
"Nona Sophia?"
"Iya"
"Tuan Justin mencarimu Nona Sophia."
"Mencariku?"
"Ya, katanya anda di suruh untuk menggunakan ponsel sesuai dengan kegunaannya," ujar seorang pria paruh baya yang bertugas menjaga keamanan lantai paling atas yaitu lantai lima, di mana ruangan Justin berada.
"What? Apa kau serius?" Sophia bertanya dengan kening berkerut.
"Aku hanya menyampaikan apa hang Tuan Justin suru Nona. Maafkan aku."
"Dasar Pria gila. Dia pikir dia siapa mengaturku dan juga ponselku."
"Maaf, tapi anda di tunggu di ruangan Tuan Justin sekarang. Jadi lebih baik anda bergegaslah."
"Oh.. Baiklah. Terimah kasih pak."
"Sama-sama Nona Sopia."
Sophia menarik nasap dan membuangnyabdengan kasar kasar. "Dasar sialan!" umpatnya dengan pelan.
Itu karena baru saja berpisah dengan pamannya, sekarang Sophia harus segerah bergegas kembali ke ruangannya karena Justin memanggil. Wanita itu sengaja mematikan panggilan pria gila itu karena ingin menghindar dari pertanyaan konyol yang terus berulang ia tanyakan lewat chat pribadi.
"Kau mengumpatku?"
"Jadi, ini caramu bekerja Nona Sopia Alexander? Kau bahkan mengabaikan panggilan atasanmu," ucap Justin sambil berasandar pada tembok tempat di samping pintu lift.
"Maaf, tapi aku sedang bersama Paman Zigo, ku pikir akan menghubungimu kembali setelah selesai berbincang dengan Paman." Sophia berbohong, mencari alasan agar tidak di marahi oleh pria yang memiliki tato elang di lengannya itu.
"Jangan mentang-mentang kau mempunyai hubungan dekat dengan direktur kemudian adalah pacar sang pewaris lalu suka-suka kau dalam bekerja."
Sophia menyipitkan matanya. "Jaga bicaramu Tuan Justin Ruiz. Jangan sampai kau menyesal dengan kata-katamu barusan," ujarnya dengan tatapan marah. "Lagi pula, siapa yang menjadi kekasih pewaris."
Justin tersenyum manis. "Aku? Untuk apa?" ujarnya di ikuti tawa kecil.
Sophia dengan santai menanggapi ocehan atasannya itu. Tanpa basa basi lagi, ia berjalan lalu menekan tombol. Setelah lift terbuka ia langsung masuk tanpa memperdulikan Justin.
"Hei, kau pergi?"
"Tidak asa waktu mendengar ocehan mu Tuan Justin. Lebih baik aku kembali dan melanjutkan pekerjaanku."
Lift tertutup dengan Sophia yang berada di dalamnya sambil tersenyum kepada Justin. Sedangkan Justin, ia hanya berdiri diam sambil menatap Sophia dengan tatapan lurus. Dalam hati ia berkata, baru kali ini ada seorang perempuan yang berani mempermainkan dirinya.
"Sophia Alexander. Sebenarnya siapa dirimu? Kenapa wajahmu terus berputar-putar di kepalaku."
Justin melonggarkan ikatan dasinya. Ia sejenak menarik napas, lalu menutup matanya sebantar, memaksa otaknya untuk kembali mengingat kenangan-kenangan tentang Sophia yang mungkin hilang atau ia lupakan. "Sophia..." Justin menjedah ucapannya. "Argh!" Justin mengumpat keras. "Kenapa sangat susah mengingatnya. Apa yang sudah aku lewatkan tentang wanita itu. Tidak mungkin dia tidak ada hubungannya denganku, aku sangat yakin jika pernah menganalnya. Tapi kenapa tidak ada yang bisa aku ingat."
Pria itu selesai dengan pikirannya. Justin menegok kiri dan kana memastikan jika tidak ada yang melihatnya. Lift yang sering ia gunakan memamg adalah jalur khusus yang tidak bisa di lewati oleh pegawai lain. Hanya dia seorang dan sering di gunakan Sophia jika keadaan mendesak.
"Huff..." Justin membuang napas legah, ia kembali merapikan dasi dan jasnya. Lalu melangkah maju menalan tombol untuk masuk ke dalam lift.