Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 46



"Bisakah kau ke kantor sekarang? Hari ini ada rapat keputusan terakhir dengan investor. Kita akan kehilangan mereka jika kau tidak ada di dalam rapat."


( Pesan di kirimkan kepada Justin )


"Aku mohon, datanglah. Elio tidak ada dan paman Zigo sedang menemui Daddy di Puelba. Aku tidak bisa menangani ini sendiri"


( Pesan di kirimkan kepada Justin )


Sophia kembali menatap ponselnya, ia menunggu sambil berharap pesan-pesan yang ia kirimkan tadi di baca oleh Justin.


"Apa yang sedang ia lakukan, kenapa pesan-pesannya belum di baca. Apa dia sengaja tidak melihatnya?" Sophia mendesah pelan. Berfikir keras tentang Justin yang tiba-tiba menghilang seperti ini. Bagaimana jika para investor itu tidak lagi mau bekerja sama. "Oh God, semoga paman Zigo bisa menyelesaikan semua ini."


Sophia semakin merasa tertekan, Sejenak ia berdiri sambil berfikir lalu dengan buru-buru meraih tasnya dan berlari keluar.


"Agrio!" Matanya mencari ke kiri dan kanan dengan panik.


Bodyguard Sophia yang selalu siap setiap saat itu berlari kecil menghampiri majikannya. "Si. Nona."


"Antarkan aku kembali ke apartemen sekarang juga."


"Si."


Agrio segera mengambil mobil di parkiran lalu menghampiri Sophia yang menunggunya di depan pintu utama.


"Apa kau tahu Elio ada di mana?" tanya Sophia saat mobil sudah meninggalkan perusahaan Dio dela morte.


"Senor Elio? Apa dia tidak pulang?"


"Kenapa harus tidak pulang?" Sophia sedikit mengerutkan kening, melirik tajam ke arah Agrio.


Sudah tertangkap basah, mau sembunyi pun tetap akan tertangkap juga. Agrio yang salah bicara akhirnya harus mengatakan yang sejujurnya. "Elio dan Justin semalam minum bersama, aku tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka bicarakan tapi sesekali Justin selalu meminta maaf dan menyebutkan nama mu."


Sophia kembali mengerutkan keningnya.


"Justin terlalu mabuk, dia bahlan tidak mengenal dirnya sendiri. Karena terlalu banyak minum, Justin akhirnya tidak sadarkan diri dan di larikan ke rumah sakit sejak jam 4 dini hari tadi."


"Apa?" Sophia terlihat sangat terkejut. Elio s berengsek itu, apa yang dia lakuka pada Justin. Dia sendiri tahu apa akibatnya jika pria amnesia itu sampai mabuk. "Benar-benar, dasae pria-pria aneh. Selalu saja melakukan apapun tanpa berfikir."


"Maaf, tapi Elio melarang ku untuk memberitahukan hal itu padamu. Jika tidak aku akan di pecat."


"Dasar bodoh! Majikan mu adalah aku, yang berhak memecat mu adalah aku. Kenapa kau malah menuruti semua ucapan Elio."


"Kau benar Nona, kenapa aku begitu bodoh."


Sophia menoleh pada pria ber-alis tebal yang sedang menyetir di sampingnya. Tidak tahu apa yang akan ia katakanlah lagi untuknya. Sungguh bodoh, rasa-rasanya dia ingin memukulinya hingga tidak sadarkan diri.


"Lain laki, jika kau mengulanginya lagi, aku akan memenggal kepalamu."


"Oh god!" Agrio hanya tertawa mendengar ancaman majikannya itu. "Tapi tunggu dulu, kenapa tiba-tiba kau pulang?"


"Aku mencari Justin, semua urusan menjadi hancur karena ulahnya. Sudah tahu jika mabuk ia akan seperti orang mati yang tidak mengenali dirinya sendiri. Tapi masih saja terus melakukannya."


"Itu karena mu Nona."


"Aku?" Sophia menatap Agrio dengan tatapan curiga. "Sepertinya kau tahu banyak tentang Justin."


"Eh tidak Nona, tadi itu hanya... Ah sudahlah, aku akan menjelaskannya nanti padamu. Sekarang kita ke apartemen atau ke rumah sakit dulu."


"Tentu saja rumah sakit."