ingin berpindah perusahaan."
Sejenak Sophia menatap takjub, ia tidak percaya jika Justin bisa mengatakan hal itu padanya. "Apa maksudmu Tuan Ruiz."
Justin membalas dengan Menaikkan sedikit senyum di ujung bibirnya. "Kedatanganku kali ini bukan hanya ingin menggabungkan Perusahaan. Namun, juga ingin mencari sekretaris yang kompeten yang bisa menyeimbangiku."
Sophia mengangguk mengerti. "Baiklah, aku akan mencari sesorang yang sesuai dengan kriteria yang kau maksud. Besok akan aku laporkan kepadamu."
Justin yang berdiri membelakangi langsung berbalik menatap Sophia. "Kenapa bukan dirimu yang kau rekomendasikan, ku pikir posisi itu cocok untukmu."
Sophia sekali tersenyum tipis, dia tidak tahu maksudh dari arah pembicaraann Justin. Namun, sepertinya ini akan merepotkannya. "Tapi aku masih sangat nyaman dengan Tuanku saat ini."
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tertarik." Sophia melakukan gerakan menunduk memberi hormat kepada Justin agar mau mengerti dengan pilihannya. Seteleh melakukan itu, dia langsung memohon diri dan meninggalkan Justin.
"Aku akan menjadikanmu sekretaris utama dan menaikkan gajimu sesuai yang kau inginkan," teriak Justin saat Sophia hendak melangkah.
"Tuan Ruiz, apa kau sedang membeliku untuk bisa bergabung?" Tatapan mata Sophia begitu dalam kepada Justin. Gadis itu terlihat sedikit kesal karena Justin terus memaksanya.
"Anggaplah seperti itu,' jawab Justin santai.
Sophia terkekeh, ia membalikan tubuh menghadap lawan bicaranya. "Ngomong-ngomong, bukankah kau datang bersama sekretarismu? Lalu untuk apa kau mengatakan hal-hal menggiurkan untuk merekrutku menjadi sekretarismu. Bukankah itu sedikit tidak sopan."
Justin sedikit terlihat menyeringai. "Aku menyuruhnya kembali karena dia akan sangat susah untuk beradaptasi dengan mu, kau terlalu jauh di atasnya hingga akan terlihat bodoh jika dia berdiri bersamamu."
Sophia sedikit terkejut karena Justi seperti mengagungkannya. Gadis itu tahu jelas jika Justin mengatakan itu mungkin hanya agar Sophia semakin tertarik karena posisi sekretarisnya benar-benar luman menguntungkan.
"Apa kau tahu alasanku menolak menjadi sekretarismu?" tanya Sophia di sela-sela tatapan Justin yang begitu dingin.
Justin menggeleng pelan dan itu membuat Sophia membuang napas perlahan. Seteleh itu ia lalu mulai menjelaskan kenapa sampai dia menolak.
"Louis Grup adalah tempat di mana aku belajar mengenal karakter orang. Di sini, bukan hanya sebagai tempat ku bekerja tetapi adalah rumahku. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di kantor untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Lagipupa, kau belum tahu bagaimana cara kerjaku, lalu bagaimana bisa kau langsung mengajakku bergabung. Jika kau ingin merekrutku, harusnya kau pastikan terlebih dahulu apakah aku akan setia padamu juga tidak akan membawa kerugian kepada perusahaanmu"
Setelah mengatakan itu Sophia keluar dari ruangan Elio yang Justin pakai untuk berbincang dengannya tadi. Sebenarnya Sophia sedikit kecewa karena dia berfikir Justin akan sangat prifesional dengan karakter yang ia miliki. Namun, melihat bagaimana pria itu merayunya sungguh sangat tidak elegan dan terlihat norak. Bagaimana bisa perusahaan sekelas Dio dela morte bisa merayu sekretaris hanya dalam satu kali pertemuan.
Ingin sekali dia berteriak dan mengatakan jika pemilik tunggalnya ada di depan matanya, sekali hentak Sophia bisa langsung mengambil alih perusahaan milik Ayahnya. Ia ingin menghilangkan kesombongan Justin yang tidak pernah lepas darinya. Namun, Sayangnya keadaan sedang tidak mendukungnya saat ini.
***
Maaf yah. Aku lagi kurang fit. Dan baru sadar kalau salah up ðŸ˜ðŸ˜. Aku upnya di judul yang lain