
"Aku.."
"Bagaimana?"
Keduanya saling bertatapan tanpa sadar bahwa kompas penunjuk arah telah berbunyi sedari tadi tanda mereka akan segera memasuki ibu kota. Perjalanan mereka ini telah di tempuh selama 5 hari.
"Kompasnya," ucap Ellgar.
"Ya, berati ibu kota telah di depan mata. Mari, percepat!"
"Hmm..."
Lobelia, ingin melupakan pertanyaanya tersebut untuk sementara. Namun, dia tak mampu dan kesal. Ellgar, tetap fokus terhadap tujuan utama datang ke kerajaan timur lalu menyelesaikan semuanya dengan tenang.
"Apa kau lelah," tanya Ellgar.
"Tidak."
"Kau mau minum?"
"Tidak."
"Kau kenapa?"
Ellgar bertanya tanya dengan perubahan sikap Lobelia yang tiba-tiba cuek padanya.
"Kompasnya berbunyi," ucap Ellgar hati-hati.
"Tidak !!" bentak Lobelia dengan tatapan menakutkan.
"Huuffft....!! kom-pas-nya Lobelia." Balasnya menunjukan bunyi yang tidak menyadarkan Lobelia.
"Huh..! oh, iya."
"Mengapa kau tiba-tiba berubah seperti musim yang sudah kita lewati?"
"Kita sudah semakin dekat," balas Lobelia.
"Huh!! baik. Baik.."
Mereka tetap melaju ke depan sesuai arahan kompasnya. Kali ini Ellgar merasa tak hanya Lobelia cuek saja namun juga dia diabaikan olehnya hingga membuatnya geleng-geleng kepala.
"Mengapa kau terbang menjauh?"
"Tidak...!!" teriaknya.
"Sebenarnya yang tidak itu apa?"
''Iya tidak. Kau tidak mengerti."
"Apa? coba katakan, tidak mengerti tentang apa?"
"Huuftt.." helaan napas Lobelia lalu menoleh ke arah Ellgar dan berkata... "Apa kau tidak bermaksut menjawab pertanyaan saya kemarin? Apa kau tidak mengerti bahwa, saya menunggu jawab mu? Dan apa kau tidak ingin memperjuangkan ku jika kita kembali pada tubuh normal."
"Kau telah berpikir sejauh itu?"
"Jauh...?! Apa yang lebih jauh dari turun gunung? lalu menuju ke arah timur? menurut mu saya berpikir terlalu jauh, Ellgar?"
"Itu semua pinta mu, Lobelia."
"Jadi, menurut mu saya yang salah?"
"Itu, bukan. Tidak seperti itu."
"Lalu apa ? segera beri jawaban."
"Saya..."
"Ya, saya sedang menjawab. Tapi, kau menyela..."
"Ya"
"Sebelum saya jawab. Pertama, jangan memojokan saya. Kedua, kita sama-sama berjuang bersama bukan sendiri. Ketiga, kau jangan terburu buru napsu."
"Ya, baiklah..."
"Sejujurnya saya tak mengerti jawabanya."
"Kau !"
"Berhenti ! Ingat 3 perkara yang saya pinta dari mu Lobelia."
"Ya"
"Ini semua juga bukan keinginan saya. Bukankah saya dari awal telah mencegah kau?"
"Jadi benar. Kau menyalahkan saya."
"Tidak, tunggu! saya tidak mengatakan seperti itu."
"Coba kau ingat kembali apa yang sempat kau ucapkan padaku di gunung pertapaan."
"Saya..." Ellgar, mencoba mengingat kembali tapi tak menemukan jawabanya.
"Kau dan aku tak di perbolehkan bersama, tapi kau membujuk ku untuk semakin dekat dengan mu dan semakin mempercayai mu. Sampai akhirnya aku menjadi wanita bodoh yang jatuh cinta padamu dan dengan teganya aku meninggalkan guru ku yang telah lama mencintai ku lebih dari ku."
"Saya tidak mengerti maksutmu? bukankah kau yang membungkam atas identitas asli dirimu di hadapan ku?"
"Kau mengatakan kau akan selalu bersama dengan ku suka maupun duka dan selalu bersama ku, melindungi ku. Hingga kau tak tega jika aku harus keluar Melian sendirian. Bukankah aku berniat untuk pergi sendiri karena tujuan awalku untuk melindungi melian bukan semata mata untuk hal romansa saja. Kita surat menyurat saat saya di pafiliun awan, bagaimana dengan kalimat-kalimat manis mu itu?"
"Lobelia," seru Ellgar
"Cobalah untuk mengingat semuanya..." Lobelia pergi menjauh.
Keduanya terpisah begitu saja dan kini Ellgar masih terdiam di atas batu membaringkan badanya yang di sertai dengan tiupan angin yang 'sepoi-sepoi'. Tempat itu tak jauh dari ibu kota mereka kini telah dekat dengan kerjaan timur. Lobelia, yang berjalan di depan telah memasuki kawasan ibu kota.
"Sebenarnya, kau itu lebih peduli pada siapa? tapi, mungkin ini memang ke egoisan ku. Ku pikir karena kita telah lama bersama dan saling mencintai maka tujuan kita pun sama, ternyata tidak ! jalan tujuan masing-masing adalah hak yang harus di gapai pihak itu sendiri." Ujar Ellgar, menatap langit siang itu.
Ellgar, menyusulnya dan mejaga Lobelia dari belakang. Dia masih belum siap jika harus berhadapan kembali dengan Lobelia. Ada perasaan yang tiba-tiba timbul tidak karuan di dalam dadanya.
"Kompas tua itu mengarahkan kemana? kenapa dia terus masuk ke dalam gang dan tetap berbunyi. Tempat apa ini?" ucap Ellgar dalam hati mengikutinya dari kejauhan.
Tanpa keduanya sadari bahwa, kompas tua itu adalah bagian dari cahaya sang Phon dengan pahatan kayu dari tubuhnya. Dimana sebenarnya mereka telah di bimbing langsung untuk menuju ke arah para petinggi dan menguak ingatan masa lalu itu sendiri.
"Kenapa dengan kompas ini? Apakah ada yang rusak?" Dia terus menyuruh ku masuk dan masuk lagi." Gumam Lobelia. Dia tetap percaya dan mengikuti arahanya. Ellgar, yang tetap mengikutinya tak sadar dia telah melewati tempat yang pernah menjadi jalur perdagangan oleh keluarganya yang lalu. Lobelia, juga sekilas melihat bayangan perjalanan dari Hua Shaguang dan Zhu Wulan.
"Akh..!" ucap mereka bersamaan memegang kepala namun tetap di posisi tengah berjauhan.
Lalu mereka tetap melaju ke depan dan kali ini Ellgar lah yang sangat tersakiti ada gambaran yang begitu menyakitkan di keluarganya saat proses penggusuran di masa lalu akibat perebutan harta dari sesama saudara.
"Akkh...akhh.. sakit!!" dia terus memegangi kepala dengan kedua tanganya. "Apa? Ingatan apa ini? siapa mereka? lalu siapa anak itu? mengapa mirip dengan ku? Uh...! sakit."
Ingatan itu muncul secara acak dan berangsur angsur serasa tengah memburunya. Di tambah lagi kondisi Ellgar yang tengah down dan tak relaks ataupun tenang.
... Buk......
... Suara benturan tubuh yang mengenai punggung Lobelia....
"Ellgar..." menggoyangkan tubuhnya. "Ellgar," serunya kembali. Lobelia, mencari tempat yang aman untuk Ellgar beristirahat. Dia membawanya ke sebuah gundukan jerami dan mempersilahkanya untuk istirahat di sana.
"Ellgar... mengapa dengan suhu badan kau. Maafkan saya telah kasar padamu," ucapnya.