Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 15



"Kau berhasil membawanya."


"Kau berhutang penjelasan akan semua ini padaku Elio."


"Yang terpenting sekarang adalah, bagimana cara membuju Justin agar mau bergabung bersama kita."


"Selanjutnya ku serahkan padamu. Dan ingat, jangan pernah lagi menghubungiku karena ini adalah liburanku. Kau menghancurkan cuti ku."


Elio terkekeh sambil mencubit lembut pada pipi saudaranya. "Kau yang terbaik Baby."


"Tapi apa kau yakin dia tidak mengenali kita? Jangan-jangan dia hnya pura-pura saja karena tidak ingin berhubungan lagi dengan kita."


Sophia tidak bisa membohongi diri, ia tidak bisa konsentrasi karena adanya pria itu. Ia selalu mengingatkan tentang paman Demetrio dan bagaimana ia bisa di tinggalkan oleh orang-orang yang ia sayangi. Bukan tentang sakit hati dan kebencian, tapi tentang traumanya.


"Tenanglah, aku sudah memastikan semuanya. Kita hanya akan berbisnis di sini Baby, tidak untuk menambah beban hidup."


"Apa?"


Dahi Sophia berkerut mendengar penjelasan Elio, kata-kata yang ia keluarkan sungguh terdengar konyol.


"Sudahlah, berhenti memikirkan yang belom tentu terjadi. Percayalah jika kali ini dewi keberuntungan akan berpihak padamu. Entah itu tentang bisnis kita, atau tentang hubunganmu dengan Justin."


Justin berdecak tawa. Memeluk saudaranya itu dengan lembut. "Aku tahu, kau pasti bisa."


"Oh iya." Sophia melepas pelukannya dengan cepat saat mengingat kembali sesuatu. "Justin sedang mabuk karena perjalanan yang cukup panjang tadi, jangan kau racuni dia dengan alkohol." Sophia menatap lekat wajah saudaranya. "Kau tau akibatnya jika kau mengabaikan peringatanku."


Setelah mengatakan itu, Sophia mengayunkan kaki meninggalkan Elio. Perasaannya campur aduk saat. ini. Ia sungguh penasaran apakah Justin benar-benar tidak mengenalnya, atau hanya pura-pura saja. Ia kembali ke apartemennya dan memikirkan banyak hal. Termenung mengingat semua kejadian yang sudah berlalu, bagiamana ia bisa di benci dan di buang lalu ia mencoba untuk bangkit sendiri, tentu saja dengan bantuan Elio. Pria nakal itu selalu berada di sisinya sepanjang waktu hingga ia benar-benar siap untuk memulai hari baru. Tanpa kedua orang tua tanpa paman Demetrio dan tanpa Justin.


Sophia yang sedang termenung tiba-tiba mengingat sesuatu. Ia beranjak membuka lemari dan mengeluarkan satu kotak besar berwarna hitam. Lama ia menatap kotak itu, hingga akhirnya keberanianan membawanya untuk mengangkat kotak hitam itu dan meletakannya di atas ranjang.


Setelah di letakan di atas ranjang, ia tak langsung membukanya. Lama sekali ia menatap dengan diam di depan kota itu. Jika ada yang melihatnya mungkin mereka akan berfikir jika kotak itu adalah seorang pria tampan yang tidak ingin ia lepas dari pandanganya. Ia ragu, apakah ingin membuka kotak itu atau meletakkannya kembali di dalam lemari.


Beberepa menit berlalu dan ia terus saja menatap kotak itu. Sesekali ia mengelus lembut di sana. Namun, belum juga membukanya. Seteleh berpikir serius Sophia memutuskan untuk membukanya. Ia membuka penutup kotak itu dengan sangat hati-hati. Kotak ini seperti setengah nyawanya, tentu saja. Karena isi dari kotaknya adalah semua kenangannya masa lalunya bersama Justin. Foto-foto juga beberapa lembaran surat yang pernah di berikan oleh Justin saat dia dan Justin harus berpisah sementara karena keluarga Justin berlibur ke Puelba.


"Apa yang sudah terjadi kepadamu? Kenapa kau tidak mengenaliku."


Sophia merintih dalam kekecewaan. Perasannya untuk Justin sangtlah dalam. Ia bahkan pernah menghayal jika suatu saat nanti ketika mereka dewasa, Justin akan melamarnya dan mereka akan bahagia terus hingga maut memisahkan. Hayalannya ia akan menikamati kisah cintanya sama seperti kisah cinta ayah dan Ibunya. Namun, nyatanya kecelakaan itu menghancurkan segala impiannya. Kini, hubungannya dengn Justin sudah benar-benar berakhir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...