Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 22



Sophia alexander, wanita yang usianya leboh muda 1 tahun di bawa Justin itu terlihat menahan kesalnya. Ia berdiam diri di meja kerjanya pura-pura sibuk dengan laptopnya setelah selesai menghadiri rapat pemegang saham dengan beberapa petinggi perusahaan. Dan salah satu pemegang saham tertinggi adalah pamannya sediri yaitu Paman Louis Zigo, ayah dari Elio.


Cukup mengejutkan pamannya bisa hadir di rapat tadi, karena biasanya Elio yang selalu menggantikan posisi beliau. Malah tadi adalah kebalikkannya. Pria nakal itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Setelah menyerahkan proyek itu kepada Justin, Elio seakan di telan bumi. Ia tak lagi muncul di kantor dan sudah jarang menemui Sophia. Entah skenario besar yang sedang ia mainkan.


"Nona Sophia?"


Sophia tercegat dari lamunannya dan berdiri menyapa pimpinannya. "Yah, Tuan Justin?" ujar Sophia dengan ekspresi sedikit kecut. Mengingat ia baru saja di kerjai olehnya.


"Bisakah kau membantuku memesan makan siang?"


"Tentu saja. Katakan apa yang ingin kau pesan untuk menu makan siangmu," ujar Sophia dengan begitu sopan.


Tanpa basa-basi Justin mengeluarkan selembar kertas di mana di atasnya sudah tercetak peta kecil kota Verona. Di atas peta kota Verona, Justin hanya mencetak tebal nama dari berbagai toko makanan dan juga restoran berbintang agar mudah di cari lokasinya.


"Apa ini?" tanya Emily kebingungan.


"Ini adalah peta berbagai toko dan restaurant mahal di kota Verona, Nona Sophia."


"Owh! Benarkah?" Emily sedikit lebih fokus melihat ke arah peta yang Justin berikan. "Luar biasa. Bagaimana bisa kau menandai semuanya dengan benar."


Di dalam hati pria itu tertawa geli. "Tentu saja, aku harus belajar menandai di mana teman makan faforitku."


Sophia mengangguk yakin. "Baiklah, mari kita lihat apa yang ingin anda pesan," ungkapnya.


"Aku ingin makan beberapa kombinasi makanan. Seperti steak di sini dan Ayam barbekeu di sini dan sepertinya untuk hidangan pencuci mulut di tempat ini terlihat enak," ujarnya menunjuk beberapa titik pada peta itu.


"Tentu saja."


"Tapi toko-toko yang anda maksud memiliki lokasi yang berbeda-beda dengan jarak yang cukup jauh."


"Apa ada masalah?"


"Tidak masalah, tapi..."


Justin melotot ke arah Sophia. "Tapi...?"


Sophia menarik sebelah ujung bibirnya. "Tapi... Aku tidak punya uang," ujarnya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih. Hampir sajania ingin mengatakan jika ia tidak mau bolal balik dari satu toko ke toko lain. Itu akan sangat melelahkan.


"Sorry." Justin meminta maaf, ia merogoh saku celnanya, mengambil dompet membuka lalu memberika kartu atmnya untuk Sophia. "Gunakan ini saja. Kau juga bisa menggunakan kartu itu untuk membeli beberapa makanan sesuai dengan selerahmu."


Setelah Sophia menerima itu. Justin langsung berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruangnnya. Dengan wajah sumringah ia menutup pelan pintu ruangan. Akhirnya, ia bisa membalaskan dendamnya soal kemeja tadi pagi di apartemen. Pria dengan setelan jas berwarna navi gelap itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai Sophia.


"Kau sangat lucu," kelakar Justin. Dia bisa melihat wajah shock Sophia saat melihat peta yang ia sematkan tadi.


Sedangkan Sophia, ia berdiri denga ekspresi kesal menahan amrahnya. "Aargh... Bisa kering kulit tanganku jika terpapar sinar matahari di jam begini." Sophia bersungut di sepanjang perjalnan. Bagaimana bisa Justin menyuruhnya melakukan hal konyol ini.


...----------------...


Beberapa text aku edit karena baru ngeh ternyata berulang 🥲🙏