
"Harusnya kau kembali ke kamar mu sekarang Tian Justin."
"Kau mengganggu tidur ku."
"Aku minta maaf untuk itu. Aku baru saja pindah dan sedang mengatur barang-barang milik ku. Maaf jika bunyi ketukan palu di dinding sudah membangunkan mu."
"Kau tidak mengatakan padaku akan pindah di sini."
"Ini adalah urusan pribadiku, tidak sopan jika anda menanyakan itu. Lagi pula untuk-"
"Untuk menghindar dari ku?" Justin dengan cepat memotong ucapan Sophia. Ia mendekatkan wajahnya tepat di hadapan gadis bermanik hitam itu. "Kenapa kau menghindari ku?"
"Untuk apa menghindari mu Tuan Justin."
"Kau yakin?"
"Tentu saja."
"Benarkah?"
"Sebaiknya anda segera pergi."
Bukan marah, atasan arogannya itu malah tersenyum puas. "Apa ada yang ingin kau katakan padaku sebelum aku pergi?"
"Tidak ada," jawab Sophia cepat.
Bukannya pergi, Justin malah menelusuri setiap sudut apartemen dan mengabaikan Sophia yang masih berdiri bingung tempatnya. Gadis bermanik hitam itu berdiri sambil memikirkan tingkah Justin saat mulai masuk dan kalimat-kalimat yang ia ucapkan, semua itu terdengar aneh baginya.
Sekejap, Sophia kembali mengingat kalimat terakhir yang di ucapkan Justin. Entah kenapa kalimat itu seperti familiar. "Oh God!" Sophia baru tersadar. "Kau sudah ingat?"
"Kenapa? Kau kaget?"
"Ti-tidak."
"Ataukah kau sedang memikirlan alasan untuk menghindar dari ku lagi?"
"Sophia Alexander, sampai kapan kau akan terus berpura-pura."
Manik mata Sopia bergetar, ia menatap wajah pria di depannya dengan ketakutan. "Benar, kita pernah saling mengenal. Bahkan kau dan aku tumbuh sejak kecil di lingkungan yang sama."
Justin berdecak kesal. "Akhirnya kau mengakuinya."
Sophia menelan salivanya dengan sangat susah. Gadis itu mendesah, mengingat bagaimana sampai ia harus merahasiakan semua ini dari Justin. Dalam hati ia memohon agar Justin tidak menanyakan alasannya melakukan ini.
"Lalu kenapa kau membohongi ku."
"Oh sial!" Sophia mengumpat di dalam hati. Baru saja ia memohon agar tidak ada pertanyaan seperti ini. Tuhan memang benar-benar tidak adil kepadanya.
"Masalah ini sudah lewat bertahun-tahun, tidak ada artinya kau bertanya lagi. Kau sendiri pun pasti tahu alasan ku berbohong."
"Aku tidak tahu!"
Teriakan Justin sontak membuat Sophia terkejut dan mulai ketakutan.
"Apa kau tahu bagaimana aku saat mengetahui semuanya, mereka hanya memberikan surat permintaan maaf mu pada ku. Aku menunggumu Sophia, setiap hari bahkan sampai merasa frustasi karena kau yang tidak ingin melihat ku. Aku kehilangan ingatanku karena terlalu memikirkan mu. Dan kau bilang tidak ada artinya?"
Sophia terperangah dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Justin. Mata hitam itu terasa perih, dan mulai berkaca. Tiba-tiba saja, sesak luar biasa ia rasakan di bagian dadanya. Namun, berusaha ia tahan agar tidak terlihat oleh Justin.
"A-aku paham kau sulit menerimanya saat ini, tapi kita sudah tidak bisa kembali ke masa lalu. Ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi."
Sophia berbalik melangkah menuju ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. "Aku akan menghubungi Elio untuk memasang peredam suara di kamar mu agar tidak berisik de... Agkh"
Ucapan Sophia terjedah dengan ******* kesakitan, karena Justin menarik tangannya dengan kasar.
"Lihat aku!"
Sophia mendesah dengan wajah ketakutan.
"Kenapa? Kenapa kau tidak datang dan melihat ku? Kenapa kau meninggalkan aku dan membiarkan aku melupakan mu Sophia! Kenapa!"