
Cklak ...
Sophia membuka pintu, dan dengan pelan melangkah mendekati meja kebesaran Justin di mana ia sedang duduk sambil menatap laptopnya.
"Semua pesanan anda sudah tersedia. Silahkan Tuan Justin, kau bisa menikmati makan siangmu." Sophia memberi perintah agar justin bisa langsung menikmati hidangan yang sudah ia siapkan di ruang sebelah.
"Terima kasih, Tapi sepertinya aku tidak bisa makan sekarang. Ada rapat lanjutan dengan direktur utama aku harus menghadirinya."
Ekspersi Sophia langsung berubah datar. Yang tadinya ia datang dengan wajah ceria karena berhasil menyelesaikan tugas, kini berubah menjadi dingin dengan sorot mata tajam.
"Maaf?"
"Kelihatannya kau terlihat sangat lelah Nona Sophia." Justin menyodorkan segelas air putih di yang ada di atas meja kerjanya ke depan Sophia. "Mungkin kau butuh ini untuk menyegarkan diri. Dan terima kasih untuk makan siangnya."
Setelah mengatakan semua itu, Justin berlalu pergi dengan santai tanpa memikirkan keadaan Sophia yang seperti api ya g sedang membara. Sungguh luar biasa, seorang Justin bisa mempermainkan Sophia Alexander seperti ini.
Sophia tertawa hambar mengingat semua kejadian yang ia alami pagi ini karena Justin. Berkali-kali ia menghembuskan napas kasar untuk menetralkan emosinya yang kian meningkat.
Seketika Sophia ingin melemparkan gelas berisi air yang di sodorkan Justin tadi padanya. Amarah menguasai dirinya saat ini. Sepertinya dia datang bukan sebagai sekretaris melainkan seorang pelayan. Sophia menarik napas dalam-dalam dan beranjak keluar mengikuti Justin. Seperti kata pria itu, ada rapat penting bersama direktur utama yang tak lain adalah pamannya sendiri. Sebagai sekretaris, Sophia harus berada di samping Justin. Dengan kata lain, ia harus menemani Justin mengikuti rapat itu dan mengabaikan amarahnya kepada pria itu.
"Justin Ruiz! Kau benar-benar membuatku ingin menerkam mu sekarang juga," gumam Sophia menatap punggung Justin yang sudah menghilang di balik dinding. "Entah apa yang membuatku begitu jatuh cinta kepadamu dulu."
Sophia seperti menyesali rasa sukanya kepada pria dengan tato elang d tangannya itu. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa tidak bisa menyadari bahwa dia sedang di kerjain oleh Justin. Hanya karena rasa bersalahnya kepada lelaki itu membuat dia tidak berdaya untuk menolak apalagi melawan.
Sebenarnya Sophia sama sekali tidak ingin menjadi sekretaris Justin karena trauma itu. Namun, Elio terus memaksanya dengan alasan proyek ini sangat penting bagi perusahaan dan juga agar hubungannya dengan Justin bisa pelan-pelan ia perbaiki.
Tapi sialnya, pria dingin itu malah mengerjainya, membalas dia karena hal kecil yang tidak sengaja ia lakukan di apartemen tadi pagi. Kini semua rasa yang Sophia pendam benar-benar membuat dia harus sabar dan tetap tersenyum melayani dengan setulus hati. Selain ingin menjadi seorang sekretaris yang handal di mata Justin, Sophia juga harus menjadi wanita yang tidak mudah di lupakan. Ia harus berusaha membangun cemistri antara ia dan Justin.
Semua itu dia lakukan agar bisa menggembalikan semua ingatan Justin tentangnya, tentang persahabatan mereka, dia Elio dan juga Justin, tentang perasaannya dulu yang begitu dalam untuk Sophia dan tentang rasa menghargai usah orang lain. Justin yang dulu adalah pria sejati yang sopan dan baik. Sangar berbeda dengan Justin yang sekarang.
Gadis dengan tempramental seorang Mafia itu, benar-benar ingin mengembalikan Justinnya yang dulu. Meski resikonya adalah Justin harus mengingat Sophia dengan kejadian mengerikan itu.