Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 11



"Kau takut?"


"Tentu saja, bagaimana kalau aku benar-benar di masukan ke penjara. Berita akan tersebar di mana-mana. Gadis cantik putri dari seorang Mafia menusuk pamannya sendiri." Sophia menutup kedua telinganya. "Aaaah. Itu mengerikan."


Elio tertawa geli. "Berhenti menghayal tuan putri, tidak akan ada hal semacam itu. Tidurlah. Besok akan ada hari baru untukmu."


"Hari baru di penjara maksudmu."


Elio membuang napas kasar. "Bukan Sophia, itu hanya perumpaan jika besok akan baik-baik saja."


Elio terlihat sedikit kesal, memberi pengertian kepada wanita kerasa kepala seperti Sophia seakan sedang menabur garam di lautan.


"Tidurlah, aku sudah sangat mengantuk." Elio menarik selimut dan menutup tubuhnya dan Sophia. Lengannya melingkar di pinggang miliki saudaranya tanpa canggung.


"Bagaimana bisa kita tidur Elio, Paman Demetrio sedang kritis dan Justin malah melaporkanku sebagai tersangka, apa itu akan baik." Sophia berteriak hingga pelukan itu terenggang, terlihat pendar di sudut mata gadis itu.


"Tenanglah Sophia, Justin tidak mungkin melaporkanmu. Mungkin saja dia hanya melaporkan tentang kecelakaan itu. Lagi pula Ayahku dan Ayahmu akan mengurusnya. Kau bukan pelakunya bukan, lalu untuk apa kau cemas."


"Entahlah Elio, yang aku takutkan bukan karena aku akan masuk penjara. Tetapi, tentang perasaan Justin padaku, dia pasti menganggap aku adalah orang yang jahat. Dia pasti sudah salah paham karena kejadian ini." Sophia menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal dan menangis di sana. Dia benar-benar pasrah jika akhirnya dia akan di benci oleh semua orang.


"Jika dia benar-benar memenjarakanmu, maka seumur hidupku aku akan membencinya."


"Berhenti mengatakan hal semacam itu Elio, kita adalah saudara. Aku memang menyukai Justin, dan keadaan sekarang lagi tidak baik. Tapi bukan berarti kita harus saling membenci, lebih baik kita berdoa agar Paman Demetrio segera sadar agar semua ini secepatnya selesai. Aku sangat takut jika Daddy membenciku karena membuat Paman terluka parah. Dia meneriaku, dan itu pertama kalinya aku melihatnya semarah itu padaku."


"Itu hanya amarah sesaat Sophia, Paman Malvin juga pasti sangat khawatir dengan keadaan Paman Demetrio. Dia adalah Ayahmu, mana mungkin dia marah dan membencimu."


"Kau tidak tahu bagaimana Ayahku dia bisa membunuh hanya dengan tatapan. Bahkan Ibuku tidak berkutik jika dia sudah menatap dengan tajam. Kami adalah keluarga Mafia, dan Ayahku adalah pimpinan Dio dela morte, mustahil jika dia akan lembut padaku. Aku bahkan pernah mendengar jika dia membunuh kekasihnya karena menyakiti ibuku."


"Dia ayahmu, sejahat-jahatnya serigala. Dia tidak akan memakan anaknya sendiri." Elio menekan tubuh Sophia agar terbaring, pria yang memiliki umur yang sama dengan Sophia itu menyelimuti saudara perempuannya hingga sebatas dada.


"Tidurlah."


"Terima kasih Elio, aku mencintaimu setelah ayahku." Gadis itu kemudian ikut terlelap, melupakan sejenak kegelisahannya dan menuju ke alam mimpi.


Beberapa menit setelahnya Malvin dan dan Andrea tiba di Mansion. Dengan raut wajah khawatir Andrea bergegas menuju kamar untuk melihat keadaan Sophia. Begitu terkejutnya saat ia membuka pintu dan melihat sepasang saudara itu sedang terlelap dengan keadaan saling berpelukan.


Andrea membuang napas legah. Sepanjang perjalanan dia berfikir jika putri kesayangannya sedang terpuruk dan menangis sepanjang malam.


"Syukurlah! Elio ternyata bisa menenangkannya." Andrea keluar dari kamar Sophia, ia menutup pintu dengan sangat pelan agar tidak mengganggu kedua anaknya yang sedang terlelap.


"Apa mereka tidur?" tanya Malvin saat melihat Andrea yang dengan cepat sudah keluar dari kamar Sophia.


"Si," jawab Andrea melebur di dalam pelukan suaminya. "Elio menjaganya dengan baik."


"Syukurlah," jawab Malvin dengan nada legah.


"Apa kita harus mengatakan tentang Justin yang membatalkan tuntutannya?" Malvin menaikkan pandangan menatap istrinya.


"Biarkan saja Sayang. Sophia harus belajar dari kesalahannya. Maka dari itu biarkan dia merasa bersalah dan merenunginya agar tidak ada lagi kejadian yang sama."


"Kau terlalu keras padanya Sayang."


"Dia harus menjadi wanita kuat, jangan biarkan dia terlena dengan kasi sayang. Dia akan menjadi pembangkang jika terus mentolerir dan memperbaiki kesalahannya terus menerus seperti ini."


"Istriku, sudah semakin pintar. Kau lebih mirip seorang Mafia di banding diriku."


"Bukankah aku adalah Dewi kematian Dio dela Morte?"


Malvin dan Andrea saling melempar tawa, kejadian ini membuat rasa cinta dan pengertian antara mereka saling kuat. Andrea dan Malvin harus menjadi orang tua yang tegas, agar Sophia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.


Jalanan kehidupan akan semakin berliku. Andrea berharap, putrinya tidak memiliki jalan hidup yang sama saat mengejar cintanya. Dia ingin Sophia tumbuh dalam kasih sayang bukan dengan penderitaan sama sepertinya dulu.