
"Aku bebas melakukan apapun."
David menolak saran Levin untuk bicara secara baik-baik. Dia tidak mau lagi mempertimbangkan apapun yang di katakan sahabatnya itu. Sungguh, pria yang hobby bergonta-ganti wanita itu menyesal telah menyuruh Levin untuk mengantikannya bertemu dengan Alaisa waktu itu. Jika saja dia yang tidak ceroboh, mungkin sekarang hubungannya dengan Alaisa tidak akan serumit ini.
"Kau tidak bisa memakasa orang lain untuk ikut denganmu seperti itu."
Melihat Levin yang terus bersikeras menahan Alaisa membuat David geram. Ia ingin sekali memberi bogem mentah kepada sahabatnya itu. Namun, ini di tempat umum, dan lagi mana mungkin dia memukul sahabatnya di depan Alaisa, entah apa yang akan di pikirkan gadis itu padanya. Dia akan mencapnya sebagai pria kasar. David mempertimbangkan itu, dia harus menampilkan sisi baiknya agar Alaisa bisa luluh dan menerima dirinya.
"ikut denganku." David menarik levin untuk sedikit menjauh dari Alaisa. "Dengar, sekarang kau bukan David samuel tapi Levin Mads. Berhenti bertingkah seolah-olah kau sangat memahami tunangan ku," ujar David dengan mata yang terus mengawasi Alaisa yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Aku tahu, kau tidak perlu mengatakannya berulang kali seperti itu," ujar Levin kembali menatap David dengan tatapan yang lebih tajam.
"Kau kenal bagaimana aku Levin, jangan merusak pertemanan kita hanya karena perasaan yang bertepuk sebelah tangan."
Levin tertawa sumbang, tepat seperti dugaannya. David ternyata sudah menyadari jika ia menyukai Alaisa. Mereka berdua memang saling mengenal sejak kecil, itu karena orang tua keduanya adalah sahabat dekat dan sering terlibat dalam urusan bisnis. Karena kedekatan keduanya itu, Levin sudah berulang kali menyaksikan David meniduri berbagai macam wanita, dan sebaliknya. Keduanya bahkan bisa menikmati 1 wanita secara bersamaan.
Untuk itu, Levin tahu persis bagaimana karakter wanita idaman sahabatnya. Dan Alaisa, dia hanya memiliki 1 faktor penentu untuk di sukai David, yaitu polos. Yah, polos menurut versi David. David memang menyukai gadis polos karena tidak suka di tekan oleh wanita yang ia kencani. Namun, kepolosan Alaisa bukanlah polos yang sebenarnya. Alaisa adalah gadis polos dalam artian dia tidak suka berdandan, selalu tampil apa adanya, masih awam dam bercinta bahkan dia belum pernah memberikan ciuman pertamanya untuk siapa pun.
"Bodoh! Memangnya kau pikir seorang gadis akan luluh jika kau berikan gaun pengantin sebanyak itu?"
"Lagi-lagi kau bertingkah seolah-olah sangat memahami siapa Alaisa."
"Suka dan cinta itu jauh berbeda David. Sekarang, kau hanya suka pada Alaisa, bukan karena kau mencintainya."
"Sialan kau."
"Kau hanya terobesesi dengannya. Jika itu benar, lebih baik kau lupakan karena aku yakin Alaisa akan meninggalkan mu."
"Aku..." David menarik napasnya yang semakin terasa sesak. Levin benar-benar sahabat sejatinya. Karena, tanpa memberitahu apa pun dia sudah tahu isi pikirannya.
"Jadi itu benar?"
"Ya itu benar! lalu Memangnya kenapa, bukankah kita selalu seperti itu."
"David!" Suara berat dan tegas itu sampai membuat gadis yang berdiri tidak jauh dari keduanya itu terkaget.
"Hei, ayolah. Kita bisa bersenang-senang dengannya. Kita sering melakukannya bukan bahkan kita menikmati sa..."
"Apa kau tidak waras! Alaisa bukan wanita sembarangan David," ujar Levin memotong pembicaraan. "Jangan lakukan itu padanya aku mohon." Levin berkata dengan sungguh-sungguh karena David yang sudah mulai bertingkah nekat.
"Astaga, sejak kapan kau menjadi seserius ini tentang wanita."
"Aku serius David, lupakan hal-hal bodoh yang ini kau lakukan dengannya dan mulailah serius."
David memutar kedua bola matanya malas. "Jangan hancurkan rencana ku," ujar David menatap Alaisa yang sedang melangkah me dekat kepada mereka. "Lihatlah dia, begitu manis dan polos."
Alaisa berusaha menolak eratan tangan David yang bersarang di pinggangnya, ia menatap David dengan jengkel dan sorot mata kebencian. "David apa yang kau lakukan, ini di kampus," bisik Alaisa untuk menyadarkan tentang kelakuannya saat ini.
"Aku benci wanita keras kepala Alaisa."
"Dasar, berengsek."
Levin yang melihat itu diam-diam mengeram di dalam hati, ia mengutuk kelakuan David yang seenaknya saja memperlakukan wanita. Apalagi itu adalah Alaisa.
"Lanjutkanlah." Levin melangkah pergi dengan menahan emosinya, pria dengan tinggi hampir mencapai 200 cm itu mengepalkan kedua tangannya membayangkan tangan David yang sedang berada di pinggang gadis yang ia sukai. "Ah sial!"
"Menjauh dariku," ujar Alaisa mendorong kasar tubuh David.
"Alaisa, aku ini tunangan mu, bisakah kau sedikit manis denganku."
"Hentikan hayalan mu itu Tuan David Samuel, sudah ku katakan pertunangan kita tidak akan terjadi. Aku membatalkannya."
"Jangan bodoh! Perjodohan ini adalah permintaan ibumu, mana mungkin kau bisa membatalkannya." Dengan kasar David kembali menarik pinggang Alaisa membuat wajah keduanya beradu. "Jika kau terus melawan, aku tidak menjamin akan bertingkah lembut lagi padamu," ujar David dengan tatapan mengancam.
"Kau sudah tidak waras."
"Ya, aku menjadi tidak warasa karena kau."
"Lepaskan!"
Dengan kasar dan penuh kekuatan Alaisa menjauhkan tangan David dari pinggangnya. Alaisa mendengus kesal dengan tatapan penuh kemarahan pada David. Ia sudah mulai kehabisan kesabaran untuk pria satu ini.
"Dasar pria angkuh, kenapa dia tidak membantu ku malah meninggalkan aku, apa yang mereka bicarakan tadi, apa David juga mengancamnya?" Alaisa bergumam di dalam hati bertanya-tanya sambil mengutuk kedua pria yang membuat dia kesal. Masih di awal hari dan moodnya sudah di rusak oleh mereka.
"Jangan mengikutiku, atau aku akan menghubungi tante Els dan mengatakan semuanya tentang kelakuanmu dan Asley." Setelah memberikan peringatan kepada David, Alaisa melongos pergi dan tidak inbin lagi melihat wajah David. Wajah jengkel dan kesalnya Alaisa memperlihatkan jika gadis berambut pendek itu benar-benar membenci David.
"Aku akan menjemputmu nanti," teriak David.
Alaisa mengabaikan teriakan itu dan terus melangkah pergi tanpa menjawab.
"Alaisa, apa kau dengar?"
"Hentikan itu berengsek. Kau pikir ini di rumahmu hingga berteriak sesuka hatimu?" Dasar gila!" Alaisa hanya mengucapkannya pelan, tentu saja itu tidak di dengarkan oleh David. Alaisa merasa resah terus berada di dekat pria itu. Bagaimana jika nanti David melakukan hal-hal lain seperti memeluknya atau menciumnya dan itu di tempat umum
"Auhhgg..." Alaisa merinding memikirkan jika itu benar-benar terjadi. Terlalu larut dengan pikirannya tentang kelakuan David, ia sampai tidak sadar jika seseorang tengah memperhatikannya dari kejauhan.
Levin terus memperhatikan langkah gadis yang sedang komat kamit tidak jelas itu sambil tersenyum tipis. Lalu beralih menatap sahabatnya. Mungkin, David telah menghancurkan sedikit harapannya untuk memiliki Alaisa. Namun, gadis itu tetap selalu bisa membuat dia merasa semakin jatu cinta dengan tingkah-tingkah aneh yang diam-diam selalu ia perhatikan.