
#Di mansion bawah gunung melian.
"Paman Baron," sahut Phylos.
"Ya, kenapa?" balasnya, menoleh.
"Apa kau telah mendapati kabar dari Ellgar...?" tanya Phylos.
"Belum..." jawabnya, menggelengkan kepala.
Paman Baron, yang biasa keluar gunung saat ini sengaja tidak mencarinya karena, hal tersebut adalah keputusan Ellgar bersama Lobelia. Dia tidak ingin menghancurkan rencana mereka berdua selama ini.
"Phylos..." seru Sera lalu berkata, "bagaimana, kata paman Baron...?" tanyanya yang mulai mencemaskan teman temanya.
Menggelengkan kepala. "Fokuslah... ada hal yang lebih penting. Kita harus segera berlatih kembali," ucap Phylos. Kedua mata itu mencoba meyakinkan bahwa semua sedang baik baik saja. Memengang erat-erat tanganya untuk menguatkan bahwa keadaan akan segera membaik.
#Di dalam hutan peri.
Ratu Pheesa memberi perintah kepada Belle yaitu sang adik, juga selaku pengawas lingkungan untuk pengecekan Phon, sang pohon pintu utama hutan peri yang di sakralkan. Pohon inilah yang sepanjang hidupnya menjadi gerbang keluar masuknya peri ke dunia manusia. Belle, di kenal sebagai pribadi yang lembut, penolong, dan lumayan ceroboh.
"Belle," sahut Ratu Pheesa. Belle menolehkan pandanganya lalu ratu berkata, " berhati hatilah... bawalah penjaga di sekitar kau untuk menjaga dirimu di sana..." ujar sang Ratu, karena mengetahui tingkat kecerobohan adiknya. Dia sebenarnya penyayang, dia tidak ingin memberikan pekerjaan pengawas ini pada adiknya. Akan tetapi adik yang sangat dia cintai itu selalu memaksakan untuk mengambil tanggung jawab ini.
"Baik, kakak...."
Belle, pergi ke Phon bersama ke tiga penjaga hutan peri yang bernama, Soni, Sila, dan Grek. Tidak membutuhkan waktu lama mereka pun sampai ke Phon.
Phon : Pohon yang di sakralkan di hutan peri, dan memiliki kekuatan magis yang meyeliputinya untuk melindungi hutan peri dari serangan luar. Phon, dapat berbicara dengan peri peri tertentu saja layaknya seorang manusia/peri.
Ilustrasi gambar
Belle, dan mereka pun mulai mendekat ke pintunya yang masih terlihat di selubungi oleh pelindung magis dari harta sakral milik hutan peri yaitu, mutiara starseed. Peri yang dapat keluar masuk dalam pelindung tersebut hanya Ratu Pheesa, Belle, dan penjaga terpilih saja.
"Siapa mereka, putri Belle...? kenapa tidur di sana?" tanya Grek.
"Hati-hati... siapa tahu mereka penyusup dari luar," timbal Soni.
"Mungkin mereka para peri kita," jawaban Belle, polos.
"Jika memang begitu putri, bukankah rakyat peri biasa tidak mampu menembus Phon," balas Sila.
"Kau benar Sila," ucap Soni.
"Benar juga. Jadi, kita harus bagaimana?" jawab Belle, bertanya dengan kebingungan.
"Kita bangunkan mereka, dan bawa mereka untuk di interogasi di istana," balas Sila.
"Tidak... jangan! mereka terlihat lemah, dan kelelahan. Bisa jadi orang baik. Saya percaya dengan kata hati saya," balas Belle yang berhati lembut.
"Tapi...." ucap Sila yang terpotong.
"Sudahlah...percayalah...!! mari masuk dan bangunkan mereka," timbal Belle, ajak ke tiga penjaga tersebut.
"Baik."
Mereka masuk bersamaan. "Tunggu putri... kau jangan mendekat. Biarkan saya yang membangunkan mereka," ucap Sila memandangi Belle.
"Tidak, Sila. Kau tetap di sini. Biarkan saya yang membangunkan mereka," ucap Grek.
"Baiklah, silahkan."
"Hei, kalian...bangun!!!" sahut Grek, menggoyangkan badan Ellgar dan Lobelia.
Membuka mata dan berkata, "siapa kalian...?" seru Ellgar, bertanya dan tengah melindungi Lobelia.
"Harusnya saya yang bertanya ? siapa kalian yang berada di kawasan kami."
"Kawasan...??" tanya Ellgar.
"Ya... ini tempat tinggal para peri hutan," timbal Belle menjawab kebingunganya.
"Oh, begitu. Jadi, bolehkan saya menjelaskan keadaan kami berdua sebelumnya?"
"Boleh..."
"Tapi putri..." balas ke tiga penjaga bersamaan.
"Silahkan," Belle menghiraukan para penjaganya.
"Jadi begini ceritanya...*******" Ellgar, menceritakan semua yang telah terjadi. Akan tetapi mereka tidak mempercayainya bahwa ada manusia seperti yang di katakan Ellgar di dunia ini. Mereka berpikir bahwa, Ellgar tengah berbohong pada Belle.
"Saya percaya kalian," ungkap Belle dengan mudahnya langsung percaya.
"Itu benar, putri..." sambung Soni dan Grek.
"Baiklah... kalau begitu. Bawalah mereka ke ratu Pheesa."
"Putri...!!!!" suara dari ke tiga penjaganya bersamaan. Penekanan intonasinya menunjukan jika mereka sangat tidak setuju. Terlihat mata dari ke tiganya memohon untuk jangan melakukanya.
"Bukankah tadi kalian ingin menginterogasinya ?"
"Ba...baik putri," jawab Sila.
"Baik." Jawab Soni dan Grek.
"Tunggu...!" ujar Lobelia.
"Ada apa?" tanya Belle.
"Tempat apa ini?"
"Sudah saya katakan tadi. Ini adalah hutan para peri."
"Pohon apa ini ?"
"Phon."
"Phon...?" tanya Lobelia.
"Ya, Phon. Pohon yang menjadi pintu dan pelindung kawasan peri. Kami menamainya dengan Phon."
"Kenapa Phon?"
"Karena dia hidup."
" Hidup...? hidup yang seperti apa?"
"Dia juga seperti kita, tapi hanya mampu terlihat untuk seseorang tertentu saja. Seperti ratu dan penasihat kerajaan peri."
"Pelindungnya... sekuat apa?"
"Sangat kuat. Dia pelindung yang dilindungi."
"Pelindung yang dilindungi? maksutnya apa...? balas Lobelia penuh dengan tanda tanya.
"Cukup...!!!" seru Sila.
"Sila, ada apa?" tanya Belle.
"Putri... fokuslah pada tugas awal kita," jawabnya bijak.
"Baiklah..."
Para penjaga saling mengangguk tanda tugas siap di eksekusi atau di selesaikan.
"Jalan...!" teriak Grek, mendorong tubuh Ellgar dan Lobelia.
Mereka berdua berjalan terus menuju ke tempat ratu Pheesa. Ellgar dan Lobelia, tidak mengerti letak dari kesalahan mereka sehingga, di jadikan seperti tawanan yang berjalan dengan ikatan di kedua tangan mereka. Mereka berjalan dengan di tonton oleh seluruh penduduk hutan peri. Mata-mata yang memandangi mereka beragam. Ada yang seperti jijik, takut, sinis dan sebagainya. Mulut mereka saling berbisik ke telinga bergantian satu sama lain, sambung menyambung lalu menatap keempat kaki yang berjalan berlawanan itu. Sayap yang terlihat berbeda dengan yang lain, membuat mereka menjadi sorotan semua orang.
"Lihat...!!! sayap mereka seperti kilauan Phon. Apa yang telah mereka perbuat pada phon? Apa mereka mengambil kekuatan dari Phon?"
"Lihat...! mereka di jadikan tawanan."
Ellgar dan Lobelia, tidak menundukan kepala sama sekali karena, mereka tahu mereka berkata tentang kejujuran, walaupun di abaikan dan di tertawakan.
Bertepatan dengan perjalanan mereka kembali ke kerajaan peri, sang penasihat datang menemui Phon. Penasihat ini bernama Qin perak, berkelamin perempuan, berambut perak, bertubuh putih seperti susu, kedua mata tertutup kain putih, memakai gaun putih, sayapnya rusak sehingga tidak mampu terbang dan hanya mengandalkan kendaraan berupa kumbang serta, memiliki kemampuan melihat masa depan. Qin perak lalu berkata, " wahai Phon... saya datang menemui kau...." yang kemudian angin bertiup kecang juga, adanya pergerakan dari sang Phon.
"Wahai penasihat.... lama tak jumpa kau," jawabnya.
"Apa yang tengah terjadi padamu, Phon?"
"Saya baik baik saja..." jawabnya.
"Bagaimana dengan berita miring itu ?"
"Mereka berkata jujur, tidak ada kebohongan yang keluar dari bibirnya..." jawabnya lagi.
"Jika begitu, istirahatlah kembali Phon..."
"Baik... tapi yang harus kau ketahui, wanita itu dekat dengan Dewa kehidupan. Jagalah dia, namun jangan kau bocorkan statusnya," pesan dari Phon untuk penasihat Qin perak.
"Baik..."