
"Sophia."
"Hmm." Gadis itu tidak menjawab, hanya bergumam pelan. Ia memang selalu seperti itu jika sedang fokus di depan laptop.
"Sophia..." Suara Justin terdengar lemah, namun ada nada kesal karena sedari tadi panggilanya di abaikan Sophia.
Sophia yang ikut kesal karena terus di ganggu langsung menjawab. "Stop meneriaki namaku Elio, aku sedang be--" Sophia menjedah kalimatnya saat dagunya di pegang oleh Justin.
"Astaga!" Gadis itu memekik kaget karena di depannya ternyata bukan Elio melainkan Justin. "Maafkan aku, ku pikir tadi Elio."
"Kenapa kau selalu mengingat pria itu. Apa karena kau sedang kasmaran jadi kau menganggap semua orang yang memanggil mu itu adalah kekasih mu Elio."
Sophia memutar kedua bola matanya dengan ekspresi malas. "Ayolah Tuan Justin. Sudah lu katakan jika aku dan Elio hanyalah sebatas kakak dan adik. Tidak lebih dan tidak akan pernah lebih dari hubungan itu," ujar Sophia dengan tegas.
Ketegasan Sophia membuat Justin langsung terdiam dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Bahkan ekspresi Sophia saat mengatakan itu membuatnya sedikit takut. Sepertinya, Sophia benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan Elio. Seperti yang wanita itu katakan, hanya sebatas kakak dan adik.
"Maaf."
"Aku... Aku juga akan melanjutkan pekerjaanku." Justin cukup canggung hingga terbata. Ia kemudian bergegas masuk ke ruangannya dan menutup pintu dengan rapat.
"Dasar pria aneh. Seharusnya kau tidak hilang ingatan agar aku juga tidak bekerja sekeras ini untuk membuatmu kembali. Lebih baik kita terus bertengkar di banding harus di lupakan seperti ini," seru Sophia dengan senyum sedih di wajahnya.
Sophia lalu mulai kembali mengenang masa-masa bahagianya bersama Justin dulu. Pemilik tato elang itu begitu baik, lembut dan juga sangat perhatian. Karena sifatnya itu yang membuat Sophia jatuh cinta padanya. Meski sebenarnya ia tahu mustahil untuk Justin menerima cintanya karena pria itu hanya menganggap Sophia sebagai adiknya, sama seperti Elio padanya.
"Kenapa kau harus melupakan aku? Apa sebegitu bencinya kau padaku hingga kau lupakan seluruh kenangan-kenangan indah kita," ujar Sophia saat teringat kembali perkataan Justin. Pria itu berteriak kencang di depan semua orang jika dia sangat membenci Sophia karena kejadian itu. Dan sejak saat Itu mereka tidak lagi pernah bertemu. Tanpa terasa air mata Sophia menetes pada pipi mulusnya. Dia sangat ketakutan akan satu hal. Yaitu jika Justin benar-benar melupakannya.
"Oh Tuhan! Sampai kapan aku harus terus seperti ini. Apa aku sanggup jika melihat Justin bahagia dengan wanita lain?" ujar Sophia dengan lirih.
Sedangkan iti di ruangan Justin. Pria itu terus saja mondar-mandir tidak jelas. Ia seperti orang kesurupan karena penampilannya yang sudah berantakan. Dia tidak lagi fokus bekerja. Di kepalanya saat ini hanya ada Sophia, Sophia dan Sophia.
"Arrgg! Ada apa denganku?" Justin menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan pelan. "Cukup! Ini sudah cukup. Perasaan aneh ini harus aku singkirkan, karena jila tidak, pekerjaanku akan hancur." Justin menyapu kasar wajahnya. "Wanita itu membuatku hampir gila. Ya dia, Sophia alexander. Kau harus bertanggung jawab atas kegalauan hatiku."