
pagi nya, ifa bangun dan melirik ke arah rehan yang masih tertidur. lalu ifa segera membersihkan diri dan bergegas turun.
"kamu sudah bangun sayang?" tanya mama rehan
ifa hanya tersenyum dan hendak pergi
"kamu mau kemana?" tanya mama rehan
"ifa, mau pergi sebentar ma" kata ifa dan tanpa ba bi bu dia segera pergi dari rumah.
ifa pergi dengan menaiki taxi. dia pergi ke pantai untuk menenangkan diri sejenak di sana.
ifa duduk di bangku tepi pantai, dan menatap kosong ke arah pantai. dia merasa sedikit tenang dengan ada nya angin pantai yang sepoi sepoi.
tiba tiba ada seorang lelaki datang.
"boleh kah aku ikut duduk ?" tanya lelaki itu.
ifa tak menjawab namun dia hanya mengangguk tanpa melihat ke arah pria itu.
ketika ifa melirik ke arah pria itu dia sedikit terkejut. karena dia adalah rafi.
"ngapain lo di sini?" tanya ifa dengan kesal.
"aku turut berduka cita atas meninggalnya anak mu." kata rafi yang menundukkan kepalanya.
"terimakasih" kata ifa
"taukah kamu? dia pasti sudah bahagia di sana. "
"dan kau jangan sampai membuat nya sedih karena melihat mu seperti ini" kata rafi sambil melirik ke arah ifa.
ifa berfikir ada benar nya dengan ucapan rafi tadi.
karena ifa sudah merasa lelah dia berpamitan dengan rafi.
"sampai kapan pun aku akan selalu menantikan cinta mu ifa. " kata rafi di benak nya yang tengah melihat ifa beranjak pergi.
tiba tiba lengan ifa ada yang memegang tangan ifa dan sontak membuat ifa terkejut.
"kenapa kamu pergi gak kasih tau aku" kata rehan dengan kesal
"itu bukan urusan kamu," kata ifa sambil menepis tangan nya.
"apa kamu bilang? itu bukan urusan ku? kamu itu istri aku ifa". kata rehan dengan kesal.
"hahaha,, ya aku memang istri mu. tapi kau bukan suami ku" kata ifa dengan kesal.
"apa yang kau katakan.. jangan bercanda ifa, ayo kita pulang" ajak rehan
"aku akan pulang. tapi, tidak dengan mu." kata ifa dan langsung pergi.
lalu rehan menyusul ifa dan segera menghentikan. ifa
"ayo pulang dengan ku" kata rehan dan kali ini sudah mencekram tangan ifa
ifa diam sejenak dan menatap rehan dengan perasaan kesal.
"berapa kali aku harus mengatakan nya pada mu?"
"lepaskan tangan ku atau aku akan berteriak" ancam ifa dan seketika rehan melepaskan tangan nya.
sebelum ifa pulang ke rumah, dia pergi mampir sebentar ke makam anak nya dan berdoa sejenak.
"nak, kenapa kau meninggalkan mama ?
"mama sudah lama menanti mu.?
"mama harap, kamu bahagia di surga " kata ifa sambil mengelus papan makam anak nya. yang di beri nama rafandya maheswara
setelah dari makam anak nya, dia langsung ke rumah dan melihat orang tua nya juga ada di rumah
"kamu habis dari mana sayang?" tanya mama ifa
"jalan jalan ma" mata ifa
"ma, ifa capek mau istirahat" kata ifa dengan ketus dan segera menuju kamar.
dia melihat beberapa foto lama nya yang pernah di ambil selama ifa masih mengandung.
Ttookkk... ttookkk...
"siapa?" tanya ifa
"ini simbok" kata mbok ina.
lalu ifa segera membuka kan pintu untuk mbok ina, dan mbok ina mengajak ifa berjalan jalan di taman sebentar.
tapi, jangan jadikan hal ini menjadikan mu tidak mengurus suami mu" kata mbok ina.
"bu, ibu bilang apa tadi? suami?
"hah.. dia bukan suami ku.. dia tidak lebih dari pembunuh anak ku" kata ifa dengan kesal.
"lagipula, aku sudah mengurus beberapa surat perceraian untuk ku " kata ifa dengan cuek
"astaga, nak sebaiknya kamu fikirkan ini kembali.. jangan buat diri mu bersalah suatu hari nanti" kata mbok ina.
"bu, aku tidak kan menyesal mengambil keputusan ini.. sudah cukup aku kehilangan anak ku. " kata ifa dengan nada sedikit marah.
"sebaiknya, kamu pergi berdoa saja. minta petunjuk dari tuhan." kata mbok ina.
memang semua keputusan itu harus kita diskusikan juga dengan tuhan. karena, sekecil apa pun masalah kita tuhan sudah mengturnnya..
ifa hanya mengangguk, dan menatap ke arah depan.
setelah itu mereka berdua kembali dan hendak makan siang. namun mbok ina sudah harus pulang karena dia juga harus menyiapkan makanan untuk arya juga.
"ayo sayang kita makan bersama sama" ajak papa rehan
"maaf pa, ifa tidak lapar" kata ifa yang tengah menaiki anak tangga menuju kamar nya
"ifa, kamu tidak boleh seperti itu. kamu ini baru saja pulang dari rumah sakit. kamu harus banyak makan" kata ayah ifa
"ifa tidak lapar yah.. " kata ifa dengan kesal dan langsung naik ke kamar nya.
tiba tiba ada pak zaki yang datang bersama rima ke rumah
tapi, posisi rima sudah menangis sesenggukan.
"ada apa pak zaki?" tanya papa rehan
"anu tuan, ini nona rima minta di antarkan ke sini" kata pak zaki.
"ada apa memang nya?" tanya rehan
lalu tiba tiba rima datang dan memeluk rehan sambil menangis.
"pak, anda harus bertanggung jawab atas perbuatan anda kepada saya" kata rima yang masih menangis dan memeluk rehan
"tanggung jawab apa?" tanya rehan karena dia tidak tau apa apa
"pak, saya tengah hamil anak bapak.." kata rima dan seketika membuat keluarga nya trsambar petir.
"tidak, aku tidak pernah menyentuh mu." kata rehan dengan penuh tekanan.
"kalau bapak tidak percaya, ini surat yang dokter berikan" kata rima.
flashback
rima datang dengan membawakan secangkir kopi, yang sudah dia berikan obat tidur. dan langsung di berikan rehan
rehan merasa mengantuk setelah meminum kopi itu dan hendak tidur di kamar ruangan nya. tapi, rima memanfaatkan nya untuk meniduri rehan
setelah rehan bangun pun, dia melihat sekitarnya tidak berantakan. dan seolah olah tidak terjadi apa apa.
flashback off
lalu rehan teringat dengan kejadian itu dan, rehan menjelaskan semua nya pada keluarga nya.
"pa, rehan tidak tau apa apa tantang hal ini. rehan di jebak" kata rehan untuk meyakinkan papa nya.
Pplllakkk... ( suara tamparan) mendarat di pipi rehan dengan keras.
"berani berani nya, kau tidur dengan wanita lain selain putri ku" kata ayah ifa setelah menampar keras pipi rehan
tanpa mereka sadari ifa mendengar pembicaraan mereka dan seketika membuat ifa hancur.
lalu ifa turun dengan keadaan tidak percaya dan air mata sudah membasahi pipi nya.
"ternyata apa yang aku katakan waktu itu benar... kau selingkuh di belakang ku" kata ifa sebari menuruni anak tangga..
"dan kau, apa mau tidak tau kalau rehan sudah punya istri? " tanya ifa kepada rima.
"maafkan saya nona. saya sangat menyukai pak rehan, jadi saya terpaksa melakukan hak itu" kata rima dengan nada yang tidak merasa bersalah sedikit pun
ppllllaaakkkk (suara tamparan) sebuah tamparan keras mendarat di pipi rima dengan keras.
"dari awal, aku sudah curiga. dan ternyata kecurigaan ku ini benar." kata ifa dengan kesal
bersambung...