
"Apa kalian sedekat itu?"
Sophia melirik kiri dan kanannya. Lalu, karena masih bingung ia langsung bertanya. "Kau bertanya padaku Tuan Justin?"
Justin memijat pelipisnya dengan raut wajah sedikit kesal. "Apa ada orang lain di sini selain kita berdua?" tanya Justin kembali masih dengan raut wajah kesal.
"Oh, jadi kau sedang bertanya padaku?"
"Tentu saja Sophia. Astaga! Kau ini bodoh atau apa."
Deg... Deg...
Jantung Sophia tiba-tiba berdetak kencang saat Justin memanggil namanya langsung tanpa ada embel-embel Nona di depannya. Matanya lurus menatap manik hitam itu tanpa berkedip. Selama beberapa hari bersama Justin, baru hari ini pria itu memanggilnya dengan sebutan nama saja.
"Sophia! Apa kau mendengarkan ku? Hei!"
Hening, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir tipis itu. Mata Justin seakan menghipnotisnya untuk tetap diam.
"Sophia Alexander!"
Justin berteriak dengan menatap tajam ke arah Sophia, entah apa yang sedang di pikirkan wanita itu hingga sedari tadi tidak menjawabnya.
"Akh..." Sophia menjerit saat tangan Justin mencubit kedua pipinya. "Apa yang kau lakukan Justin Ruiz, kau menyakiti ku?"
"Harusnya aku yang mengatakan itu, sedang apa kau? Apa yang kau pikirkan hingga tak menjawab ku dari tadi."
Sophia yang baru tersadar memandang dengan raut cemberut sambil mengelus kedua pipinya. "Tidak ada Tuan."
"Lalu kenapa kau tidak menjawab ku!" Justin semakin kesal hingga menatap tajam ke arah Sophia.
"Sekarang jawab aku, ada hubungan apa kau dan Elio."
"Bukankah itu sudah di jelaskan oleh paman Zigo, kita tumbuh besar bersama-sama," jawab Sophia masih dengan tangan yang mengelus pipinya.
"Hanya itu?"
"Kami sekolah di sekolah yang sama sejak kecil, hingga kuliah."
"Lalu?"
Sophia tampak sedikit mengingat masa lalunya bersama Elio. "Dia sering tidur denganku."
"Apa kau gila!"
Alis sophia mengerut. "Memangnya kenapa Tuan Justin, apa tidak boleh?"
"Tentu saja tidak boleh. Kau dan Elio adalah wanita dan pria, mana bisa tidur bersama."
"Astaga! Elio itu sudah ku anggap kakak kandungku sendiri, hanya sekedar tidur bagi kami itu hal yang biasa Tuan. Malah seruh, kami bisa saling bercanda dan menggoda satu sama lain. Dan kami senang, karena aku juga sangat menginginkan saudara laki-laki, dan Elio juga tidak punya saudara perempuan. Jadi, kami berbagi layaknya saudara sendiri."
"Bisa saja kau menganggapnya seperti itu tetapi Elio tidak. Bagaimana jika dia baik padamu karena menyukaimu sebagai seorang wanita bukan karena kau adalah adiknya," ujar Justin dengan santai, tetapi di dalam hatinya sangat menggebu-gebu.
Entah kenapa, dia sangat tidak suka mendengar kedekatan Elio dan Sophia. Perasaan ini seperti ada sejak dulu. Justin merasa jika Sophia seperti tidak asing baginya. Namun, untuk mengingatnya sangatlah susah. Entah di mana dan kapan dia pernah mengenal Sophia. Justin berusaha untuk mengingat wanita itu sejak pertama kali dia di jemput di bandara oleh Sophia.
"Aku dan Elio sudah bertahun-tahun seperti itu, dan tidak ada masalah. Dia selalu menjadi kakak terbaik ku di dunia ini. Tidak seperti seseorang, yang dengan mudahnya melupakan aku."