Mafia Brothers

Mafia Brothers
Bab 23



Sophia menghembuskan napas panjang sebelum melakukan tugas yang di berikan Justin. Pria itu, entah ada apa dengannya hari ini, dia seperti seseorang yang pendendam. Padahal setahu Sophia Justin yang dulu adalah pria yang baik dan lembut. Dia juga tidak suka menindas orang untuk sekesar membalas rasa malunya. Mungkin, dia akan membantaimu jika kau menyakiti keluarganya atau membuat kesalahan yang tidak ia sukai. Seperti saat ini, Sophia di benci karena membuat ayahya tiada.


"Dia sangat berubah dengan Justin yang ku kenal."


Sophia menggedikkan bahu pertanda bahwa dia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan pria yang pernah mengisi sebagian hatinya itu. Ia melangkah masuk ke dalam lift untuk turun ke parkiran di mana mobilnya berada di sana. Semua pesanan Justin harus sampai dalam waktu 2 jam, jadi dia harus buru-buru untuk berangkat.


Ia keluar dari lift dengan langkah panjang dan cepat menuju mobil RS6 Quattro silver yang terparkir manis di basment kantor. Sophia membuka pintu mobil dan masuk duduk dengan hati-hati. Ini adalah pertama kalinyaa ia akan menggunakan mobil ini tanpa supir. Karena biasanya dia akan di supiri oleh boddyguardnya, atau menumpang pada Elio.


Sebenarny mobil mewah itu adalah hadiah dari ayahnya saat ia mulai bekerja di dio dela morte Grup. Karena ia pikir sangat tidak sopan seorang sekretaris memakai mobil semahal itu karena akan memancing pergunjingan di kalangan pegawai. Namun, bagaiman lagi, Sophia harus wajib memakai mobil itu karena tidak ia akan di paksa pulang oleh ayah Malvin. Jika begitu tentu saja ia akan duduk manis di rumah dan tidak di ijinkan untuk bekerja lgi. Lalu bagaimana dengan cita-citanya untuk menjadi wanita mandiri yang tegas. Untuk itu ia menyuruh boddyguardnya Agrio untuk menggunakan mobil ini mengantar jemput dirinya agar Ayahnya tahu ia memang memakainya.


"Baiklah, tujuan pertama adalah restoran Stiek ini. Semoga tidak ada antrian panjang atau aku akan terlambat mencari yang lain," ujar wanita berambut panjang lurus itu sambil melajukan mobilnya keluar dari basement.


Sementara Sophia yang sedang sibuk dengan semua pesanannya, Justin malah bersantai sambil membaca koran. Pria berotot itu bersiul sangat menikmati waktu bersantainya.


"Akh... Inikah yamg di namakan bergembira di atas penderitaan orang lain?"


Ekspresi wajah Justin sangat terlihat puas. Hari ini dua kali ia berhasil membuat Sophia kocar kacir. Ia menggunakan kekuasaan sebagi seorang bos untuk membalas rasa malunya karna salah mengancing baju di depan Sophia tadi pagi.


Tiba-tiba sana Justin mulai kembali memikirkan tentang perlakuannya kepada Sophia. Mungkin memang ini berlebihan, bukankah hanya soal kancing kemaja yang salah. Sophia juga tidak salah, dia mengatakan itu sesuai yang terjadi. Lalu apa yang sudah ia lakukan ini, balas dendam yang berlebihan.


"Apa aku harus menghubunginya dan membatalkan pesanan-pesanan itu? Pasti dia sangat kerepotan."


Justin meraih ponsel yang ada di atas meja. Ia menekan nama Sophia di latar ponselnya untuk menghubungi wanita itu. Namun, serelah beberapa detik dalam panggilan Ia kembali mematiknnya.


"Ah.. Biarkan saja, mungkin juga sekarang dia sedang mencaciku. Jika seperti itu, bukankah aku di pihak yang merasa rugi?" Justin mendesah kasar meletakkan kembali ponselny di atas meja. Di pikirannya saat ini sedang tidak menentu. Antara ia kasihan pada Sophia sekaligus juga kesal karena sudah di permalukan oleh wanita itu.


Justin menimbang untuk sesaat. Ia tidak tahu harus bagaimana. Perasaan dan otaknya tidak sinkron saat ini. Otaknya selalu licik namun perasaannya selalu tidak tega. Entahlah, mungkin untuk orang lain ia bisa tegas. Namun, tidak tau kenapa jika orang itu Sophia, Justin selalu merasa bimbang, aneh dan tidak menentu. Sejak bertemu Sophia, Justin selalu merasa seperti menemukan hal berharga yang sudah lama hilang.


...----------------...


Like dan komentar yah besti. Jangan lupa kasi vote juga giftnya. Aku slow up sehari 1 bab karena memang blm kontrak ni novel. 👻