
Lobelia, saat ini sedang menulis surat permintaan maaf pada Ellgar karena, telah mengabaikan dirinya beberapa hari kemarin.
"Dia mengatakan, maafkan saya telah mengabaikan kau beberapa hari lalu. Saya tidak bermaksut begitu, akan tetapi dengan tanggung jawab saya yang sekarang, sangat tidak memungkinkan jika harus berdekatan dengan kau, tolong maklum."
Ellgar, yang membacanya seketika hatinya 'berbunga bunga' dan dia mengajak Lobelia untuk pergi berburu kelinci berdua secara pribadi di hutan melian.
Sahabat Ellgar, saat ini sedang merasakan kehilangan sejak Sera tidak lagi ke tempatnya, dan sibuk menyelesaikan seluruh pekerjaanya.
"Hei, Ellgar! Apa kau mengerti kenapa tiba tiba seorang wanita menjauh?" menepuk pundak, Ellgar.
"Sakit gigi."
"Hah! sakit gigi ternyata dapat membuat seseorang menjauh?"
"Haha...hahaha, kau serius?" timpal Ellgar, mengejeknya.
"Eemm... " angguknya.
"Haha... hahaha... hahaha."
Ketawa dari Ellgar makin keras melihat ekspresi tak berdaya sahabatnya itu.
"Apa kau telah jatuh cinta, beneran?" tanya Ellgar.
"Kalau itu... saya juga tidak tahu. Awalnya hanya rasa kagum saja tapi, makin hari makin berubah menjadi perasaan ingin melindunginya namun, tiba tiba dia menjauh begitu saja," jawabnya.
"Apa kau telah menyigungnya?"
"Tidak," menggelangkan kepala.
"Apa kau telah menyatakanya? seperti.. aku menyukai mu?"
"Kau sedang menyatakan cinta pada saya," tunjuk Phylos bercanda.
"Hahahaha...!" tertawa bersama.
"Saya memang belum mengatakanya karena, tidak ingin melihat dia terluka lagi. Menurut kau, dia kenapa?"
"Wanita memang sulit di mengerti! saya juga tidak tahu, tapi saran saya temui dia di saat senggang, dan beri dia kejutan. Itu akan menenangkanya."
"Ah! mungkinkah karena saya tidak pernah memberinya kejutan."
"Hahahha... kenapa sahabat saya ini saat jatuh cinta menjadi bodoh."
"Hahahhaha... " tertawa bersama.
"Oh, ya! sore ini saya ada janji temu sama putri di hutan melian."
"Lobelia?"
"Hmm... kami akan pergi berburu secara pribadi."
"Oh! Oke."
Elvern, yang sedang membaca di ruang arsip kuil suci melian tiba tiba di temui oleh pengawal bayangan.
"Sebaiknya, pertemuan kalian di berhentikan."
"Kau siapa?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Apa, tuan mu memerintahkan kau untuk membantu saya atau mengancam saya!"
"Lakukan saja!"
"Kau berani?"
Tanpa balasan, tiba tiba pengawal tersebut menghilang.
Ellgar dan Lobelia, yang tengah berburu sedang asik menikmati momen tersebut. Mereka berhasil menangkap 2 ekor kelinci gemuk. Keduanya saling bertatapan.
"Terimakasih," ungkap Lobelia.
Lobelia, kala itu tersadar bahwa dia sangat bahagia akan kehangatan yang di berikan Ellgar.
Di sela beberapa pepohonan Ellgar, menyandarkan tubuh Lobelia ke salah satu pohon besar yang rindang, lalu membelai rambutnya.
"Rambut mu lembut dan indah."
Dengan penuh kelembutan, dia menatap Lobelia dalam-dalam dan semakin intens, seolah olah tengah menyampaikan perasanya.
"Saya mencintai mu."
Lobelia, terkejut dan seketika memerah wajahnya saat mendengar pernyataan cinta dari Ellgar.
"Saya juga..."
"Juga apa?" tuturnya lembut.
"Saya mencintai kau juga."
Keduanya selanjutnya saling menatap dalam, dan mulai mendekat perlahan sampai mereka saling berciuman dengan waktu yang cukup lama.
Saat urusan keduanya telah selesai di hutan melian, mereka memutuskan untuk kembali ke mansion masing masing, berjalan dengan bergandengan tangan.
"Lobelia!!!"
"Guru!!"
Lobelia, tersungkur ke tanah dan memohon ampun pada gurunya, Te Heya.
"Ingin berkata apa!"
Lobelia berdiri dan berkata, "Guru, tolong dengarkan saya. Saya telah lama tinggal di gunung dan mengikuti kau dengan waktu yang lama, saya selalu menuruti setiap perintah yang kau beri. Namun, untuk kali ini ijinkan saya untuk mencintainya guru."
"Kau mengingkari janji mu pada dewa."
Lobelia, terkejut!
"Atas ijin dewa saya berhak memberikan kau hukuman yang setimpal, kau saya beri hukuman tinggal di pafiliun awal, dan kau di asingkan selama 5 bulan," murka Te Heya.
"Guru!"
"Tolong! ampuni dia, saya yang bersalah. silahkan hukum saya dewi," timpal Ellgar, santun.
"Kau! akan saya serahkan pada paman Baron dan kau Lobelia, mulai hari ini kau sudah di perbolehkan tinggal di sana, dan tidak diijinkan meninggalkan tempat tersebut tanpa seijin gurumu."
"Baik."
Malam hari, seperti biasa Grece pergi ke tempat Elvern.
"Mari minum," ajak Grece.
Selang beberapa menit, setelah selesai mempelajari buku kenaikan tingkat spiritual.
"Saya... sudah berjanji pada diri sendiri untuk segera mengatakanya pada kau, Elvern."
"Katakan, jika ingin."
"Saya menyukai mu."
"Fokus lah dengan dirimu," jawabnya.
"Kau belum menjawabnya."
"Apa kau sedang menyatakan cinta?"
"Ya."
"Kau kembalilah! ini sudah malam."
"Tapi... "
"Jangan membantah saya!" menatap tajam.
"Baik."
"Kau! keluarlah."
Di balik pintu di atas altar.
"Kau lagi, wanita jadi jadian!" seru Elvern.
"Saya kesini hanya ingin tahu, apa yang telah kau perbuat padanya."
"Saya tidak peduli tentangnya, tapi dia telah membuat Lobelia dalam masalah besar."
"Oh, jadi dia sudah bertindak lebih cepat dari perkiraan."
"Krena kecerobohanya dia mengundang pertikaian ini."
Dalam waktu yang bersamaan.
Grece sedang berjalan menuju pafiliun bangau emas, saat ini dia masih berjalan tidak jauh jaraknya dari kuil suci melian.
"Sudah mau pulang?"
"Guru!"
"Ya."
"Kau telah kembali?"
"Ya."
"Sejak kapan kau kembali, guru? maafkan murid mu atas ketidak tahuanya."
"Sejak..."
"Sejak?"
"Kau menemuinya setiap saat!"
Grece, mengambil posisi sujud dan berkata, " guru mohon ampuni saya, saya hanya ingin berbagi ilmu denganya. Saya hanya ingin menambah wawasan saya."
"Jika itu maumu! kau dapat tinggal di vihara bawah jadi, tidak perlu ke kuil suci dan meminum teh hijau setiap malam di altar."
"Guru... "
"Apa yang ingin kau katakan."
"Saya... "
"Katakan! saya tidak akan melarang siapapun untuk saling mencinta kecuali, denganya."
Grece, terdiam!
"Ungkapkan semuanya pada gurumu ini."
Tubuh Grece, bergetar!
"Guru, saya siap untuk tidak menemuinya lagi, dan menjadi biksu di vihara bawah."
"Jika itu benar, lakukanlah dengan tulus. Kau dapat kembali dan melakukan tugas selanjutnya di vihara."
"Ba...baik."
"Jangan lupa untuk persiapan kenaikan tingkat, besok."
"Baik, guru."
"Jadi, kau telah mengetahui jika dia telah sampai?" tanya Lysandra.
"Iya. Apa kau lupa jika saya sudah terikat kontrak darah denganya. Saya dapat merasakan kedatanganya, Illios."
Begitulah panggilan Lysandra yang sebenarnya. Dia memiliki nama Illios, keduanya sudah saling mengenal sejak kejadian 1 tahun yang lalu.
"Apakah sedang diadakan pertemuan keluarga?" sahut Te Heya, bertanya.
"Dewi! salam hormat kami." Jawaban keduanya, membungkuk.
"Mari kita berbincang sebentar, sepertinya sudah lama tidak melihat kalian berdua yang cukup akrab."
Menjawab bersamaan, "baik."
"Tidak ada yang dapat berbohong, kalian sudah saya perintahkan secara diam diam untuk menjaga gunung dengan tugas masing masing. Kenapa, masih ada yang terlewatkan."
"Gunung saat ini masih baik baik saja, dewi." Ungkap Elvern.
"Jika memang benar seperti itu, kenapa masih ada orang yang ingin membuat kerusakan dengan cara yang menjijikan. Bukankah kalian sudah tahu jawabanya, tapi kenapa masih tidak berbicara dengan saya. Kalian juga sudah tahu kenapa saya bisa kembali begitu cepat."
"Dewi, kami tidak bermaksut seperti itu. Kami hanya tidak ingin mengganggu fokus anda pada pelatihan saat ini," balasan dari Illios.
"Kami sudah melakukan sesuai dengan rencana mu dewi." Ujar Elvern.
"Ya, dia sudah melakukanya. Itu semua sesuai dengan dugaan kita. Untuk meyakinkanya, saya telah menghukum dua murid saya, selanjutnya untuk kalian lakukan apa yang harus kalian lakukan. Diam, dan lihat apa yang akan terjadi berikutnya."
"Baik."
"Baik."
"Oh, satu lagi. Terimakasih Elvern, kau telah meyakinkan saya bahwa Grece adalah murid yang setia."
"Sama-sama dewi," jawabnya membungkuk.
"Dan untuk kau Illios, kau tidak perlu khawatir dengan Lobelia, dia tidak akan saya hukum berat. Dia saat ini sedang menempati posisi yang sama dengan Liona. Untuk selanjutnya, itu sesuai dengan keputusanya sendiri."
"Baik, dewi."
"Saya mengerti perasaan kau karena, kaulah yang telah merawatnya sejak kecil hingga akhirnya dia saya asuh sendiri. Tapi, kali ini biarkan dia berjalan sesuai kemaunya."
"I... iya dewi."
Keesokan harinya, di arena spiritual para murid dari berbagai pafiliun bersiap untuk kenaikan tingkat spiritual.
Liona, dengan bangga keluar dari pafiliun awan. Dia berkata pada banyak orang di sana bahwa, saat ini Lobelia sedang di asingkan selama 5 bulan. Gosip tersebut menyebar hingga terdengar ke telinga Grece.
"Kau lagi Liona, semua kacau semenjak kau datang ke pafiliun bangau emas," gumamnya.
Grece, ingat bahwa saat di arena spiritual nanti dia akan melawan Liona.
Grece, saat ini tengah mempersiapkan segalanya.
"Oh, kita bertemu kembali." Sapa Liona, ketus.
"Hmm...!! saya hari ini sangat percaya diri karena, hanya melawan seorang 'omong besar' saja."
"Kau!!! aa... bukankah saya harus merayakanya atas terpilihnya biksu baru di vihara." Seringai Liona.
"Lebih baik seperti itu, karena saya manusia yang bertanggung jawab."
Te Heya, memperhatikan keduanya dari kejauan. Di sampingnya duduk, ada beberapa ketua pafiliun mansion atas salah satunya Agaphi.
"Saya mohon maaf atas kelalaian saya," serunya.
"Kelalaian yang mana?" tanya Te Heya.
"Kelalaian atas didikan saya kepada Liona waktu lalu, hingga dia di asingkan. Saat ini dia sudah keluar atas ijin kau dewi, terimakasih."
Te Heya, hanya diam dan membalasnya dengan tersenyum.
"Gooooong..... "
Kenaikan tingkat, dimulai.
"Kau menyerahlah, saya telah mencapai 2 tingkat di atas mu." Sahut Liona.
"Jangan bangga dulu! majulah."
Mereka memulainya.
Grece, selama ini telah di ajarkan beberapa ilmu beladiri dan ilmu spiritual oleh Elvern, hingga dia mencapai tingkat manusia suci tahap awal dan mulai mengejar ketertinggalanya. Dia juga di ajarkan oleh Elvern, cara menutup tingkat aura spiritualnya agar, orang lain tidak mampu membaca kekuatanya saat ini.
"Uhuk... uhuk... tidak mungkin jelas jelas kemampuan saya lebih tinggi darinya. Uhuk...!"
"Mana cakap besar kau yang tadi," balas Grece.
"Tidak ada jalan lain, saya harus mengeluarkan kartu truf saya."
"Ini, ini bukankah ilmu yang pernah saya baca di buku kuil suci melian. Aura yang mencekik, serta kuat ini, tapi bercampur dengan emosi negatif dari pemiliknya. Tidak salah lagi ini, ini adalah cemeti kegelapan."
Suasana sekitar menjadi tidak karuan karena pengaruh dari cemeti kegelapan.
"Kau mengajarinya?" tanya Te Heya.
"Tidak! tidak sama sekali, dewi."