
Lin Wang, sebutanya untuk saat ini dengan menggunakan identitas barunya, dia dapat memasuki wilayah kerjaan timur kembali.
"Kalian ini apa ?"
"Kami...??? kami makhluk hidup sama seperti kau."
"Aku...? oh, perkenalakan saya Lin Wang."
"Saya Lobelia dan ini Ellgar."
"Kalian peri," tanyanya.
"Ya, seperti yang kau lihat!"
"Kenapa ada peri di sekitar sini?"
"Nanti akan kami ceritakan semua dan tujuan kami kemari. Saya ingin bertanya pada kau, mengapa kau di perlakukan dengan kasar ??"
"Itu..?! Aku adalah anggota keluarga kerajaan yang masih tersisa hingga saat ini dari kejadian pertempuran di masa lalu. Aku telah mengganti identitas ku. Hanya saja tadi saat orang-orang mengolok olok kakak ku, aku marah dan para prajurit yang mendengar pun tak terima hingga memukuli ku. Hal seperti itu di sini sudah biasa terjadi."
"Apakah pertempuran itu karena Apollodorus?"
"Kau mengenalnya?"
"Tidak! kami hanya mengetahuinya saja."
"Ya, itu ulahnya. Tidak hanya itu, awalnya bermula dari pencarian ular naga Ecidna. Kemudian, musuh menyerang kerajaan timur ini. Mereka di bantu oleh kerajaan barat daya yaitu sang penguasa Apollodorus. Seluruh keluarga kerajaan di bumi hanguskan termasuk yang membantunya."
"Siapa?"
"Murid-murid Gunung Ze Hera."
"Kau dulu siapa?"
"Aku adik dari suami sang Ratu yaitu, Raja Yin Guanxin dari Timur Laut. Namaku Yin Guanhao."
"Lalu ...? apakah kau di sini sendiri??"
"Tidak !! Aku ada bersama yang lain. Para utusan kerajaan timur laut telah di bagi menyeluruh di kota ini. Kami menyamar selama 3 tahun hingga saat ini dan tak dapat di ketahui siapapun. Kami ingin memgambil peta segel giok Phoenix di kerajaan ini dan mencari sang putri. Bagaimana dengan kalian?"
"Kami dari kerajaan Hutan peri ingin mencari tahu tentang Ecidna dan penguasa Apollodorus. Kabarnya dia sedang singgah di sini."
"Itu benar. Tapi, dia hanya beberapa hari saja. 2 hari yang lalu dia telah pergi lagi.''
***
Setelah lama pencarian dalam beberapa hari.
"Saya tidak menemukan Liona pun Lobelia. Ya,bagaimana bisa menemukanya jika dia menjadi makhluk sekecil itu." Ucap Te Heya yang masih memantau di atas awan.
Te Heya, kemudian turun dan memutuskan untuk melanjutkan dengan berjalan ke depan dan.. "Berhenti...!!" terian lelaki tinggi besar.
"Siapa kau?!"
"Aku Apollodorus."
"Oh! itu kau rupanya," ucap Te Heya.
"Kau mengenalku?"
"Huh...!! saya tak punya waktu untuk hal itu." Te Heya berbalik arah.
"Ecidna,"seru Apollodorus.
Ecidna, merespon tuanya yang kemudian melilitkan tubuhnya ke badan Te Heya. Namun, dia merasa ke panasan hanya dengan tatapan mata Te Heya.
"Kau kenapa?"
"Saya tak bisa sendiri. Tatapanya sungguh mematikan."
"Apa?!"
Saat Apollodorus akan berbalik menyerangnya, Te Heya telah menghilang dari hadapanya.
***
Lysandra, yang akan menyusul Te Heya di gagalkan ileh Agaphi dan Xin. Awalnya dia sempat memberontak, namun berhasil di tenangkan oleh keduanya.
"Duduklah..."
"Sebenarnya semua ini apa paman?" tanya Phylos
''Baik, paman."
***
Bertepatan dengan baron bercerita, Apollodorus masih kejar-kejaran dengan Te Heya begitu pula dengan Ellgar dan Lobelia yang masih mendengarkan cerita dari Yin GuanHao.
"Lalu bagaimana Ecidna?"
"Sebenarnya dulu ada rumor bahwa dia menyakiti seorang anak kecil hanya saja sebelum kematian Ratu, saya mendengar percakapan keduanya bahwa, itu semua tidak benar dan Ratu telah salah paham pada teman kecilnya."
"Ya, itu yang ku dengar. Ratu tak mempercayai teman kecilnya itu.''
"Berati mereka saling kenal?"
"Ya. Lalu Ecidna membawa putri Ratu Huan Shanguang bersama Liontin naganya yang sempat di berikan padanya."
"Liontin naga?"
"Ya, benar. Liontin itu berwarna merah tua. Jika dia di dekatkan dengan Ecidna akan berubah warna menjadi merah delima. Saat ini misi kami adalah mencari tahu tentang penerus ratu yang masih hidup dengan mengambil alih segel giok phoenix. Dan yang membuat kami semua makin terkejut saat melihat Ecidna yang malah menjadi kaki tangan Apollodorus itu sendiri."
"Sebelumnya kami ingin memperlihatkan sebuah benda pada mu tuan Lin wang. Apakah kau masih mengenalinya atau tidak?!"
"Apa?"
Lobelia, menyodorkan liontin merah milik Ellgar kepadanya.
"Ini...!!!"
"Kau mengenalinya?"
"Ini milik Ecidna! bagaimana bisa!"
"Ini bersama ku sejak aku kecil," ucap Ellgar.
''Apa mungkin ada liontin yang sama di dunia ini?"
"Tidak. Ucapan mu benar. Liontin ini saat di drkat Ecidna memiliki reaksi sendiri dan warnanya pun berubah menjadi semerah delima."
"Apa?!"
"Itulah sebabnya kami kemari."
"Tapi kau seorang peri laki laki bukan anak manusia. Putri kami seorang manusia berasal dari perkawinan sesama manusia."
Lin Wang, sebutan untuk penyamaran selama bertahun tahun begitu kaget saat melihat liontin naganya sekarang berada tepat di depan matanya. Hanya saja dia dinkagetkan oleh pemilik barunya, dia tak mengerti mengapa bisa liontin tersebut berada di tangan peri laki-laki.
***
"Paman ingin bercerita tentang kau dan Ellgar."
"Ya,Paman."
"Dulu..." Baron, berpikir sejenak untuk merangkai kata agar Phylos tidak terkejut lalu di sambung kembali olehnya... "dulu Ellgar ku beri obat penghilang ingatan."
"Apa?! apa yang paman lakukan."
"Tunggu...! dengarkan paman. Itu hanya berlaku pada Ellgar tidak dengan kau, Phylos."
"Tapi sama saja paman. Mengapa?"
"Saya kan melanjutkan cerita tapi kamu tolong tenanglah.."
"Huuft... baik. Saya siap."
" Ellgar, dulu saya adopsi di wilayah perbatasan Timur Barat Daya dimana dia tinggal bersama. Ibunya telah mati karena penyakit kala itu aku mengambilnya saat dia melihat langsung kepala ayahnya dipenggal oleh sekelompok perompak yang bernama perompak lembu."
"Itulah mengapa Paman memberinya obat peghilang Ingatan?"
"Ya. Saya ingin semua disini hidup damai tanpa rasa dendam di saat saya membawa Ellgar, saya juga menemukanmu yang tengah kelaparan sehingga kalian berdua ku bawa tinggal disini di Gunung Suci Melian."
( Lihat cerita selengkapnya tentang pengambilan elgar dan pilos di episode 5 )
"Paman kemarin saya tanpa sengaja menguping pembicaraan Paman dengan Te Heya lalu sekarang mansion atas tengah sedih karena dia pergi."
"Kau ingin mengetahui tentangnya?"
"Ya, Paman."
"Baiklah dengarkan kisah hidupnya saat dia masih kecil."