Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Menempa pedang kebajikan bersama tuan Xirius



Pafiliun bangau emas seperti biasa kegiatanya berlatih setiap harinya, dan lebih mengumpulkan pelatihan spiritual untuk kenaikan tingkat.


Lobelia, mengatakan pada gurunya bahwa, dia tidak akan menyinggungnya lagi tentang mansion bawah pekerja. Lobelia, yang kemarin di hentikan oleh Grece akhirnya menyerah juga, dan tidak ingin mencari tahu tentang mansion bawah.


Te Heya, sebenarnya telah mengetahui mereka sejak akan memasuki pintu masuk mansion bawah menurutnya, biarkan saja mereka mengikuti supaya tidak penasaran lagi.


Tiba waktunya Te Heya untuk berangkat ke nirwana yang akan memulai pelatihanya ke tahap cahaya, dan gunung Melian saat ini di serahkan kepada muridnya yaitu, Lobelia.


"Titip pafiliun dan mansion atas kepada kalian semua." Pinta Te Heya, kepada seluruh tetua guru pafiliun termasuk kepada Lobelia.


"Baik..." jawab mereka.


"Jaga dirimu baik baik di sana," tutur Lobelia.


Te Heya, menjawabnya dengan senyuman dan kemudian pergi meninggalkan gunung suci Melian.


Di tempat Tuan Xirius.


"Teng, ting, dang...dang.. teng..."


Suara pedang yang tengah di tempa Ellgar.


"Apakah ini akan berhasil ?"


Ellgar sedang meragukan diri sendiri.


"Ini akan jadi lebih cepat dari batas waktu yang di tentukan. Kau tempalah dengan baik menggunakan palu 9 kg berulang kali dan bergantian. Saya akan membantu kau dengan kemampuan ku, dan ini baru beberapa hari saja kau sudah mengeluh dan meragukan diri sendiri, tetaplah melanjutkan dengan baik. Kau harus yakin," tegurnya.


"Tapi... apakah mungkin akan berhasil dan sesuai dengan pesanan wanita itu? " tanyanya lagi.


"Kau sedang meragukan siapa?" tanya Xirius yang menatapnya tajam.


"Tidak, bukan seperti itu. Saya hanya ragu dengan kemampuan sendiri."


Ellgar, bingung dengan perasaanya sendiri. Apakah tidak mampu atau takut tidak sesuai.


"Kalau begitu untuk apa kau datang ke tempat ku? Jika kau ragu pada diri sendiri dan tidak ingin melanjutkan maka, berhentilah di sini," balas Xirius.


"Saya tidak akan berhenti, tuan!" seru Ellgar memotongnya.


"Kenapa? "


Tanyanya mendekati Ellgar, yang kemudian duduk tepat di sampingnya lalu mengambil palu yang Ellgar pegang.


"Ini adalah tanggung jawab saya, tuan! " balasnya.


"Kalau memang ini sebuah tanggung jawab, apa dengan keraguan dapat terselesaikan?" tanya Xirius, meyakinkan Ellgar.


"Tidak, tidak tuan! Ini kesalahan saya. Seharusnya saya lebih percaya, dan yakin pada kemampuan sendiri. Apalagi ada tuan juga yang sudah berpengalaman bersedia membantu," ungkapnya.


"Ini bukan kesalahan melainkan kelemahan, kau harus mampu melawan sisi dirimu yang lain, lebih tepatnya ketakutan di dirimu, dan keraguan mu sendiri. Tidak perlu khawatir manusia memang harus saling membantu, percayalah." Ungkap Xirius meyakinkanya lagi.


"Baik, tuan. Saya akan selalu belajar dari mu."


"Satu lagi, ini juga bukan hal tentang yang berpengalaman atau tidak tapi, tentang usaha kita bersama yang semaksimal mungkin. Yakinlah nak, semua hal di dunia ini tidak ada yang dapat di capai dengan mudah, serta tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi seperti pedang yang kau tempa ini."


"Iya, perkataan tuan benar. Kalau begitu saya sangat yakin dapat melakukanya dengan baik, dan lebih bersemangat lagi untuk hasil yang maksimal." Balasan dari Ellgar yang menumbuhkan kepercayaan dirinya.


Di mansion atas.


5 hari berlalu setelah kepergian gurunya ke nirwana, Lobelia kini di berikan tanggung jawab oleh gurunya untuk mengurus mansion atas, dan berinisiatif memesan persenjataan baru sehingga dapat pergi ke mansion bawah.


"Lobelia? " tanya Baron padanya.


"Iya...tuan! saya Lobelia," jawabnya senyum ringan.


"Panggil saja paman Baron," balasnya.


"Baik paman."


Mereka berdua berjalan masuk ke mansion bawah, dan kemudian Lobelia berhenti ke tempat pembuatan pakaian.


"Paman, saya ingin di buatkan pakaian juga, apa boleh pesan?" tanya Lobelia.


"Silahkan, nona Lobelia," jawabnya mempersilahkan.


Selang beberapa menit.


"Paman sudah menerima pesan dari saya kemarin?" tanya Lobelia.


"Iya nona, saya menerimanya. Tetapi, kau sebenarnya tidak perlu sampai mendatangi ku," jawabnya.


"Tidak apa paman, saya juga ingin jalan jalan sebentar." Balas Lobelia, yang sebenarnya masih penasaran dengan mansion bawah para pekerja.


"Mari, kita bertemu dengan seseorang. Dia yang bisa membantu nona. Dia sekarang tengah sibuk menempa pedang yang di pesan, Te Heya."


"Guru ku! untuk apa?" tanya Lobelia ingin tahu.


"Paman juga tidak tahu nona," balasnya. Baron kemudian mengantar Lobelia bertemu dengan Ellgar di tempat Xirius.


"Disini suasananya asik ya Paman," ujarnya.


"Tidak, nona," jawabnya mengelak.


"Semua begitu antusias bekerja, dan saling membantu tidak seperti rumornya."


"Rumor apa!" seru Baron yang memotong ucapan Lobelia.


"Ah... itu tadi hanya salah ucapan paman, maafkan saya." Balasan spontan dari Lobelia.


"Tak apa...memang beginilah kehidupan kami," jawabnya merendah.


Lobelia, selanjutnya hanya membalas dengan tersenyum ringan.


Lobelia, merasa dirinya sangat cocok dengan mansion bawah dari pada di tempatnya karena, disana dirinya hanya tau berlatih saja tanpa belajar hal lainya.


.


.


.


.


.


Novel ini mengalami banyak pembetulan dari hari ke hari karena penulis masih pemula jadi terkesan amatiran.


Penulis harap maklum, semoga pembaca menyukai novel pertama saya ini.


Kasih semangat buat author yak, dengan Like dan komen dari kalian semua ☺🤗