Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Sahabat Ellgar dan gadis anggun : Phylos dan Sera



Lobelia, setelah melakukan pelatihan selama beberapa hari kini telah mencapai pelatihan spiritual tingkat menengah di level sucinya.


"Akhirnya walaupun di tinggal oleh kakak, saya juga masih bisa meningkat dengan pesat." Ungkap Lobelia pada diri sendiri.


Para wanita di mansion bawah yang membuat pakaian akan segera selesai, dan Sera salah satunya. Dia di beri tugas untuk memberikan beberapa pakaian yang telah jadi kepada tetua mansion atas dari pafiliun kehijauan.


"Bibi Wani, saya pergi dulu ke atas untuk mengantarkan pakaian ini." Ucap Sera.


"Ajaklah kawan yang lain untuk menemani mu," balasnya.


"Tidak perlu bibi, ini hanya sedikit pakaian saja."


"Tapi, kau beneran tidak apa?" tanyanya meyakinkan Sera.


"Tidak apa bi...bibi sedang sibuk. Lebih baik kembalilah untuk melanjutkan pekerjaan bibi," jawaban dari Sera.


"Ya sudah... "


Bibi Wani, adalah ibu pengasuh bagi para wanita pekerja yang membuat pakaian di sana.


"Brugh!"


Suara tubuh yang bertabrakan.


"Aaah... pakaian ku!" seru Sera. Sera terkejut hingga membuatnya sontak berteriak.


"Nona...! nona maafkan saya," ungkap Phylos.


"Pakaian ini akan saya kirim kepada tetua pafiliun mansion atas. Bagaimana ini, sekarang malah jatuh dan kotor."


Penjelasan dari Sera, sambil membereskan pakaian yang jatuh.


Phylos, membantunya dengan sigap dan berinisiatif untuk membantunya meminta ijin kepada bibi Wani, agar dapat pergi ke mansion atas untuk menjelaskan kejadian ini.


"Coba kalian ijin untuk satu hari membersihkan pakaian ini, tapi kalian harus berhati hati dengan nona dari pafiliun kehijauan, dia rumornya sangat berapi api tempramenya." Ujar Bibi Wani yang mencemaskan keduanya


"Baik bibi, saya akan jaga nona ini," balas Phylos.


Pafiliun kehijauan, adalah tempat yang di penuhi tanaman obat, dan tanaman spiritual langka di gunung Melian yang di jaga oleh seorang wanita bernama Lysandra bersama para pelayanya. Lysandra, memiliki makna yang berati sebuah kebebasan.


Sesampainya mereka di depan pafiliun kehijauan.


"Sa saya...sudah takut duluan," ungkap sera menatap pintu besar itu.


"Nona, tidak apa biar saya yang membantu mu menjelaskan, ini sudah seharusnya menjadi tanggung jawab saya. Oh, satu lagi nona kita belum berkenalan."


Phylos mengingat dari tadi dia hanya memanggilnya nona.


"Sera... "


"Saya Phylos, nona Sera mari kita masuk."


Phylos, saat ini mengajak Sera yang tengah memandangi papan nama pafiliun kehijauan dengan penuh keraguanya. Dengan tekad, dan keberanian Phylos, dia memberanikan diri membukan pintu pafiliun tersebut.


"Kriieet..."


"Waahh... indah sekali tempat ini, ternyata di balik pintu besar itu ada surga yang tersembunyi."


Ungkapan Sera saat ini yang tengah terpesona dengan pemandangan di dalam pafiliun kehijauan.


"Iya, sepertinya nona di pafiliun ini sangat rapih, dan teratur dalam penataan juga, sangat terlihat bahwa dia menyukai tanaman." Sambung Phylos.


"Kalian berdua. Siapa! " teriak 2 orang pelayan wanita berpakaian putih yang sedang berjaga.


"Ka... kami, kami kesini ingin bertemu nona pafiliun kehijauan," jawab Phylos terbata bata.


Saat Phylos memberikan penjelasan, namun tidak ada jawaban dari keduanya sehingga, dia memberanikan diri untuk mendekati mereka.


"Sriing... "


Suara pedang yang terlepas dari sabuknya dan mengarah kepada leher Phylos.


"Te, tenang... tenang nona. Saya memiliki niat baik, dan kesini hanya ingin menemui tetua saja," ujar Phylos menenangkan.


"Tang... "


Suara busur panah yang mengenai pedang pelayan tersebut dan membuatnya terjatuh.


"Nona Lysandra."


Sapa 2 pelayan itu dengan membungkuk.


"Katakan! Ada perlu apa?" tanya sang pelayan.


"Kami... kami hanya ingin bertemu dengan tetua pafiliin kehijauan."


"Sekarang sedang di hadapan kalian. Kalian siapa dan perlu apa?" tanyanya lagi.


"Pa...pakaianya tetua belum selesai dan masih kami cuci," jawab Sera.


"Oh."


"Ini... ini salah saya nona Lysandra, yang tidak sengaja menabraknya hingga membuat pakaian anda kotor dan harus di cuci kembali," timpal Phylos.


"Oh." jawabnya lagi.


"Nona, tolong maafkan kami."


Sera dan Phylos, bersamaan mengungkapkan atas kesalahan mereka berdua, dan memohon kepadanya dengan bersujud.


"Hmm..."


"Begini nona, tolong beri kami kesempatan selama 1 hari untuk mencucinya, dan mengantarnya kembali dengan tepat waktu."


Permohonan Phylos pada Lysandra yang masih dalam keadaan bersujud.


"Hmm..."


Jawaban yang sama dari Lysandra untuk mereka dengan tatapan dingin. Dia kemudian berniat kembali ke ruanganya.


"Kalian jika sudah selesai kembalilah!" seru pelayanya.


"Ba..baik."


.


.


"Saya merasa sepertinya dia kesepian, tapi kenapa dia memilih menjadi penjaga tanaman obat dan bukan berlatih spiritual seperti yang lainya," balas Phylos.


"Entahlah."


Dari hari itu keduanya kini makin sering bertemu.


"Hei!"


Seru Phylos menyapa Sera yang sedang menemui di hari berikutnya.


"Kau...!"


"Sudah selesai bajunya, saya akan mengantar mu sesuai janji."


"Apa kau telah berjanji pada saya."


Balas Sera yang sedang bercanda.


"Kau! saya sudah mengatakan padamu untuk membantu mu dan bertanggung jawab!" jawab Phylos, serius.


"Ayolah... saya hanya bercanda," balasnya.


"Hehe...Ok."


Mereka berdua melanjutkan kembali pergi ke pafiliun kehijauan tapi kali ini mereka di persilahkan masuk.


"Nona, terimakasih atas waktunya yang sudah di berikan pada kami. Ini pakaian anda sudah selesai," ucap Sera.


"Letakan di sana," jawabnya.


"Anda..."


"Jika sudah selesai, kembalilah."


Pelayan Lysandra memotong perkataan dari Phylos. Kemudian keduanya bergegas kembali.


"Kau!" seru pelayan lain, dan kondisi masih di wilayah pafiliun kehijauan.


"Kau tadi akan mengatakan apa?" tanyanya.


"Oh, itu saya hanya penasaran kenapa dia hanya tinggal di sini saja," balas Phylos.


"Kau, lupa di gunung melian tidak boleh saling menyinggung urusan satu sama lain. Apa kau ingin di beri hukuman!" balasnya.


Sera yang mendengarnya langsung sujud dan meminta maaf.


"Maaf... maafkan atas ketidak tahuan kami berdua. Saya mohon maafkan kelancangan kami. " Ujarnya sambil menarik Phylos untuk mengikutinya.


"Iya, maafkan saya yang lancang," sambung Phylos membungkuk.


Pelayan itu kemudian pergi meninggalkan keduanya.


"Kau, seharusnya tidak perlu sujud padanya, baju mu sekarang kotor semua!" Ujar Phylos yang perhatian pada Sera lalu membersihkan baju yang kotor.


"Maaf, saya terkejut."


Sera sekarang mukanya memerah atas perhatian yang di berikan Phylos.


"Ayolah... kita semua sama. Mari kembali ke tempat kita yang seharusnya!"


Phylos menggandeng tangan Sera untuk kembali ke mansion bawah.


"Terimakasih."


Ellgar, yang mengetahui sahabatnya tidak pernah terlihat, dia mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Ehem."


Sapa Ellgar, yang pagi pagi sekali datang menemui Phylos di kamarnya.


"Eh... kau."


"Lagi sibuk terus kelihatanya dengan wanita yang bernama Sera, sampai melupakan sahabat sendiri selama berhari hari," sindir Ellgar.


"Saya hanya membantunya, kau jangan berpikir berlebihan," balasnya.


"Gimana? ceritakan kejadianya."


"Huufft..." helaan napas panjang Phylos yang merespon keingin tahuan dari sahabatnya itu.


"Waktu itu saya tidak sengaja menabraknya yang tengah membawa pakaian nona pafiliun kehijauan, hingga membuat pakaian itu terjatuh dan kotor. Selanjutnya, saya menemaninya untuk minta maaf dan menjelaskanya. Kemudian, saya juga membantunya mengirim lagi pakaian yang sudah selesai di bersihkan, dan kami setelah kejadian itu memutuskan untuk saling membantu pekerjaan satu sama lain."


"Hah, dia membantu kau masak dan kau membantunya membuat pakaian?" tanya Ellgar.


Phylos menjawabnya dengan sebuah anggukan.


"Kau, bisa menjahit, merajut?" tanyanya lagi.


"Saya hanya belajar sedikit, dan saya juga hanya membantunya mengirim pakaian di mansion atas sekalian melihat kondisi mansion atas."


"Ah, kebetulan. Bagaimana kondisi di sana?"


"Hmm...Setiap pafiliun selalu di tutup oleh pintu pintu yang besar, sehingga kita tidak dapat mengetahui beberapa isi di dalamya kecuali pafiliun yang kami kunjungi saja, dan di luar pafiliun itu banyak pohon persik serta kolam kolam besar, ada banyak bunga di taman, di sana juga sangat tenang. Oh, kita juga lihat ada tempat yang indah di ketinggian tertentu, mereka duduk bersila di atas batu besar dan batu itu memancarkan cahaya."


"Ha... begitu. Ngomong ngomong wanita mu kelihatan sangat anggun. Apa kau sudah memilihnya?" tanya Ellgar, kepo.


"Berteman saja dulu tidak perlu terburu buru. Gimana? kau sudah mendapatkan wanita yang kau suka."


Phylos mengembalikan pertanyaan yang pernah sahabatnya lontarkan padanya.


"Kau sedang membalas saya?" tanya Ellgar.


"Hahaha..."


Mereka selanjutnya melakukan aktifitas masing masing.