
Elio menaikkan satu alisnya. "Ada apa dengan wajah mu?"
Sophi tidak menjawab, ia sedang tidak fokus sekarang. Pikirannya sedang melayang ke tempat di mana Justin dan kekasihnya itu berada. "Entah sedang apa mereka, apa mereka sedang bermesraan? Apa Justin sudah sadar atau masih tertidur. Oh god!" Sophia bergumam sendiri di dalam hati dengan cemas. Ia seperti sangat tidak ikhlas jika Justin dan kekasihnya itu melakukan sesuatu.
Elio yang sedari tadi mengajak saudara perempuannya itu bicara merasa kesal karena tidak di tanggapi. Ia berdiri dan dengan cepat memencet hidung Sophia hingga gadis itu menjerit keras.
"Aaaakh... Elio!"
"Ada apa dengan mu, kau mengajak ku ke bar dan duduk termenung sendiri dengan menekuk wajah mu seperti itu. Apa aku harus meminta Dj mengganti lagunya dengan lagu galau agar kau lebih mendalami perasaanmu?"
"Dasar cerewet. Berhenti mengganggu ku, aku sedang patah hati." Wajah Sophia menjadi sangat kesal. "Ternyata begini rasanya jika mencintai seseorang lalu orang itu melupakan mu dan memilih mencintai orang lain."
Gadis itu dengan tidak sadar menarik botol berisikan vodca yang ada di tangan Elio dan mengesap minuman itu dengan cepat.
"Oh God Sophia, itu minuman beralkohol apa yang kau lakukan." Elio merampas botol itu dari mulut Sophi. Sayangnya, gadis kecilnya itu sudah meneguk banyak minumannya.
"Ogh... Minuman apa ini. Kenapa rasanya aneh dan panas."
"Itu karena kau tidak biasa minum."
"Kalau begitu aku akan memperbiasakannya mulai malam ini." Sophia mengambil gelas dan memberikannya kepada bartender. "Berikan aku minumam yang lebih enak. Jangan seperti punya Elio, itu tidak enak."
"No Baby." Elio merampas gelas itu dari Sophia. "Dasar bodoh! Kenapa kau ingin meminumnya lagi."
Elio mengerutkan dahi, sepertinya Sophia mulai di pengaruhi oleh alkohol. Vodca tadi sudah membuat adik perempuannya itu mabuk hingga berbicara yang tidak-tidak.
"Ayo kita pulang. Kau tidak boleh mabuk. Paman dan Ayahku akan membunuh ku jika tahu kau mabuk-mabukan di sini."
"No!" Sophia meronta tidak ingin pergi. "Lepaskan, kau menyakiti ku." Gadis bermanik hitam itu mendorong keras tubuh Elio agar menjauh darinya. "Aku tidak cemburu. Benar, aku tidak cemburu padanya." gadis itu lalu menyeringai. "Harusnya hanya aku yang ada di hatinya bukan? Kenapa dia harus mengajak orang lain untuk masuk jika tahu aku sudah di dalam."
"Baby, Kau kenapa? Apa sesuatu terjadi tadi? Apa tadi Justin mengatakan sesuatu yang menyakiti mu? katakan."
"Ssssttt." Sophia menempelkan jari telunjuknya pada bibir Elio. "Kau berisik sekali."
Gadis itu semakin kehilangan kesadaran. karena tidak biasa minum-minuman keras, Vodka tadi langsung membuat ia mabuk.
"Ayo pulang."
"Tidak mau." Sophia menolak dengan menggelangkan kepalanya. Matanya mulai berkabut tapi mulutnya tiada henti mengucapkan kalimat-kalimat aneh. "Aku sudah melupakannya, tetapi tiba-tiba dia datang, membuatku jatuh cinta lagi. Oh tidak, bukan hanya alu hang jatuh cinta tapi dia juga." Sophia tertawa, tangan kecilnya menangkup wajah Elio dan mencium pipinya dengan paksa.
"Sophia kau sudah tidak waras. Kenapa kau mencium ku."
Sophia memajukan bibirnya. "Kau tanya kenapa?" gadis itu sempoyongan saat ingin menjawab. "Kau milik ku, hanya milik ku! Kau tahu kan. Aku menyukaimu sejak dulu Justin. Tapi kenapa kau malah melupakan aku dan memilih wanita lain."
Kening Elio mengeryit. "Jadi ini karena Justin?" Elio berdecak dengan wajah kesal. "Jaga Sophia. Aku akan segera kembali."