Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 12



Setelah merelakan Sophia untuk tidak masuk penjara, Marisa dan Justin membawa Demetrio kembali ke Prancis. Malvin mencari dokter terbaik di sana untuk menyembuhkan Demetrio. Kondisi sahabatnya memang sudah sedikit membaik, akan tetapi Demetrio belum sadarkan diri membuat Malvin sangat khawatir dan menyarankan untuk kembali ke Prancis. Lagi pula, Justin sangat membenci Sophia, lebih baik mereka berpisah untuk sementara waktu. Mungkin dengan membaiknya Demetrio, dan terungkapnya akar dari salah paham ini, Justin bisa sedikit melunakan hatinya untuk memafkan Sophia.


Begitupun dengan Sophia, rasa bersalah karena demi menyelamatkannya, paman Demetrio harus mengalami ciderah parah dan koma untuk sementara waktu. Ayahnya juga tidak memberitahunya jika Justin dan orang tuanya sudah kembali ke Prancis. Karena hal itu, dia mengurung diri selama beberapa hari dan tidak ingin bicara dengan Ayahnya. Sophia kesal karena ayahnya tidak memberi kesempatan untuknya merawat Paman Demetrio ataupun meminta maaf kepada Justin dan bibi Marisa.


"Sophia! Daddy melakukan ini demi kebaikan kita semua, jangan terlalu keras kepala dan terus melawan. Apa kau tidak sadar jika kau sudah membuat semua orang merasa cemas."


"Jika Daddy merasa aku membuat kesalahan, seharusnya kalian membiarkan aku ke Prancis untuk bertemu dengan Justin, aku hanya akan meminta maaf padanya Daddy bukan untuk membuat masalah," rengek Sophia. Wajah manis itu terlihat begitu muram karena menahan kesal.


"Sudah Daddy katakan, berhenti memikirkan untuk meminta maaf kepada Justin. Kau membuat Ayahnya terluka, mana mungkin dia memafkanmu secepat yang kau inginkan."


"Kenapa ayah mengatakan seperti itu, apa aku adalah seorang pendosa yang tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari Justin? Bahkan aku sama sekali tidak melukai ayahnya. Seharusnya dia berfikir sebelum menuduhku."


"Ya ampun Sophia, sampai kapan kau akan terus keras kepala seperti ini." Elio mencoba memberi nasihat kepada adik perempuannya. "Dengar, kau dan Justin, aku tahu mungkin rasa di atara kalian tidak bisa di hentikan. Tetapi Justin sudah mengatakan jika dia ingin memutuskan segala hubungannya denganmu, dia mengatakan itu sebelum pergi. Itu artinya dia benar-benar tidak ingin bertemu denganmu."


"Apa?"Sophia beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri tepat di depan Elio. "Kau tidak bercanda bukan, Justin tidak mungkin mengatakan itu."


Malvin dan Andrea saling menatap. "Urus dia, aku harus bertemu dengen Zigo. Dia sedang menungguku di ruang kerja." Malvin mengalah, ia merasa tidak mampu menjelaskan semua itu kepada anaknya yang sangat keras kepala itu.


Sophia menganngguk dan mengerti akan penjelasan ibunya. "Apa Daddy dan Paman Zigo sudah menemukan pria yang melakukan penikaman itu?"


Andrea menggeleng untuk putrinya. "Belum Sayang. Untuk itu kau juga harus memahami keadaan. Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Justin butuh waktu untuk memahami semua ini, dia akan mengerti saat semua sudah terungkap."


Sophia menatap dengan mata berkilau. Air matanya hampir jatuh "Mom ... Apa ketika semua sudah jelas, aku dan Justin bisa kembali seperti dulu lagi?"


"Mungkin saja, bukankah salah paham ini hanya karena dia mengira kau mencelakai Ayahnya." Andrea memgelus lembut kepala putrinya. "Sebenarnya, kondisi paman tidak akan separah ini jika kau tidak menarik pisaunya."


"Aku sangat panik waktu itu, Aku tidak bisa memikirkan hal lain saat paman jatuh pingsan."


Sophia memeluk ibunya, kini ia mengerti jika yang bersalah adalah dirinya. Jika saja dia tidak menerima tawaran pamannya untuk di antar, atau mungkin jika dia tidak salah mengingat tempat di mana mereka harus bertemu mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Andrea menghela napas berat. Kondisi saat itu memang tidak memungkinkan bagi siapapun untuk berfikir jerni. Apalagi Sophia yang masih sangat mudah, mungkin dia berfikir rasa sakit itu datang dari tekanan pisaunya. Untuk itu dia mencabutnya.


"Sudahlah. Yang terpenting sekarang, kita harus banyak berdoa agar pamanmu bisa segera sembuh, jika dia sudah sadar, semua akan terungkap dan keadaan akan kembali membaik."