
"Segini pasti sudah cukup untuk Lobelia. Sekalian bawa buah juga kalau begitu." Tutur Ellgar pada diri sendiri.
Setelah sampai di tempat dia melihat Lobelia yang duduk di tanah, dengan tatapan kosong.
"Lobelia, kau kenapa?" tanya Ellgar.
"Tidak ada, apa airnya ada ?" balas Lobelia.
"Ini, minumlah... pelan pelan."
"Kita harus segera melanjutkan perjalanan, dan mencari tempat teraman." Kata Lobelia.
"Katakan! apa yang terjadi."
"Saya bertemu dengan Apollodorus, sang penguasa wilayah Thebes. Dia adalah, raja penerus kerajaan Thebes. Raja pertama Thebes kala itu mati di tangan Morpha, saat ini kita menyebutnya dengan sebutan dewa kehidupan. Dia adalah, musuh dari gunung melian. Tetua pafiliun venus pernah berkata, jangan pernah pergi ke arah barat daya. Namun, saya lalai dan melupakan pesan tersebut."
"Lalu, apa lagi?" sambung Ellgar, bertanya lagi.
"Dia tidak dapat di lukai. Saya telah mencobanya berulang kali, tapi percuma saja. Lukanya dapat sembuh seketika saat tergores benda tajam."
''Baiklah...Kau harus tetap tenang, jangan mudah goyah. Masih ada saya di sini, suka duka kita bersama juga, waktu kita tidak banyak. Mari bergegas..!" Ajak Ellgar, menenangkan Lobelia.
"Ya..."
.
.
.
Pasukan Dhasos yang datang ke Gunung Melian. (Beberapa kelompok yang bertemu dengan Ellgar di hutan)
"Dewi, semua telah di persiapkan sesuai perintah." Ujar Elvern.
"Kau, kembalilah di kuil suci, dan Lysandra tetap di pafiliun kehijauan. Lakukan pekerjaan terbaik mu. Tutup gunung dengan kabut putih, pastikan mansion bawah tak terlihat. Selanjutnya, kepala pelayan hubungi para tetua mansion untuk segera datang di aula utama."
"Baik." Jawab mereka bersamaan.
Selang beberapa menit kemudian, semua telah bersiap di tempat duduknya masing-masing. Semua telah sesuai dengan perencanaan dari Te Heya. Para murid mansion atas telah mengamankan orang orang dari mansion bawah.
"Untuk semuanya, kali ini akan ada sedikit kericuhan sejenak di gerbang utama. Saya hanya ingin kalian tetap waspada menjaga gerbang pafiliun kalian masing masing, dan untuk tetua pafiliun venus juga bintang, mohon bantuanya untuk turun ke gerbang utama. Kalian saya tugaskan untuk mengawasi jalanya pertempuran serta, mengatur strategi bertempur para prajurit kita. Saat ini di bawah pimpinan saya kalian berdua, saya perintahkan untuk menjadi jendral dalam medan pertempuran baik saat ini dan kedepanya."
"Siap, dewi. Kami akan menjalankan sesuai perintah."
"Utus murid tertua kalian untuk menjaga gerbang pafiliun bintang, dan venus, saat kalian pergi nanti."
"Baik." Jawab bersamaan.
Mereka bergegas kembali ke tempat masing masing sesuai perintah dari Te Heya.
(Xin, adalah seorang wanita yang menjadi tetua di pafiliun bintang)
"Lama tidak berjumpa, Xin." Seru Agaphi.
"Ya. Kau juga Agaphi, bagaimana kabar kau?" tanya Xin.
"Seperti yang kau liat."
"Hmm...mari, bekerja sama kedepanya dengan baik."
"Iya..." balas Xin.
Gerbang utama memang sengaja Te Heya tutup begitu saja, tanpa di beri kekuatan magis di dalamnya. Agar tidak membuat mereka curiga tentang persiapan ini.
"Kepaakkk .....Kepaak...."
Suara berhamburan angin bertiup kencang yang tercampur dengan material kecil yang bertebaran, beradu dengan suara burung yang terbang menjauh.
"Ternyata memang benar, tempat ini sudah tak terurus. Sepi sekali tidak ada sambutan," ujar dari sang pemimpinya.
Mereka semua adalah, segerombolan kelompok besar yang merekrut banyak laki laki untuk di jadikan pasukan. Kemudian, berencana mengambil alih gunung suci melian agar dapat mencari sumber dari kekuatan gunung ini. Mereka menamai kelompoknya dengan sebutan Dhasos. Pemimpin dhasos mereka adalah, spiritualis tingkat 2 yang tergila gila dengan kehidupan abadi.
"Hei..! kalian siapa?" tanya salah satu prajurit pilihan dari melian.
"Hoho...ternyata masih berpenghuni," melihat sekeliling, dan mengamati.
Sesuai dengan aba-aba, " Seraaang....!!!"
"Hiyaaa...." suara prajurit dhasos.
"Hiyaaa...." suara prajurit melian.
Pertempuran antara keduanya di mulai.
Suasana menegangkan itu berlalu cukup lama. Para murid melian memang tidak cukup banyak, tapi mereka semua cukup mampu untuk memukul mundur lawan.
Agaphi juga Xin, memperhatikan dari menara untuk mengawasi jalanya pertempuran.
"Trraang traang triing.... sriiing." Suara pedang yang saling beradu.
Dirasa mereka bertambah banyak, dan semakin memenuhi gerbang utama, Xin mulai memberikan aba-aba untuk mengatur strategi ke 2. Di dalam strategi ini kemampuan bertelepati di aktifkan.
Membentuk barisan, merapal mantra yang kemudian diikuti dengan keluarnya kabut hitam tebal sehingga, menutupi pandangan musuh.
Sang pemimpin dhasos yang melihat hal itu kemudian, membantu pasukanya dengan kekuatan magis miliknya yang kemudian di transfer kepada pasukan elit pilihanya sendiri. Efek dari kekuatanya membuat pasukanya meniru gerakan tubuhnya, termasuk dalam merapal mantra. Hal itu pun langsung di gagalkan oleh Agaphi, dan Xin. Mereka turun langsung ke dalam pertempuran dan menemui pemimpin tersebut.
"Kau yakin akan melawan kami?" tegas Agaphi.
"Jadi, tempat ini benar benar masih berpenghuni," balasnya mengalihkan pembicaraan.
"Kau lihat sendiri. Orang orang mu telah gugur banyak. Apa kau yakin ingin maju, dan mencoba mengambil alih Gunung ini." Sambung Xin, dengan ketus.
"Jumblah kami lebih banyak dari kalian."
"Tapi kekuatan kami lebih banyak dari kalian," balas Xin.
"Saya mampu membuat kekuatan kami sepadan dengan kalian."
"Kau yakin?" tanya Agaphi.
"Ya! sangat yakin sekali." Balas pemimpin dhasos dengan percaya diri.
"Tempat yang kalian semua pijak saat ini adalah pertahanan kami." Ujar Agaphi.
"Majulah kalian semua! Jangan takut, saya akan membantu. Buat formasi bintang."
Teriak dari pemimpin dhasos mengatur kelompok pasukan elitnya, yang kemudian mengaktifkan hewan spiritual tingkat 9 yang begitu besar, yaitu serigala berkepala 5.
"Majulah! habisi mereka semua." Seruan lantang dari pemimpin dhasos.
Xin dan Agaphi membagi tugas, Agaphi melawan Sang pemimpin, dan Xin melawan serigala kepala 5. Dan juga pasukan yang lain masih bertarung dengan pasukan dhasos.
"Cuman makhluk beginian, tidak ada yang susah bagi Xin."
"Hiyaaa...."
Dum...Dum...Blaar Blaaar...
Trang trang sriiing....swooosh
"Raaaarrrrhhh....." Gretakan dari serigala itu.
Xin, menggunakan kekuatan spiritualnya yang akhirnya mampu memotong 1 kepala dari serigala tersebut. Saat Xin mulai mengamati serigala itu, mereka ternyata mulai kehilangan keseimbangan karena, Agaphi pun telah melukai pemimpin dhasos.
"Lysandra...Lysandra..." Xin, menyebut nama Lysandra menggunakan telepatinya.
"Perlu bantuan yang bagaimana?" tanyanya.
"Serigala ini sepertinya menggunakan kemampuan di bagian indra penciuman, dia tidak mampu melihat. Saya juga telah memotong satu kepala dari mereka, yang membuat mereka kehilangan keseimbangan."
"Baiklah, saya akan menggunakan tanaman obat spiritual untuk menghambat penciuman mereka. Paling lama hanya 2 menit saja, bagaimana?"
"Itu sudah lebih dari cukup."
Xin melanjutkan aksinya, begitu juga dengan Agaphi. Karena, Xin telah mengetahui kelemahan dari pemimpin dhasos, dia bertukar posisi dengan Agaphi.
(Xin, Terbang, mendarat, lalu beradu badan bagian belakang dengan Agaphi. Berlawanan arah, bertukar posisi.)
Te Heya, masih mengawasi jalanya pertempuran itu. Dia percaya pada semua bahwa, dengan di pimpinya oleh mereka hasilnya akan sangat baik karena, keduanya pandai mengambil strategi juga kompak.