
"Ada apa? Kau baik-baik saja?"
Elio, datang dengan suara terengah-engah menghampiri Sophia lalu memeluk wanita yang tengah menangis itu dengan erat. "Katakan Ada apa, kenapa kau menangis Baby. Kau membuatku hampir menabrak orang karena buru-buru datang ke sini."
Sophia menjauhkan tubuhnya melepas pelukan Elio. "Dasar bodoh! Memangnya siapa yang menyuruhmu datang dengan terburu-buru seperti ini," ujarnya dengan nada terisak.
"Kau masih bisa bertanya padaku? Tentu saja karena kau tuan putri. Kau yang sudah membuatku panik hingga mengemudikan mobil seperti sedang di kejar Zombie."
"Aku?"
"Yah Siapa lagi, hanya kau satu-satunya wanita yang suka membuat ku sport jantung dan berlari seperti orang gila. Berhenti melakukan itu atau kau akan mendapatiku terbaring dengan luka-luka di rumah sakit."
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?"
Elio menaikkan kedua tangannya di depan Sophia seperti ingin menyakarnya tapi tidak bisa. Ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghebuskannya dengan pelan. "Apa dosaku hingga memiliki adik sepolos dan sebodoh dirimu ini."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus kabur ke tempat lain?"
Elio menatap lekat wajah Sophia "Untuk apa?"
"Justin menyuruhku datang ke kantor sekarang Elio. Aku bahkan masih merasa tegang saat bertemu dengannya kemarin," ujar Sophia dengan wajah serius dan khawatir.
"Berhenti menghindar Sophia. Kau harus bisa menaklukan rasa trauma mu itu."
Elio memang sengaja melakukan ini agar Sophia bisa lebih berani menghadapi Justin. Namun, sepertinya ini akan sedikit merepotkan gadis polosnya ini. Ia malah ingin kabur dan menghindar lagi, maka dari itu ia harus terus memberi kata-kata manis pada Sophia agar gadis itu mau melakukan apa yang dia rencanakan. Jika ini berhasil, mungkin saja Justin akan mengingat Sophia lagi. Dan adiknya itu bisa menjalani hidup dengan tenang tanpa mengingat kejadian itu. Mungkin jika Justin tidak bisa mencintainua setidaknya dia bisa memaafkan Sophia.
Elio tersenyum sambil mengelus lembut kepala Sophia. Ia selalu melakukan itu untuk menenangkan adik kecilnya itu.
"Tapi ngomong-ngomong, apa kau serius dengan hadia dari Ayahku?"
"Yah, untuk itu aku di sini."
"Kau selalu menolak pemberian paman Malvin tapi kau tidak menolak pemberian ayahku. Kenapa? Sebenci itu kah kau pada ayahmu?"
"No! Bukan karena itu."
"Lalu apa?" Alis Elio sedikit naik karena rasa penasarannya.
"Karena ini aku dapatkan dari hasil kerja kerasku, bukan karena meminta. Lagi pula Apartemenku sangat kecil, aku iri setiap kali datang ke apartemenmu. Sangat mewah dan besar."
"Kau bisa tinggal denganku jika kau mau."
"Kau ingin tiap hari aku melihatmu bertelanjang dada sambil begeliat di atas ranjang dengan wanita-wanita gila itu. Siapa yang terakhir kau ajak itu." Sophia tampak berfikir mengingat-ingat kejadian malam kamarin. "Ah... Sally. Oh God! Itu mengerikan. Bisa-bisanya dia mengira aku adalah kekasihmu dan melabrakku. "
Elio tertawa kerasa, sungguh ia tidak menyangka jika Sophia bisa mengingat kejadian itu. Dia bahkan tidak peduli dengan wanita-wanita yang ia tiduri setiap malam. Bahkan nama-nama mereka saja ia tidak tahu.
"Hentikan Itu memalukan."
Elio dan Sophia saling mengejek tanpa peduli dengan orang-orang yang lalu lalang melihat mereka. Keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang saling menggoda, sangat terlihat lucu dan manis. Begitulah Elio dan Sophia, saling melengkapi. Elio menyayangi Sophia seperti adik kadungnya sendiri, dan Sophia menghormati Elio seperti kaka kandungnya sendiri.