
"Aaah...! Kepala ku." Justin memegang kepalanya yang terasa berat dan begitu pening. Ini sudah pukul 10 siang dan dia baru saja terbangun setelah Elio dan Agrio membawanya pulang semalam.
5 menit berlalu setelah rasa pusingnya hilang, Justin mengedarkan pandangan melihat ke sekelilingnya dengan cemas. "Di mana ini?" Justin mengusap kasar wajahnya sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidurnya karena masih merasa pusing. "Ternyata di kamarku," ujarnya dengan perasaan legah. Dia pikir akan terbangun di depan pintu bar atau tempat sampah. Seingatnya dia cukup mabuk untuk pulang, tapi jika sekarang berada di kamarnya, artinya dia masih sadar dan yakin tidak melakukan hal-hal memalukan di bar tadi malam.
Tok took tokk...
Suara ketukan di dinding mengagetkan Justin. "Suara apa itu?" Kening pria bertato elang itu berkerut, ia memasang kupingnya baik-baik untuk mendengar dari mana asal suara itu.
Tok took tokk...
Suara ketukan itu terdengar semakin dekat dan terus menerus. "Apa unit di samping ku sudah ada penghuninya?" Kedua netranya menatap jam di atas nakas kamar tidurnya. "Ini pukul 10, bukankah tidak sopan di jam seperti ini dia mengetuk-ngetuk dinding. Dari tadi malah bukan berhenti tapi semakin berbunyi. Memangnya hiasan sebanyak apa yang dia punya."
Justin beranjak dari pembaringan mencari titik dari sumber suara lalu menempelkan telinganya di sana.
Tok took tokk...
Tok took tokk...
"Oh ****! Lagi?" Justin memukul dinding lalu berteriak dengan keras. "Hei! Penghuni baru, Hentikan itu! Kau mengganggu tidur ku."
Namun, karena suara musik yang keras, seseorang yang ia teriaki itu sama sekali tidak menggubrisnya. Malah suara meja yang sedang tergeser dan kursi-kursi yang di dorong semakin terdengar riuh.
"****! Siapa sebenarnya orang ini? Membuat moodku yang hancur ini semakin hancur. Lebih baik aku pergi dan datangi dia secara langsung. Kalau tidak, bahkan dinding rumahku akan roboh olehnya," ketus Justin melangkah menuju pintu keluar.
Setelah sampai di depan pintu unit sebelahnya, Justin segera menekan bel dengan kasar saking emosinya terhadap sang pemilik yang tidak sopan itu.
"Siapa itu? Kenapa menekan bel dengan begitu tidak sopan?"
Si gadis pemilik baru yang sedari sibuk dengan hiasan-biasan dindingnya itu mengerutkan dahi. Dia yang sedang sibuk mengatur barang-barang miliknya segera merapikan diri dan bergegas melihat siapa yang sedari tadi terus membunyikan bel.
"Siapa di..."
"Sophia?"
"Justin..."
Keduanya sama-sama kaget. Apalagi Justin, dari kemarin saat ingatannya pulih. Dia mencari Sophia ke sana ke mari. Tetapi ternyata, gadis itu malah hanya di sampingnya, begitu dekat dengannya.
"So-Sophia..." Justin terperangah dengan wanita di depannya. "Jadi kau pindah di sini?"
"Sial! Kenapa harus ketahuan secepat ini," sungut Sophia di dalam hati.
Sejujurnya, Sophia sama sekali tidak kaget Justin adalah tetangganya. Dia hanya kaget kenapa pria yang menjadi cinta pertamanya itu sudah menemukannya secepat ini. Padahal dia baru saja merencanakan untuk diam-diam mengawasi Justin. Namun, sangat sial. Baru sehari saja, keberadaannya sudah di ketahui oleh Justin.
"Apa aku boleh masuk?"
"Di dalam masih sangat berantakan, aku takut anda tidak nyaman."
Justin mendorong kepala Sophia dengan sengaja. "Kau pikir aku siapa, sampai harus bersih dan rapi. Aku bahkan pernah mencium mu dengan rambut yang belum di cuci selama 3 hari."