Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
BATTLE 1



Pendengarannya mulai menyimak percakapan yang akan segera dimulai di mana yang ia sebut sebagai pendengar yang baik.


"Te Heya sejak bayi telah dirawat oleh Morpha, kedua orang tuanya gugur di medan perang saat pertempuran besar abad ke-10 pertempuran itu meninggalkan kisah pilu yang begitu dalam bagi keluarga gunung pertempuran ini dimana sang Morpha mulai menutup sistem belajar pertapaan menjadi manusia setengah dewa dan hanya menampung mereka yang masih tersisa di sini. Dia dikenal dengan Dewa kehidupan atau Dewa Morpha telah dididik nya dengan disiplin kala itu lobelia telah di titipkan di tempat Paviliun bangau emas tanpa identitas apapun."


"Lalu, paman?"


"Setahuku dulu ada anak laki-laki yang bernama Illios. Te Heya dan dialah yang menjadi teman bermain lobelia namun takdir berkata lain saat mereka menginjak usia remaja dan terjadi propaganda di dalam gunung yang mana harus menewaskan Illios. Lysandra adalah kakak perempuan dari Illios."


"Siapa pelakunya?"


"Dia dijuluki Si Putih saat ini dia tinggal di altar kuil Suci Melian kau pun sering melihatnya."


"Putih...?? Elvern ?!"


"Ya, benar. Dia adalah Elvern dia dulu terlibat kasus dalam gunung dan membunuh satu nyawa yaitu Illios namun mayatnya tak ditemukan begitulah yang kutahu sampai Te Heya dewasa dan menjadi dewi kebijaksanaan namun belum sepenuhnya menjadi manusia setengah dewa karena level pertapaannya yang belum memadai tapi Dewa Morpha begitu menyayanginya seperti anaknya sendiri. Pedang kabut es yang dipegangnya saat ini adalah peninggalan dari Morpha."


***


"Akhirnya kita bertemu lagi."


"Kau gigih sekali."


"Hmm, kau berasal dari mana?"


"Kau tak perlu tau itu," ucap Te Heya.


" Sombong sekali !! kau sekarang berada di wilayah kekuasaan ku."


Te Heya, tak menggubrisnya dan hanya menghindarinya. Dia terus menghindar tetapi Apollodorus tetap berhasil mengejarnya.


"Pedang kau bagus juga, nona."


"Ini.. ? Apa kau mau lihat?!"


"Ya, boleh."


Te Heya mulai membuka perlahan pedang dari sabuknya dan... "sriiing..." bunyi pedang yang telah terlepas keseluruhan. Apollodorus yang terkejut setelah melihat pedang yang besar itu teringat pada kejadian masa remajanya yang melihat ayah kandung atau Raja terdahulu yang terbunuh di tangan mereka hingga mengikrarkan sumpah kepada penerus kerajaan Barat Daya.


"Kau...! Hahahahah. Dunia ini sangat sempit sekali Ecidna, beberapa bulan lalu aku bertemu dengan gadis cantik dari Melian bernama Lobelia, kini aku mendapatkan mangsa ku yang baru... hahaha hehehe."


Te Heya tak membalas ucapannya.


"Hoho... kini saatnya bermain main lagi Ecidna."


"Huh ..! kebetulan sekali saya sudah lama tak berlatih pedang sang Dewa Morpha."


"Dewa...?"


"Ya, orang yang telah menyelesaikan tugasnya itu kini menjadi seorang Dewa."


"Jaga ucapanmu. Itu lah akibat dari keserakahan, maka alam pun merestuinya dengan mengakhiri hidupnya melalui tangan Morpha."


"Kurang ajar! kubunuh kau!"


Kini keduanya telah memulai pertempuran dengan kemampuan yang dimiliki Te Heya. Dia dapat menyelesaikannya namun, "gambaran tetaplah gambaran hasil akhir tidak ada yang tahu," ucapnya bergumam.


****


"Lalu, bagaimana soal kemampuanya paman?"


"Dia adalah wanita paking berbakat di antara yang lainya, sama seperti Lobelia."


"Bagaimana jika dia bertemu dengan penguasa itu?"


"Dengan kemampuannya saat ini saja dia sudah pasti akan menang melawan Apollodorus."


***


..."Siiinnn...sing, singg...."...


suara dari kekuatan yang saling beradu untuk melawan satu dengan yang lain dari tangannya Apollodorus mengeluarkan cahaya kemerahan yang dapat memanjang dan memendek sesuai dengan jarak lawannya begitu pula dengan Te Heya yang mengeluarkan cahaya biru kehijauan. Saat menghantam tanah, cahaya merah milik Apollodorus itu berubah menjadi api tidak hanya tanah apapun yang disentuhnya semua menjadi terbakar. Te Heya, juga menggunakan kekuatannya yang mana kedua tangannya mengeluarkan cahaya biru kehijauan dan dapat memadamkan seluruh api di sekitarnya keduanya terus saling melawan satu sama lain pertarungan dari keduanya begitu sengit aura merah dari tubuh Apollodorus menyelimuti dirinya begitu pula dengan Te Heya yang menyejukan sekitarnya.


Ke dua cahaya itu masih terus melakukan perlawanan Ecidna, yang masih mengawasi itu hanya diam dalam mode bentuk ular naganya, dia tidak berani mengganggu tuannya sebelum Apollodorus mengambil perintah untuk membantu karena Ecidna tahu betapa tuanya sangat menikmati pertarungan itu. Te Heya, tidak merasa kewalahan untuk melawannya hanya dengan lambaian kedua tangannya, dia dapat memadamkan api dari lawannya tersebut.


"Tuan, maukah kau ku bantu?"


"Tidak..! kita tunggu kekuatan dari pedang itu."


"Baik, tuan."


Te Heya, berhasil memukul mundur 1 kali pada lawannya namun begitu saja tidak cukup, Apollodorus, kini melesat kearah Te Heya, dan mengeluarkan Blood storm dalam jarak dekat dengan satu pukulan dan Te Heya, dengan sikap langsung membuka portal kecil berwarna merah tua berbentuk lingkaran kemudian keluarlah kristal berpola belati kemudian ditusuknya tepat mengenai blood storm milik Apollodorus.


..."Duuum....dumm. Duar..!!"...


Suara dari tekanan kristal belati dan bloodstorm yang meluap hingga menimbulkan ledakan yang cukup besar.


"Uhukk... uhukk."


"Tuan," seru Ecidna khawatir.


"Tidak !! ini belum berakhir, belum waktunya Ecidna untuk kau maju. Aku ingin dia mengeluarkan kekuatan pedangnya itu."


"Baik, tuan."


"Kau cukup bersiap saja saat kondisi ku tak lagi baik, tetap di sana dan perhatikan setiap langkahnya."


"Baik, tuanku."