Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Kecurigaan



Ilustrasi Peri Kecil Lobelia dan Ellgar



Lobelia, tengah berjalan sendiri untuk keluar melihat lihat lingkungan di sekitar rumahnya.


Bertepatan dengan itu pula tiba-tiba terdengar suara panggilan, "Heii...Lobelia." Lobelia, menoleh kebelakang, ke kanan dan kekiri. Dia memutarkan badan akan tetapi tidak menemukan sumber dari suara tersebut.


"Lo...be...liii...aaa....." suara nyaring yang terdengar keras kemudian menjauh dan samar samar itu makin mengikutinya. Lobelia, terus mencari suara tersebut dengan membolak balikan badanya lalu berputar putar karena suara tersebut seakan mengikutinya.


"Lobelia!!!!" suara tersebut tiba tepat di depan muka Lobelia saat dia membalikan badan ke arah depan dan, "aaaaak....." suara teriakan dari si peri kecil Lobelia.


"Hihihi...hahahaha." Suara cekikikan.


"Ternyata itu kau!" seru Lobelia. "Kau jahil sekali, Nonnus." Sambungnya lagi, marah.


"Ehem....hahaha. Gitu saja Lobelia, sudah kaget.'' Ujar Nonnus, mengejeknya.


"Kau, minggir!!" Lobelia mengepakan sayapnya yang besar ke tubuh Nonnus.


"Auuu..." suara dari Nonnus. "Hei, hei, hei, kau marah, kau sensitif sekali. Baiklah...baiklah... saya minta maaf."


"Seperti itu terntaya gaya meminta maaf yang terbaru," ujar Lobelia.


"Baiklah... kau memasukanya ke dalam hati. Saya minta maaf."


"Berisikkk...!!!"


"Kau jahat sekali. Saya sudah minta maaf."


Lobelia tidak menanggapi dan berjalan ke arah depan.


"Hei, kau tidak akan mendapat kawan jika memperlakukan saya seperti ini," ancam Nonnus.


Lobelia menoleh dan berkata, "hmmh... tak butuh. Kau sensitif sekali," balasnya mengembalikan perkataan Nonnus.


Nonnus, tetap mengejar agar dapat membujuknya. Sayapnya mengkibas cukup kencang hingga, dia dapat mengejar Lobelia dan menghadang perjalanan Lobelia.


"Kau ada perlu apa? apa perlu sampai seperti itu. Kau pikir saya kumbang," ujar Lobelia, sebal.


"Kau jangan marah lagi, saya benar adanya meminta maaf pada kau, Lobelia."


"Ya. Kau mau apa?"


"Saya ingin bermain dan berbincang dengan mu. Marlos, sedang sibuk di luar. Saya merasa kesepian," ungkapnya memasang ekspresi sedih.


"Ya sudah... ikut di belakang saya," ucap Lobelia.


"Baik. Kau mau kemana, dan ingin apa?"


"Berisik," ucap Lobelia dalam hati dengan memutarkan bola matanya.


"Selain ikut di belakang, apa boleh saya membantu?"


"Ya...ya...! kau boleh membantu. Saya akan mencari tanaman obat."


"Waaah... kau ternyata menyukai tanaman obat juga," tanya Nonnus.


"Juga...???"


"Iya. Marlos juga gemar mengumpulkanya."


"Untuk apa," tanya Lobelia.


"Kau untuk apa," tanya balik Nonnus.


Lobelia mengernyitkan dahi. "Untuk persediaan obat di tempat tinggal saya," jawabnya.


"Ooohh..." balas Nonnus.


"Marlos untuk apa?"


"Entah." Balas Nonnus, mengangkat kedua tanganya.


Lobelia kesal, dia kemudian diam dan melanjutkan mencari tanaman obat.


''Tapi setau saya, Marlos mengumpulkanya untuk ramuan yang dia buat," sambung Nonnus di suasana yang hening.


"Ramuan? apa kau tahu apa itu," tanya Lobelia.


"Tidak."


"Kau yakin?"


"Ya."


"aa.. aa.. ooh.. ini. Saya juga tidak tahu, hanya asal cabut saja tadi," jawab Nonnus.


"O... begitu."


Belle, mendatangi tempat tinggal Lobelia namun, hanya bertemu dengan Ellgar.


"Kemana Lobelia," tanya Belle pada Ellgar.


"Dia tadi keluar sebentar."


"Kau tidak menemaninya?"


"Tadi saya sedang sibuk membenarkan kincir angin di pekarangan samping."


"Jadi begitu. Oh ya, ini ada sedikit makanan dari istana kerajaan peri. Makanlah untuk kalian berdua nanti siang."


"Baiklah...terimakasih."


"Kalo begitu saya kembali dulu, permisi."


"Hati-hati di jalan." Balas Ellgar.


Ilustrasi Putri Belle



Ilustrasi Ratu Pheesa



Ilustrasi Soni,Sila dan Grek



Selang beberapa menit, Sila mengunjungi tempat tinggal mereka dan berkata, "Apa kau sendiri...??" mata itu menatap rajam pada Ellgar.


"Ya, Lobelia tengah berkeliling sebentar."


"Langsung saja. Saya kesini ingin menanyakan sesuatu," ucap Sila menatap tajam seperti mata elang.


"Apa," tanya Ellgar menatap dingin bak beruang kutup.


"Apa kau tahu sumber kekuatan dari peri hutan."


"Apa...?" bibir itu menjawab, dan kedua mata itu memastikan lalu kembali menjawab, "terlihat jelas itu sayap." Ungkap tegas Ellgar.


"Baik, terimakasih."


Karena Sila telah mendapat jawabanya, dia tidak melanjutkan lagi dan pergi meninggalkan rumah Ellgar.


"Baiklah...sepertinya mereka tidak tahu tentang Mutiara Starseed," gumam Sila di tengah perjalananya.


"Kau kenapa Sila," sahut Belle menepuk pundak Sila.


"Putri... saya tidak apa-apa. Apa kau tahu tentang isi prediksi dari Qin Perak," tanya Sila.


"Ya, ini saya tengah menyelidikinya."


"Apa yang putri maksut?"


"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kedua peri yang baru tinggal itu," jawabnya.


"Iya, saya juga setuju."


"Kau setuju? apa kau baru dari tempatnya," tanya Belle.


"Iya putri. Dan dia hanya berkata bahwa sumber kekuatan dari para peri adalah sayap."


"Ehe he he he..." tawa kecil dari Belle.


"Kenapa putri," tanya Sila.


"Tidak... tidak apa. Ternyata mereka menggunakan kata-kata saya, polos sekali."


"Haah... kata-kata? kata yang bagaimana, putri."


"Tidak...tidak ada. Sudahlah, sudah... mari kembali ke kerajaan. Kita sudah di tunggu sama kakak..." ucap Belle.


"Baik, putri."


Ilustrasi Qin Perak