
Te Heya, yang telah tersadar dari tidurnya segera memulihkan diri kembali. Grece, yang tengah mengambil sebaskom air hangat terkejut saat gurunya telah menghilang dari tempat tidurnya. Grece telah mencarinya, namun tak kunjung bertemu dengan Te Heya, sampai akhirnya dia bertemu dengan pelayan Lysandra di luar pafiliun.
"Tunggu, kau mau kemana? kau dari pafilun kehijauan ? benar bukan ?"
"Iya. Saya akan menuju para prajurit untuk membantu yang lain di sana."
"Apa kau melihat Dewi kebijaksanaan di pafiliun mu ? mungkin untuk mengambil sebuah obat."
"Tidak ! pafiliun kami di kosongkan oleh nona Lysandra."
"Oh, baiklah."
"Apa kau mencari Dewi Te Heya?"
"Iya"
"Bagaimana jika kau ikut dengan ku. Siapa tau dia ada di sana."
"Ya, kau benar juga."
"Mari..."
"Ya"
Tempat medis para prajurit telah di penuhi orang untuk membantu para korban keracunan kemarin. Diperkirakaan mereka hampir sembuh total. Lysandra, masih tetap menganalisa makanan di dapur satu persatu untuk memastikan bahwa semua makanan baik mansion atas atau bawah sudah terbebas dari racun tersebut sembari menunggu tanaman obat dari Phylos. Sesampainya Grece, di tempat medis prajurit tepatnya di sekitar wilayah mansion bawah yang di penuhi dengan pepohonan berbeda dengan tempat prajurit inti atau para prajurit elit tempatnya lebih dominan di mansion atas yang di penuhi awan-awan kecil. Namun, masih cukup berdekatan dengan mansion bawah hanya saja mereka di sana di bekali hewan spiritual dan senjata sedangkan prajurit cadangan dari mansion bawah hanya berbekal senjata saja. Grece bertemu kembali dengan Elvern, Sera, Paman Baron, Paman Xirius, Bibi Wani, Bibi Anh, Jendral Agaphi, Jendral Xin, dan yang lainya.
"Guru," seru Grece.
"Grece ! maksut ku Biksuni. Mengapa kau di sini?" ucap Te Heya.
"Saya mengkawatirkan kau."
"Bagaimana dengan kuil bawah? lebih baik segeralah kembali."
"Jika saya harus kembali, maka sudah seharusnya Si putih juga sebaiknya kembali ke altar kuil suci."
"Elvern, kembalilah. Jika kau telah selesai urusan yang ada di sini."
"Baik, Dewi. Saya mohon pamit," ucapnya membungkuk.
"Ya"
"Dan kau juga Grece, kembalilah."
"Baik, Dewi."
****
"Paman Baron, saya ada keperluan dengan mu sebentar. Bisa kau luangkan waktu mu pada saya?"
"Iya, bisa Dewi. Mari..."
Keduanya duduk di pintu belakang yang menuju arah hutan Melian menghadap sungai sungai kecil.
"Saya hanya ingin berbicara dengan kau. Kau cukup mendengarkan saja lalu jika suatu hari kau perlu berucap maka ucapkanlah pada penerus selanjutnya."
Baron, tidak mengerti sama sekali yang di maksut oleh Te Heya dan mulai mendengarkanya.
"Saya mendidiknya hingga dewasa dari kecil dia selalu bersamaku setelah di tinggalkan di depan pintu pafiliun. Lysandra dan saya senantiasa bersamanya suka duka, memberinya pendidikan dan hal-hal baru. Dia memang terlahir menjadi sosok yang cantik, berani, keras kepala namun bertalenta. Saya tahu tentang kemampuanya sebagai alkemis namun saya dan Lysandra sengaja tak memberitahunya pengetahuan tentang alkemis itu sendiri. Sampai akhirnya saya tahu bahwa dia telah mahir dalam pengobatan di tambah lagi dia mahir meracik racun. Saya dan Lysandra selalu mengajarinya bagaimana cara untuk tetap mengasihi satu dengan yang lain. Menjadikan kemampuanya sebagai pertolongan dan menggunakan bakatnya untuk kebaikan kepada seluruh makhluk. Sampai akhirnya, gadis kecil itu itu tumbuh dewasa dan dapat menggunakan bakat dan kemampuanya untuk hal baik. Namun, sifat keras kepalanya sulit untuk di mengerti, dia begitu misterius hingga saya yang telah lama mengenalnya tak mengerti lagi dengan pola pikirnya. Siapa yang tau? setiap malam saya harus kesakitan karena merindu dan siapa yang tau? jika dia pergi bukan untuk seorang saja namun, untuk satu penduduk."
"Maksut, Dewi?"
"Paman, janganlah berpura pura lagi. Ceritakan yang sebenarnya tentang misi Lobelia dan si pandai besi itu. Apa yang membuat mereka nekat turun gunung?"
"Sa.. saya"
"Paman, apa kau tau mereka tengah dalam keadaan bahaya. Mereka sedang dalam kejaran penguasa barat daya, Apollodorus. Jangan bilang kau tidak mengenalnya paman. Di tambah lagi dengan Liona yang memiliki dendam mendalam dengan Lobelia. Kini dia pun pergi menghilang untuk mencari mereka. Sungguh keji dirinya yang telah membununh rakyat Dewa kehidupan, para penjaga penjara bawah telah di bunuh olehnya sebanyak 7 orang."
"Dewi. Dewi, maafkan saya. Saya pantas di hukum karena telah bungkam," ucap Baron yang langsung sujud di hadapanya.
Tanpa sepengetahuan mereka, Phlylos yang telah selesai mencari tanaman obat pun mengetahui hal itu dan menguping pembicaraan mereka.
"Tidak apa paman, bangunlah..."
"Terimakasih, Dewi..."
"Katakan apa rencana mereka?"
"Iya, baiklah Dewi. Awalnya Lobelia berniat membongkar masa lalu gunung Melian, kemudian dia mengetahui tentang cerita Apollodorus dan Dewa Kehidupan, Morpha. Lalu dia berniat sendirian turun gunung namun Ellgar melarangnya. Mereka telah lama surat menyurat dan Ellgar memberitahunya pada saya isi surat tersebut Dewi. Lobelia, rasa dirinya punya cerita lalu sebelum berada di tempat ini. Lobelia, menyukai kebebasan dia tak menyukai hal-hal yang di penuhi dengan ketidakadilan dan menilai manusia dari kehebatan atau status. Di tambah lagi dia bepikir jika Apollodorus, pasti dia akan membalas Morpha kapan saja saat semua lengah. Sehingga, dia berniat untuk menyelidiki lebih lanjut tentang hal ini. Mereka berdua turun gunung bukan semata mata untuk menjalin romansa saja Dewi, melainkan sebagai pencari informasi untuk keamanan dan keselamatan seluruh penduduk gunung Melian. Lobelia pernah berkata, kekuatan dan kemampuanya akan di gunakan untuk mereka yang dia cintai, yaitu Gunung Suci Melian karena di benua ini hanya tersisa 1 gunung yang belum tertaklukan yaitu Melian."
"Jadi, dia telah berpikir sedalam itu selama ini. Aku yang salah telah menilainya. Saya pikir karena sifatnya yang dangkal dan tidak menentu, dia tak kan sampai ke arah sana paman."
"Iya. Hanya itu yang bisa sampaikan, Dewi. sepertinya cintalah yang menguatkan tekadnya."
"Baiklah, paman. Terimakasih."
"Lalu bagaimana dengan dirimu, Dewi?"
"Seperti yang paman katakan, jika cintalah yang menguatkanya. Maka dari itu karena cinta pula saya akan membawanya kembali."
"Dewi, tunggu! kau akan turun gunung?"
"Iya, saya sudah mempersiapkan semuanya. Hari ini saya kemari hanya ingin berpamitan saja kepada paman. Dan satu hal paman, jika dalam beberapa pekan kedepan saya belum kembali, maka pedang kabut es turunan dari Dewa Morpha ini akan memiliki pemilik baru di masa depan sesuai siapa yang akan dia pilih. Dan pada waktu itu pula mereka juga telah kembali."
"Maksut Dewi, apa?"
"Gambaran tetaplah gambaran, paman."
"Apa kau benar-benar yakin?"
"Ya, saya permisi."
"Tunggu !"
Baron, tak dapat mengejarnya karena Te Heya pergi terbang begitu saja menaiki pedang bawaanya itu.