Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 44



"Kau yang lupa ingatan tentang ku, meski sudah di abaikan olehmu di katakan seorang pembunuh, tapi aku masih saja berani mencintai mu. Apa menurut mu ini lucu?"


Kini, berbalik Justin yang terperangah dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh gadis di hadapannya. Tiba-tiba saja, sesak luar biasa ia rasakan di bagian dadanya. "Maafkan aku."


"Utangmu kepadaku tidak bisa di bayar hanya dengan kata maaf."


"Aku tahu, Sophia. Aku tahu."


"Di posisi mu mungkin kau berfikir seharusnya aku tidak menyembunyikan ini dari mu. Tapi bagiku, itu adalah cara penyelesaian yang terbaik. Kita bisa saling melupakan, meski berhadapan."


Justin menghela napas berat. "Tapi, kau tidak bisa mengambil kehidupan yang pernah aku miliki, kau tidak bisa menghapusnya begitu saja."


"Bukankah kau juga melupakan aku?"


"Aku mengalami amnesia Sophia, tidak ada yang menginginkan itu. Kau tidak tahu betapa selama ini aku berusaha mengingat apa yang hilang dari ingatanku. Aku berusaha mengingat mu, meskipun terdapat kenangan pahit di sana, tapi aku selalu ingin isi kepala ini di penuhi oleh dirimu."


Sophia menatap lekat wajah pria di hadapannya tanpa berkedip sama sekali.


"Bukan hanya kau yang meski di lupakan masih tetap mencintai. Aku pun sama, Aku masih tetap Justin yang dulu, Justin yang selalu mencintaimu diam-diam.


"A-Apa?..."


Justin mendekati gadis yang selalu menjadi pujaannya itu. "Apa aku jahat?"


Sophia terperangah dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Justin. Mata hitam itu terasa perih, dan mulai berkaca. Tiba-tiba saja, sesak luar biasa ia rasakan di bagian dadanya.


"Ti-tidak. Ka-kau ... Agkh ..."


Sophia mendesah kasar, ia memegang dadanya yang semakin terasa sesak dan sakit. Kenyataan kali ini membuatnya benar-benar terkejut. Sophia tersungkur ke lantai, kepalanya terasa sangat pusing. Kenyataan bahwa dia harus terlihat kuat malah terjadi sebaliknya.


"Sophia!" Justin melangkah panjang menghampiri Sophia yang terlihat begitu lemas di lantai. "Ada apa? Kau kenapa? Sophia jangan membuat ku takut."


Sophia menatap lekat wajah pria di hadapannya. Dalam hati ia terus bergumam. Kenapa baru sekarang, kenapa tidak bertahun-tahun yang lalu. Entah ini salahnya atau Justin.


"Sophia, apa kau bisa mendengar ku?"


Akhirnya runtuh juga. Setengah mati ia menahannya dari tadi, tetapi air mata itu lolos begitu saja saat Justin memeluknya dengan begitu khawatir.


"Hei! Ada apa. Bicaralah Sophia."


"Aku sangat merindukanmu?" Sophia berkata dengan suara tertahan.


Justin tertunduk, ia yang dulu begitu egois dan keras kepala kini merasa sangat malu di hadapan Sophia. "Maafkan aku." Justin menatap lekat wajah gadis di depannya. Ia menyapu setiap bulir air mata yang jatuh di pipi Sophia. Mengelus berulang kali dengan lembut di sana.


"Aku benar-benar minta maaf Sophia, aku tahu kau pasti pura-pura tidak mengenal ku karena kau membenci ku. Aku yang bodoh, egois. Tidak mempercayai mu." Justin memeluk erat tubuh ramping di depannya, ia mengeratkan pelukan-nya menyesali perpisahan yang begitu lama di antara mereka.


Salah paham dan keras kepala dan egoisnya membuat kehidupan Sophia menjadi sangat tersiksa. Selama beberapa tahun ini, gadis itu menjalani hidup dengan menahan segala kemarahan dari orang tuanya dan juga kebencian yang ia berikan. Jika bisa memutar waktu, Justin ingin kembali ke masa itu dan mendengar penjelasan Sophia, sebelum menuduhnya menjadi pembunuh.