Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Kompas Tua Penunjuk Arah



Lobelia, terus menggunakan kompas pemberian dari Ratu Pheesa. Kompas ini terbuat dari kayu yang di pahat langsung oleh para peri pekerja dan pembuatanya menggunakan tubuh dari sang Phon sehingga dia dapat membuka kejadian lalu saat tersentuh oleh kulit.


"Apa masih jauh," tanya Ellgar.


"Iya, masih jauh. Kita harus jalan terus jangan sampai lengah. Aku yakin kita hampir sampai."


"Ya"


Kedua peri itu mengandalkan kekuatan dari sayapnya yang mengepak terus menerus. Namun di pertengahan jalan lagi-lagi mendapatkan sebuah hambatan yaitu mereka kedatangan si katak merah yang bertubuh besar dan segera akan menyantap mereka. Alhasil kedua peri dengan katak tersebut saling berkejar kejaran.


"Kita harus berpencar," ucap Ellgar dengan keras.


"Tapi bagaimana kita dapat bertemu lagi?"


Ellgar melihat sekeliling... "Di depan! di pohon besar itu. Keatas !" teriak Ellgar segera mengalihkan katak dengan terbang begitu kencang kesana kemari mengitari rerumputan tinggi. Saat dia terbang menuju arah pohon besar dan akan menghampiri Lobelia di puncak pohon itu, Ellgar kaki kirinya terkena juluran lidah dari katak merah sehingga membuatnya berpegangan ranting pohon yang cukup kuat untuk menahan tarikan dari katak merah. Ellgar, ingat dia masih membawa pisau dapur dari rumahnya hanya saja itu cuman membuat sedikit goresan di lidah katak yang mana, hal tersebut semakin membuat katak merah geram.


Lobelia, yang sedang melihatnya dari kejauhan berusaha mencari sesuatu namun dengan tubuhnya yang sekecil dia tidak mampu memindahkan batu besar dengan jarak sejauh itu. Sampai akhirnya dia ingat bahwa Sila yang memberi Ellgar sebuah kantong keberuntungan yang tengah di pegangnya dia buka di tas kecilnya. Lobelia, mencoba melihat ke dalamnya yang ternyata berupa serbuk.


"Saya tidak tahu ini apa? tapi bau cabai begitu menyengat. Lebih baik ku coba saja."


Lobelia, melaju begitu kencang ke arah Ellgar dan berteriak... "Sayang, pejamkan matamu dalam hitungan ke tiga." Lobelia, makin mempercepat lajunya dan saat mulai mendekat..., "Tiga !" ucapnya dengan keras.


Ellgar, dengan cepat meresponya dan segera menutup mata. Katak itu mulai merasakan sensasi tak nyaman dan kemudian matanya tidak dapat melihat saat serbuk itu mengenai bagian mata dirinya.


"Apa itu?"


"Tidak tahu ! Ayo pergi."


"Ya"


Setelah berlari jauh dari katak, sekiranya mereka tidak di kejar kembali Lobelia berkata pada Ellgar... "Maaf, bubuknya ku pakai semua." Murung Lobelia sambil mengucapkan maaf.


"Tidak apa... terimakasih." Ellgar, mencium keningnya yang sontak membuat Lobelia tersipu.


"Tapi, itu kan dari Sila?"


"Lalu kenapa? dia juga teman mu."


"Tapi mengapa perlakuanya padamu berbeda?"


"Kau cemburu denganya..?"


"Tidak."


"Katakan sekali lagi."


"Tidak."


"Bukan yang itu ..."


"Lalu..."


"Katakan yang tadi, saat kau akan menabur serbuknya ke arah katak merah."


"Emmm... saa.. iiyaang."


"Yang jelas Lobelia... kemana Lobelia ku yang pemberani."


"Sayang."


Ellgar, kemudian memeluknya dan berkata... "Mari beristirahat, sayang."


"Ya"


#Di tempat lain


Te Heya, telah berhasil turun gunung kini dia sedang menuju ke arah barat daya. Harapanya dia dapat menemukan pohon itu atau jika tidak, dia dapat menemukan Liona lebih dulu. Karena, dia ancaman bagi gunung Melian.


"Kemana perginya dia, mengapa saya tak dapat membaca keberadaan diri dari aura kehidupanya." Ucap Te Heya. Te Heya, tetap menggunakan pijakan pedangnya mencari ke seluruh tempat yang dia temui. Disisi lain dia tersadar bahwa, di sana tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali dalam setiap tempat yang di lihatnya.


"Jadi, inilah dunia luar dari gunung. Tak ada satupun makhluk yang muncul," ucapnya lagi dan tetap melanjutkan perjalanan dari ketinggian tertentu.


#Di Gunung Melian


"Nona Lysandra, ini tanaman yang nona pesan beserta benihnya," ucap Phylos.


"Baik, terimakasih banyak Phylos," balasnya.


"Nona, saya mau mengatakan sesuatu."


"Silahkan..."


"Saya baru saja melihat Dewi kebijaksanaan, Te Heya sedang berbincang dengan Paman Baron di pintu belakang kami dan..."


"Eh... eh. Huh..!! belum selesai bicara pergi begitu saja."


***


"Paman, paman. Hosh...Hosh." Suara dari napasnya yang ngos ngosan. Tanpa sengaja dia mengeluarkan suara seorang Illios atau suara lakinya.


"Siapa itu?" teriak Baron.


Illios, langsung menutup mulut, mengatur pernapasan dan berubah kembali menjadi Lysandra.


"Paman Baron," serunya lembut.


"Nona Lysandra," ucap Baron.


"Iya ini saya."


"Apa yang membuat..."


"Sudah cukup. Paman, tolong katakan kemana Te Heya?!" menatap tajam.


"Di..dia"


"Kemana"


"Dia..."


"Cepat !! kemana?"


"De...dewi pergi ke..."


"Turun gunung ?!"


"Huh....! Nona, maafkan saya. Saya tak mampu mencegahnya."


"Ini bukan salah paman."


Dari sanalah Illios atau Lysandra merasa telah gagal melindungi dua wanita sekaligus yang begitu berharga dalam hidupnya.


***


Lobelia, yang telah kenyang mengganjal perutnya mulai melanjutkan perjalanan kembali di bimbing oleh kompas sang Ratu. Mereka berdua terus berjalan kedepan bersama sama. Kedua tubuh mungil itu sungguh menikmati perjalananya, mereka terbang kesana kemari sambil bergurau dan bernyanyi di sepanjang jalan.


"Menurut kau Lobelia... bagaimana dengan perjalanan panjang kita selama ini?"


"Cukup mengesankan," jawabnya.


"Lobelia..."


"Ya"


"Maukah kau hidup bahagia bersama dengan ku selamanya...?"


"Hmm..! Apa kau sedang melamar sang putri kecantikan ini ?"


"Katakan saja jawaban kau."


"Emm... tunggu dulu. Apa tujuan kau?"


"Ya, kita akan menikah setelah semuanya berakhir."


"Baik, saya mau hidup bersama dengan kau."


"Sungguh...?"


"Ya"


"Walaupun pada akhirnya kau mengetahui siapa aku sebenarnya ?"


"Ellgar tetaplah Ellgar. Kita sudah lama bersama."


"Ya"


"Tapi..."


"Tapi apa ?"


"Kau. Apakah kau tidak ingin menjadi manusia lagi...?" tanya Lobelia.


Ellgar, tidak mampu menjawab pertanyaanya karena tidak ingin salah berucap sehingga dia hanya terdiam. Dia adalah lelaki yang begitu berhati-hati dengan ucapanya untuk wanitanya tersebut.