Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 21



Sophia kembali dengan berlari, ia melewati beberapa pegawai yang terus menatapnya heran karena berlari seperti di kejar.


"Ini... Ini naskah pidato mu Tuan justin," ucapnya dengan napas ter engap-engap.


"Kau datang tepat waktu, sungguh luar biasa."


Dengan napas yang masih tidak teratur Sophia menjawab. " Tentu saja, naskah pidato ini penting jika tidak ada lalu apa yang akan anda gunakan untuk pidato."


Justin menggangguk kecil dengan senyuman tipis yang ia sembunyikan. "Aku baru ingat, sepertinya ada cadangannya di dalam ponselku."


Wajah Sophia berubah seketika.


Justin hampir tergelak melihat ekspresi kagetnya itu. Dengan wajah tanpa dosanya ia berdiri dari duduknya mengambil Naska pidatonya yang di pegang Sophia. "Kau terlalu berkerja keras Nona Sophia." Justin berlalu pergi dengan santai setelah mengatakan itu pda Sophia.


Sophia tersedak dengan kalimat terakhir Justin. "Ca... Cadangan?" Gadis itu tertawa hambar. "Dia membuatku berlari seperti orang gila, bolak balik untuk mengambil naska pidatonya dan dia dengan enteng mengatakan bahwa ada cadangan di ponselnya. Wah..." Sophia meremas kedua tangannya mengumpulkan energi emosinya dan meluapkan dengan hembuskan napas kasar.


Setelah meluapkan semua kekesalannya Ia bergegas menuju ruangan Justin untuk menyiapkan diri untuk menemaninya mengikuti rapat pemegang saham. Di saat emosi seperti ini, Ia selalu ingat kata Elio. Bahwa jangan perlihatkan sisi mafiamu jika ingin Justin kembali seperti dulu.


"Baiklah, hufff."


"Apa kau baik-baik saja Nona Sophia?"


"Apa semua persiapan rapat sudah kau cek kembali. Mungkin saja ada yang terlupakan."


Sophka mengalihkan pandangan dari layar laptopnya melihat ke arah Justin. "Aku sudah memeriksa semuanya Tuan. Lagi pula, jika ada yang terlupakan mungkin saja sudah tersimpan cadangan di ponselmu." Ia menatap lekat wajah Justin dengan tajam. "Bukankah anda suka membuat cadangan?"


Justin berdehem untuk mentralisir rasa canggungnya. "Maaf jika tadi membuatmu sedikit repot." Ia menyungingkan senyum menampilkan deretan gigi putih dan rapihnya itu. Dalam hati ia bersungut, ternyata susah membuat Sophia menjadi orang tidak berguna. Dia selalu punya cara tersendiri untuk memperlihatkan sisi sempurnahnya.


"Silahkan Tuan Justin, rapat akan segera di mulai. Kau harus tiba lebih dulu untuk menghafal naskamu agar tidak salah berpidato."


Justin mengikuti arahan Sophia untuk ke ruang rapat terlebih dahulu. Ia tetap terlihat santai walaupun tahu jika Sophia saat ini sedang menyindirnya. Gadis itu pasti sudah menyadari jika ia hanya berpura-pura hanya untuk mengerjainya. Bahkan cara licik yang ia gunakan membuat Sophia terlihat sangat profesional dalam melakukan tugas.


"Nona Sophia, apa kau marah padaku?"


"Memangnya keuntungan apa yang aku dapatkan jika marah kepadamu?" tanya Sophia dengan menaikkan satu alisanya.


"Ku pikir, kau merasa sedikit kesal karena aku membuatmu bolak balik apartemen untuk mengambil naska pidatoku padahal sebenarnya aku menyimpan cadangan d ponselku," jelas Justin mengungkapkan pemikirannya.


Sophia justru tertawa berbahak-bahak dengan pemikiran sahabat masa kecilnya itu. Ia menyorot wajah Justin dengan angkuh. "Aku melakukan semuanya sesuai tugasku, yaitu memastikan apa yang anda butuhkan terpenuhi."