Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 7



Sophia! Sophia!" Elio mencoba menyadarkan Sophia yang terlihat bingung menatap Justin. "Apa yang terjadi Baby, katakan. Siapa yang melakukan ini. Sophia katakan!" teriak Elio karena Sophia seakan tidak menggubrisnya.


"Aku tidak tahu, seseorang tiba-tiba datang dan menikam Paman, saat aku berbalik pisau ini." Sophia mengangkat pisau dan menunjukkannya kepada Elio. Pisau ini sudah menikam Paman."


Justin menatap Sophia dengan begitu dingin. Ia sedikit melirik pada pisau yang di pegang oleh wanita itu. Tanpa menunggu lama, ia segera meminta bantuan dan membawa Ayahnya ke rumah sakit. Justin bahkan sama sekali tidak memperdulikan Sophia dan Elio, ia mengemudikan mobil Ayahnya meninggalkan taman hiburan.


Elio yang menyadari sikap dingin Justin segera mengajak Sophia untuk ikut dengannya. Setelah Memapah Sophia masuk ke dalam mobil, Elio mengeluarkan ponselnya dan mengabari Ayahnya. Ia menceritakan semua yang terjadi, Elio juga menitipkan pesan agar menyampaikan kecelakaan ini dengan pelan kepada kedua orang tua Sophia.


"Kita harus kembali untuk membersihkan dirimu Baby."


"Elio, kau percaya padaku bukan. Aku tidak melakukannya. Bukan Aku Elio, aku bersumpah."


"Baby ...." Elio memeluk erat tubuh saudaranya. "Tenanglah, kau bisa menceritakan semuanya ketika di rumah nanti. Tenangkan dirimu dan ceritakanlah dengan pelan."


"Aku takut." Mata Sophia terus berair dengan tangan yang gemetar. Ia menarap sisa darah yang ada di tangannya dengan gemetar.


"Apa yang kau takutkan, pisau ini akan membuktikan jika kau tidak bersalah. Tenanglah, aku akan bersamamu." Pisau yang ia pegangi tadi sudah Elio simpan sebagai barang bukti.


Sophia menggeleng pelan. "Bagaimana kalau Justin tidak percaya padak, bagaimana jika kedua otang tuaku tidak mempercayaiku. Aku takut mereka menyalahkanku Elio aku takut." Kedua tangan Sophia menjambak rambutnya keras, gadis itu meringkuk di balik kursi dengan gemetar.


"No! Sophia, jangan seperti ini. Itu hanya kecemasan sesaatmu saja. Semua akan baik-baik saja." Elio memberi tatapan meyakinkan agar Sophia bisa tenang. Meski sebenarnya dia pun takut jika kemungkinan semua itu benar.


"Tenanglah," peluk Elio erat. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyalahkan Sophia atas kejadian ini. Ini hanya kecelakaan, dan Sophia juga salah satu korban dari kecelakaan itu.


Elio membawa kembali Sophia pulang ke Mansion. Wajah adik kesayangannya itu seperti mayat, pucat dan sangat dingin.


"Apa yang terjadi, kenapa kau bisa ada di taman hiburan?" Nada bicara bicara Malvin meninggi saat Elio dan Sophia keluar dari dalam mobil.


Namun setelah tahu putrinya terlibat kecelakaan yang mengakibatkan sahabatnya mengalami keadaan kritis Malvin benar-benar sangat marah hingga lupa jika di depannya adalah putri semata wayangnya.


"Daddy aku ...."


"Bukankah kau baru saja berada di kamar setelah makan, kenapa tiba-tiba ada kejadian seperti ini, kau bahkan keluar tanpa memberitahu Daddy dan tidak membiarkan Agrio menemanimu."


"Aku..."


"Kesalahanmu sangat besar Sophia. Daddy tidak tahu harus bagaimana sekarang."


"Aku minta maaf Daddy, tapi sebelumnya aku sudah meminta ijin kepada Mommy jika akan keluar dengan Elio dan Justin ke taman hiburan. Aku membiarkan Agrio kembali karena kami memang berencana memakai mobil Elio," ujar Sophia dengan tangisan.


"Lalu kenapa kau bersama dengan paman Demetrio, tidak dengan Elio dan Justin. Dan kenapa sampai ada kejadian penikaman itu! Apa kau tahu seberapa berharganya Pamanmu itu bagiku, dia setengah dari nyawaku Sophia. Dia sama seperti ka dan ibumu. Dan lihat, keadaannya sedang kritis karena perbuatanmu!"


"Daddy, aku tahu siapa Paman Demetrio bagimu, tapi aku benar-benar tidak melakukan apapun. Aku bahkan tidak tahu jika ada orang yang mengikuti ku." Suara Emily bergetar karena terlalu takut dengan teriakan Malvin padanya. Seumur hidup, baru kali ini Ayahnya berbicara dengan nada tinggi dan kasar kepadanya.


"Lalu apa kau bisa memberi kesaksian jika orang lain itu ada?"


"Tentu saja, banyak orang yang melihat kejadian itu, polisi bisa bertanya kepada para pengunjung yang masuk bersamaku tadi. Bukankah Cctv di sana ada, mereka bisa melihat siapa pria asing yang mengikutiku."


"Bagaimana kau bisa menjelaskan jika hanya sidik jarimu yang ada di pisau itu, tidak ada sidik jari orang lain di sana atau pria asing yang kau maksud itu Sophia."


Sophia menggelang dengan raut wajah panik. Langkah gadis itu seketika mundur dengan gerakan limbung. "Tidak mungkin, aku bahkan melihat jelas jika pria itu menikam Paman, sidik jariku tertinggal karena aku mencabut pisaunya. Bukan aku, bukan aku yang menikam paman."


"Dan seharusnya kau tidak mencabut pisau itu," teriak Malvin.