Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 28



"Siapa?"


Sophia yang hendak beranjak pergi di tahan oleh pertanyaan Justin. "Siapa? Maksud anda Tuan Justin?" tanya Sophia kebingungan, karena sejujurnya dia juga tidak tahu apa yang sedang di pertanyakan oleh pria bertato elang itu.


"Siapa orang yang sudah melupakan mu itu?"


Sophia terdiam, dia bingung harus menjawab apa. "Bodohnya aku, kenapa malah mengatakan seperti itu tadi." Sophia bergumam di dalam hati, mengutuk dirinya sendiri karena sudah memancing ingatan Justin tadi dengan tujuan agar pria itu ingat dengannya, malah sekarang dia yang terjebak dengan ucapannya sendiri.


"Kau melamun lagi Sophia?"


Justin berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Sophia. " Kau harus menjawab pertanyaanku itu sebelum kau keluar dari ruangan."


Sophia terdiam sejenak sambil menatap pria yang selalu ia rindukan itu dengan tajam. "Jika tidak?"


"Jika tidak, maka kau terpaksa harus tetap berada di ruanganku."


Wanita berambut cokelat itu tertawa langsung pelan mendengar ancaman atasannya. "Jangan konyol!"


"Aku serius Nona Sophia Alexander."


Lagi-lagi ucapan Justin membuat Sophia tertawa. "Maaf, tapi kehidupan pribadiku bukan konsumsi publik jadi aku tidak bisa memberitahu kepada anda siapa orang itu. Lagi pula, bukankah kita tidak sedekat itu untuk saling berbagi hal pribadi?"


Sorot mata Justin saat Sophia mengatakan demikian begitu tajam hingga terasa seperti menusuknya. Pria itu melangkah semakin mendekati Sophia.


"Sekarang apa kita sudah punya hubungan yang dekat?" bisik Justin tepat di telinga Sophia.


Karena kaget, Sophia langsung mundur dua langkah ke belakang untuk menjauhkan diri. Jantung Sophia berdetak lebih cepat dari biasanya karena ulah Justin barusan. Jika saja dia tidak hilang ingatan, mungkin gadis bermanik hitam itu sudah memukulnya dengan keras.


"Oh Tuhan! Bisa-bisanya aku masih terpesona hingga gemetar saat dia berbisik di telingaku. Mengingat wajahku saja tidak, apalagi menyadari jika pria yang ku maksud adalah dia," gumam Sophia di dalam hati.


"Maaf, jika tidak ada yang bisa ku kerjakan aku mohon pamit. Aku harus menyapa Paman Zigo sebelum beliau pergi. Permisi!"


Setelah mengatakan itu Sophia buru-buru keluar dari ruangan Justin. Dia tidak ingin ada hal-hal lain yang terjadi lagi. Berbisik saja sudah membuatnya tidak berkutik, apalagi jika Justin mencium atau memeluknya.


"Tidak! Oh God! Apa yang kau pikirkan Sophia. Mana mungkin hal seperti itu akan terjadi. Dia bahkan tidak mengingat mu," ucap Sophia di sela langkahnya. Gadis itu bergegas menuju ruangan direktur. Namun, belum lagi sampai di sana, ia sudah bertemu dengan orang yang akan ia temui.


"Paman!"


Sophia meneriaki pamannya yang baru saja keluar lift.


"Jangan berlari Sophia, melangkahlah dengan pelan-pelan kalau tidak kau akan terjatuh," teriak paman Zigo dari kejauhan.


"Pelan-pelan saja Sayang," ujar paman Zigo tatkala gadis kecilnya sudah di hadapannya.


"Apa paman akang pergi?"


"Si, hari ini paman akan ke Puelba, Ayahmu ingin membicarakan hal penting dan dia memintaku untuk ke sana. Apa kau ingin ikut?"


"Tidak!"


"Ibu mu sangat merindukanmu Sayang."


"Sampaikan salam rinduku pada Nyonya Alexander. Katakan, putrinya baik-baik saja dan sangat merinduknnya."


"Hanya ibumu?"


"Baiklah, katakan juga pada pria tua yang pemarah itu."


Zigo tertawa kecil mendengar ocehan keponakannya. "Paman pikir kau buru-buru karena ingin mengatakan sesuatu?"


"Ya ampun! Ini krena paman, aku jadi lupa mengatakan maksudku?"


"Ada apa?" tanya Paman Zigo dengan lembut.


"Apa maksud paman memancing Justin tadi? Paman membuatku hampir tidak bernapas di depan pria es itu tadi."


"Memancing apa? Paman tidak mengerti maksudmu Sayang."


Sophia melirik dengan menyipitkan kedua matanya. "Jangan berbohong, aku tahu paman sengaja melakukan itu."


Sophia dan pamannya saling menatap sesaat hingga keduanya tertawa bersama. Itu karena Sophia tahu pamannya pasti mengerti apa yang sophia tanyakan. Sebaliknya Paman Zigo juga tahu ke mana arah pertanyaan Sophia. Saking dekatnya kedua orang itu, hingga tanpa berkata-kata pun sudah tahu.


"Jangan lakukan itu lagi Paman, biarkan aku yang berusaha sendiri. Ini kesalahanku, dan aku ingin memperbaikinya."


"Kau yakin?"


"Ya tentu saja. Aku adalah Sophia Alexander, tidak ada yang tidak bisa kutaklukan."


Paman Zigo hanya mengangguk dengan senyuman kecil di bibirnya. "Semoga kau berhasil."


Setelah mengatakan itu, pria tua yang sudah beruban itu segera meninggalkan Sophia. Gadis itu menatap punggung tua yang semakin menjauh itu dengan senyuman. "Ah... Aku seperti sedang menatapmu... Ayah!"