Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 40



"Seharusnya aku memiliki adik laki-laki dari pada perempuan. Ini sangat menyiksa."


Pria yang baru saja menutup panggilan itu harus bergegas kembali ke apartemen karena Sophia sudah menelponnya berulang kali. Gadis itu mengancam akan meminta Paman Zigo menutup semua bar miliknya jika ia terus-terus mabuk dan memakai wanita malam


"Apa tadi yang menghubungi adalah Senorita Sophia?"


"Hmm.. Majikan mu itu akan membuat aku melajang seumur hidup."


"What?"


"Dia melarangku untuk berhubungan dengan wanita lain selain dirinya. Tapi bagaimana bisa pria tampan dan seksi seperti ku tidak memiliki wanita. Oh no! Itu mustahil," gerutu Elio sambil berkacak pinggang.


Agrio menggelengkan kepala melihat bagaimana pria di depannya sedang menganggungkan dirinya. Dari pada terus berlanjut, lebih baik dia tidak merespon.


"Bagaimana dengan Senor Justin."


Elio membuang napas berat. "Apa yang harus kita lakukan dengan pria penyuka sesama jenis ini." Elio sedikit melirik ke arah Agrio.


"Hentikan!"


"Hahahaha."


Pria yang memiliki manik cokelat itu tertawa. Tentu saja itu tidak benar, ia hanya membuat lelucon untuk menggoda pengawal pribadi adik sepupunya itu.


"Luke, bantu Agrio untuk menyeret si pembuat masalah ini ke mobil."


"Sekarang?"


"Yah, sekarang. Kalau tidak, Sophia akan menutup semua bar milik ku jika aku terus di sini dan tergoda dengan mereka." Elio mencium lembut bibir wanita yang baru saja menghampirinya. "Maaf Sayang. Tapi, malam ini kita tidak bisa berpesta."


"Sayang sekali."


"Apa kau menginginkan ku?"


"Sangat Elio." gadis itu membelai lembut wajah Elio seperti sedang memberi rangsangan.


"Tapi aku sedang sibuk sekarang."


"Apa karena Sophia?"


Elio tertawa mendengar nama saudaranya di sebut. "Hati-hati, kau tidak boleh memyebut namanya sembarangan."


"Sampai jumpa di malam berikutnya sayang."


Elio melirik dengan kedipan nakal ke arah gadis seksi itu. Setelahnya, dia dan Agrio melaju menuju apartemen alexander. Justin yang sedang mabuk berat, sudah tidak sadarkan diri lagi. Entah berapa banyak minuman yang ia teguk hingga terkapar seperti orang yang sudah tidak bernyawa.


"Apa dia akan baik-baik saja?"


"Hmm."


Agrio melirik Elio, merasa heran karena pria pecicilan itu hanya menjawab dengan bergumam.


Menyadari itu Elio langsung menjawab. "Aku sedang berfikir, jangan mengganggu ku."


"Si, Senor."


"Bagaimana caranya agar Justin bisa kita bawa masuk tanpa sepengetahuan Sophia."


"Ternyata, diamnya karena memikirkan itu," gumam Agrio di dalam hati.


Melihat Agrio yang diam, Elio melirik dengan tatapan penuh. "Aku bertanya padamu Agrio, kenapa kau tidak menjawab?"


"Bukankah kau bilang jangan mengganggu mu?"


"Itu kan tadi, tidak sekarang."


"Tapi, kau baru mengatakannya 1 menit yang lalu."


Elio menatap Agrio, lalu menghela napasnya. Sambil mengangguk kecil pria itu berkata. "Ini akibatnya kalau kau terlalu sering bersama Sophia."


"Maksudnya Senor?"


"Sudahlah! Kau fokus saja menyetir, oke."


Dalam hatinya Agrio mencemoh Elio, ingin sekali dia mengatakan langsung kepada pria itu kalau dia sangat menyebalkan. "Memangnya apa salahku," gumam Agrio di dalam hati.


"Berhenti mencemoku Agrio, Aku mendengarnya. Di banding kau harus mengatakannya di dalam hati, lebih baik kau katakan saja langsung."


"Maaf Senor," ujar Agrio dengan wajah malu.


"****! Bahkan dia tau jika aku mengumpatnya di dalam hati. Benar-benar seperti ayahnya," gumam Agrio kembali di dalam hati tentunya.