Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 34



"Apa yang kau lakukan di sini?"


Sophia menarik Elio untuk pergi setelah Justin masuk ke ruangannya. Pria itu membuat Sophia benar-benar malu di depan Justin. Apalagi melihat wajah pria bertato elang itu yang kaget tadi membuat Sophia semakin merasa tidak enak.


"Baby, pelan-pelan aku hampir terjatuh," rengek Elio karena Sophia yang terus menariknya dengan kasar.


"Hentikan rengekkanmu itu, Elio! Ini karena kau yang tidak memiliki kekasih, jadi terus menerus mengganggu orang lain," cerca Sophia dengan wajah kesalnya.


"Aduh! " Elio menjerit saat wanita yang ia anggap adiknya itu menghepaskan-nya dengan kasar, memaksa dia masuk ke dalam lift. "Baby, aku masih ingin di sini. Jangan mengusirku."


"Mulai besok kau di larang naik ke lantai ini."


"What?" Satu alis Elio terangkat. "Dia melarangku naik ke sini. Lalu aku harus bekerja di mana?" gumamnya pelan nyaris tidak terdengar oleh Sophia.


"Itu bukan urusanku."


Elio tertawa terbahak karena ternyata kuping Sophka cukup tajak. "Bagaimana aku harus bekerja, ru..."


"Jangan berani-berani keluar dari situ atau aku tidak akan bicara lagi padamu." Sophia menahan langkah Elio agar tidak keluar dari dalam lift.


"Oke baiklah, tuan putri. Tapi aku harus ke ruanganku."


Sophia memiringkan kepalanya dengan alis yang di tekuk, gadis itu lalu berfikir sejenak. Saat menyadarinya ia langsung memutar kedua bola matanya malas. Entah siapa yang bodoh di sini. Seharusnya dia tidak melarang Elio untuk naik ke lantai ini, bukankah ruangan Elio juga berada di sini. Di lantai lima dimana Sophia bekerja adalah lantai khusus yang hanya boleh di tempati oleh seorang presiden direktur perusahaan.


Dulu lantai ini di gunakan oleh ayahnya Malvin. Namun, setelah paman Demetrio meninggal dan paman Zigo mengambil alih, ruangan pada lantai lima ini di rubah total. yang tadinya hanya ada 1 ruangaan besar, kini sudah di rubah menjadi 2 ruangan. Satu adalah ruangan paman Zigo dan satu lagi adalah ruangan Elio. Posisi pemilik ruangan baru di ubah kembali saat Justin bergabung. Jadi hanya ada ruangan Jusyin dan Elio, sedangkan paman Zigo menempati lantai kedua.


"Apa aku sudah boleh ke ruanganku?" tanya Elio pada gadis yang berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya dengan tatapan yang tajam ke arahnya.


"Ku mohon pergilah!"


"Tapi Baby, aku belum puas mengerjainya. Maksudku, ada yang harus aku ambil di ruanganku," ujar Elio dengan menampilkan ekspresi tidak bersalah.


Plak


Sophia memukul wajah Elio dengan sangat gemas.


"Baby?"


"Bagimana? Apa kau sudah sadar?"


"Apa maksudmu?" gumam Elio sambil memegang pipi yang di tampar Sophia.


"Aku hanya ingin membantumu Baby."


"Tidak perlu lagi."


"Kenapa?"


"Karena kau malah mengacau, Elio," jawab Sophia masih dengan nada kesal. Ia menyesal sudah menyetujui saran saudaranya itu untuk menekan Justin agar ingatannya cepat pulih. Bukannya cepat kembali, dia akan membuat pria itu semakin tertekan dengan tingkah gilanya hang semakin hari semakin menjadi.


"Tapi jika aku tidak muncul tepat waktu, Justin pasti sudah menciummu?"


Sophia menatap pria itu lalu dengan cepat memukul kepalanya keras. "Apanya yang mencium, dia hanya sedang menatapku tadi," ujar Sophia dengan nada yang tinggi.


"Menatap dan setelah itu mencium."


Kini Sophia menatap tajam ke arah Elio. "Dasar pria mesum!"


"Kau tidak percaya?"


"Tentu saja, Justin bukan pria seperti itu. Dia bukan kau yang menggumbar ciuman mu untuk semua wanita."


"Sophia, ingatlah. Justin sudah punya kekasih. Dia adalah dokter pribadinya dan ku dengar dia akan berkunjung ke Verona untuk menemui Justin. Jika kau ingin Justin segera ingat, maka biarkan kegilaanku bermain dengannya," ujarnya dengan wajah serius. Kali Elio ingin Sophia melihatnya keseriusannya dalam menjalani misi yang sudah d sepakati keduanya.


Namun, bukan mnyadari keseriusan Elio, Sophia tiba-tiba terdiam. Ia mengingat-ngingat lagi ucapan Elio saat pertama kali Justin kembali ke Verona. Benar, dia sudah memiliki kekasih? Lalu kenapa beberap hari ini pria itu sibuk menggodanya bukan malah menghubungi kekasihnya itu.


Elio yang menyadari ekspresi kecewa sang adik langsung bertanya. "Kau baik-baik saja Baby?"


"Yah."


"Kau yakin?"


Tiba-tiba Sophia menundukkan kepalanya. Elio yang sedari tadi berada di dalam lift langsung melangkah keluar merangkul Sophia yang terlihat sedih.


"Baby, ada apa? Apa kata-kataku tadi membuatmu sedih?"


...****************...


Maaf tapi sepertinya saya akan memindahkan cerita ini ke sebelah 🥲🥺