Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Pengejaran 1 : portal teleport milik Lobelia



Haii... kepada para pembaca setia ku, miss ∀ mengucapkan banyak terimakasih atas dukunganya. Jejak kalian di novel ku benar benar membantu penulis semakin giat berkreasi dalam novel ini.


Happy Reading... ( ˘ ³˘)♥


.


.


Apollodorus yang telah selesai dengan urusanya bersama Ecidna, segera mencari keduanya lagi. Monster ular naga Ecidna ini berbentuk besar memanjang seperti reptil, tatapanya yang mengerikan seolah membuat mahkluk hidup di sekitarnya menciut jika berdekatan denganya. Dia di juluki sebagai monster tertua sekaligus ibu dari para monster. Saat ini yang sedang Apollodorus tungganggi adalah, sepenuhnya berbentuk monster ular naga dengan tanduk di kepalanya. Monster naga itu dapat menemukan keduanya dengan cepat. Dia menemukan Lobelia, yang tengah menyembuhkan diri di bawah lembah yang di aliri air sungai.


"Di sini kalian rupanya," sahutnya.


Lobelia dan Ellgar, belum memiliki kemampuan penuh. Kemampuan Lobelia, dalam bidang penyembuhan cukup lambat jika tidak di lengkapi dengan menggunakan racikan tanaman obat.


"Mau kemana lagi kalian!" seru Apollodorus yang murka karena ulah keduanya.


Anak panah Ellgar saat ini telah habis, dia tidak memiliki senjata untuk melawanya. Sehingga, membuat Lobelia berharap kepada pedang kebajikanya. Lobelia, maju menghadapi Apollodorus dengan pedangnya. Dia terus berusaha melawan penguasa itu di tengah kondisinya yang melemah. Ellgar, ikut membantunya dengan serangan demi serangan menggunakan sabuk dari pedang kebajikan.


Sriing...trang trang dug trang...


Suara dari pertarungan ketiganya. Apollodorus, terlihat sangat menikmatinya, melihat keduanya sudah terengah engah.


Duuum...dum...dummm....


Suara gemuruh bercampur dengan getaran yang cukup besar. Lalu keduanya melihat sesuatu yang terbang mendekat tetapi seperti melata. Dan sekali lagi Liontin milik Ellgar mulai menyala nyala juga bergetar.


"Monster apa itu Lobelia," seru Ellgar pada Lobelia, bertanya.


"Saya juga tidak tahu,'' jawabnya.


Naga Ecidna mulai mendekat dan mulai menghadapi keduanya.


Trang trang...dug trang, sreengg...dug dug...


Suara pedang dan sabuknya yang saling beradu dengan tubuh dari monster itu. Ecidna, sesekali mengeluarkan kekuatan dari mulutnya seperti api berwana merah dan biru, yang kemudian di tahan oleh Ellgar juga Lobelia dengan menyatukan sabuk juga pedangnya, menjadi silang satu sama lain.


"Sepertinya ini tidak akan bisa bertahan lama Lobelia, sabuknya mulai retak." Ucap Ellgar.


"Kau benar, pedang ini pun juga telah retak. Mari cari celah untuk kabur," ajak Lobelia.


"Emm..." angguk Ellgar, tanda telah siap untuk langkah selanjutnya.


Ellgar, mengarahkan liontin miliknya ke arah monster itu.Tapi, saat menunggu responya ternyata tidak ada hasilnya sama sekali. Mereka alhasil hanya saling bertatap tatapan.


"Hahahaha....'' ketawa Apollodorus, mengejek lalu mendekati Ecidna.


Sesuai dugaan Apollodorus, Ecidna tidak akan takluk pada liontin itu jika, dia telah melakukan kontrak darah yang di campur dengan api hitam milik leluhurnya terdahulu.


Tepat seperti yang di rencanakan oleh Ellgar dan Lobelia. Lobelia, merapalkan sebuah mantra dan mengeluarkan portal sihir teleport berbentuk lingkaran yin dan yang. Hanya saja kemampuan berteleportnya masih lemah sehingga, hanya mampu mebawa mereka ke tempat lain dengan jarak tertentu saja. Akhirnya mereka berhasil kabur, Apollodorus dibuat sibuk dengan ke angkuhanya sendiri hingga, dia tidak sadar bahwa keduanya telah berhasil kabur dari tempat itu.


"Kalian tidak akan mampu melawan ku. Kalian bukanlah apa-apa bagiku, hahahaha....!!! serunya mengejek dan mulai menengok ke belakang.


"Kurang ajar! kemana lagi perginya dua tikus itu. Baiklah, tidak apa-apa. Mari kita lakukan lagi pencarian mereka. Ini adalah hal yang mudah. Ha ha hha...!!!" Ucap Apollodorus.


Keterangan tambahan :


Murid mansion atas gunung melian yang dapat mengeluarkan portal teleport adalah, mereka yang sudah menempuh tahapan menengah spiritual lv.8 yin yang. Check tahapan spiritual di bab 3.


"Huh...huh. Hossh...hossh." Suara napas keduanya yang beradu kecepatan.


"Uhuuk...uhuuk..."


"Lobelia...! kau tidak apa? kau memuntahkan darah." Ucap Ellgar, terkejut.


"Saya terlalu memaksakan diri membuka teleport. Sedangkan, saya sendiri tahu bahwa saya masih lemah menggunakanya karena saya jarang melatih kemampuan berteleport." Jawaban dari Lobelia.


"Beristirahatlah sebentar..."


"Tidak...! uhuk uhuk. kita tidak punya waktu lama lagi. Kita tidak bisa terbang menggunakan kertas burung bangau lagi. Jadi, saya akan menggunakan sebagian kekuatan lagi untuk membuka portal baru."


"Pikirkan kondisi mu," potong Ellgar.


"Pikirkan kondisi katamu...! lihatlah posisi kita saat ini." Bentaknya.


"Saya hanya khawatir padamu, Lobelia."


"Saya telah mencapai spiritual manusia suci jadi, tidak akan semudah itu kehilangan kekuatan. Percayalah...." ucap Lobelia, meyakinkan.


"Baiklah..."


"Baik. Saya akan membuka portal dan melihat tempat yang cocok untuk kita tempati sementara."


"Baik."


Lobelia, masih berusaha membuka portal. Pedang kebajikan miliknya kali ini menolongnya. Disaat tubuhnya telah melemah, pedang itu tiba-tiba bercahaya dan mendekat ke arah Lobelia, seakan akan meminta Lobelia untuk menggunakan kekuatan darinya.


"Apakah ini kau, kakak..." ujar Lobelia dalam hati.


Lobelia, memegang pedang tersebut lalu mendapatkan separuh dari kekuatanya lagi. Namun, seketika pedang itu retak dan terbelah.


"Oh, tidak. Pedang ku," seru Lobelia.


"Dia memberi kau kekuatan baru," ucap Ellgar.


"Ya, benar...mari kita buka portal baru."


"Tapi, pedang ini..."


"Itu adalah pilihanya kepada pemiliknya. Jangan sia siakan pengorbanan darinya." balas Lobelia.


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Tidak...tempat ini terlalu terbuka,"ucap Lobelia.


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Tidak, tidak...!!! kita kembali ke tempat kemarin saat pertama kali bertemu dengan Apollodorus," ucap Ellgar.


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Tidak, ini tempat yang tadi."


Merapal mantra, buka portal teleport.


Keduanya menggelengkan kepala.


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Tidak.."


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Tidak, cari lagi."


Merapal mantra, buka portal teleport.


Menggelengkan kepala.


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Uhuuk...uhukk...aakh"


"Lobelia," seru Ellgar.


"Saya tidak apa... saya akan mencobanya lagi.


"Baiklah..."


Merapal mantra, buka portal teleport.


"Disana, iya kita harus kesana." Ucap Lobelia.


"Ya," balas Ellgar.


Selanjutnya, keduanya masuk ke dalam portal yang menuju pada sebuah goa.


"Saya pikir ini tadi adalah goa," ujar Ellgar.


"Saya juga berpikir seperti itu," ungkap Lobelia.


"Andaikan waktu itu, saya dapat melakukan kontrak darah dengan makhluk spiritual lainya. Mungkin, hari ini tidak akan pernah terjadi." Gumam Lobelia, yang terdengar oleh Ellgar.


"Apa kata kau?" tanya Ellgar.


"Oh, tidak tidak...bukan apa apa." Balasan Lobelia, menggelengkan kepala. "Disana...!! kita akan bersembunyi di dalam pohon besar itu," sambungnya lagi menunjukan tempat persembunyian untuk mereka.


"Baik."


Terlihat sebuah pohon yang besar nan rindang di antara pepohonan yang lain. Badanya yang kokoh itu memiliki sebuah pintu yang hanya berupa lingkaran, seperti seakan memasuki sebuah goa. Pohon dengan warna yang terlihat berbeda itu, menjulang tinggi ke atas dengan ciri khas dedaunanya yang berwarna light purple. Mereka melangkahkan kaki dengan cepat memasukinya, lalu bersembunyi di bagian terdalam tubuh pohon itu.