Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Perjalanan Panjang Pertemuan Mereka



"Sudah 3 hari disini. Bagaimana dengan kondisi kau saat ini ?"


"Membaik. Apakah ingin melanjutkan perjalanan kembali ?" tanyanya.


"Ya, lebih cepat lebih baik."


Mereka telah berjalan cukup jauh sampai melupakan sesuatu hal yang penting. Kaki - kaki itu hanya berjalan menyusuri hutan sesuai dengan jalur darat. Sesekali Ellgar, menggandeng tanganya dan berkata, " Kau cantik... Kau cantik."


Dia benar benar mengagumi paras cantik itu yang tengah berdiri kokoh dengan kuatnya berjalan terus tanpa henti, di balut dengan pedang yang dia tempa sendiri.


"Kau pemberani," sambung Lobelia.


"Kau yang pemberani," balasnya.


"Kau hebat," balas Lobelia.


"Kau juga. Kau satu satunya wanita cantik yang pernah saya temui, dibalut dengan keberanian, dan kehebatan yang kau miliki, dan juga..."


"Juga apa?" tanyanya.


"Juga keras kepala."


"Keras kepala!" seru Lobelia, sedikit marah.


"Keras kepala untuk bersama saya." cekikik.


"Kau menggoda saya? dassar!" cekikik.


Di tengah tengah perjalanan, Lobelia tidak sanggup lagi menahan dahaga.


''Kau tunggu di sini. Saya akan mencari mata air."


"Baiklah..."


Ellgar, bergegas pergi mencari sungai untuk mengambil air, dan berencana mencari makanan untuk mengganjal perut mereka berdua. Tidak lama setelah kepergianya, Lobelia di hampiri oleh sosok pria bertubuh besar, dan terlihat seperti monster. Saat dia mulai mendekat, perlahan wajahnya berubah seketika menjadi tampan, gigi taring yang keluar tiba-tiba hilang. Bola mata yang besar membelalak kemerahan di bawah terik matahari tiba-tiba menjadi kebiruan nan cantik.


"Siapa gerangan di sana ?" tanyanya.


"Anda siapa nona ? Apakah tersesat ?" tanyanya balik.


"Tidak! Saya tengah beristirahat, dan menunggu kekasih saya mencari air."


"Sumber air di sini sangat jauh. Mari, datang ke tempat saya untuk beris..."


"Tidak, terimakasih." Seru Lobelia, memotong perkataanya.


"Jangan menolak saya. Mari, ikut saya! di tempat saya ada banyak makanan, dan kau juga dapat beristirahat dengan tenang."


"Kau pemaksaan, tuan! Apa kau pikir, saya ini anak kecil yang dapat kau bujuk dengan makanan?" lawanya dengan tegas.


''Heh, menarik!" tuturnya dalam hati, terdiam.


"Baiklah... nona. Jika kau menolak, tapi apakah saya boleh tahu nama di balik paras cantik itu?" sambungnya bertanya dengan penuh gairah.


"Kau tidak perlu tau itu." Jawab Lobelia, ketus.


"Nona, sesungguhnya ini pertama kalinya ada orang yang berani menolak bahkan melawan saya."


"Kenapa begitu?" tanya Lobelia, tanpa takut sedikit pun padanya.


"Karena saya seorang penguasa terkuat, memiliki kekuatan yang tinggi. Wilayah kekuasaan saya luas, dan telah menaklukan banyak kerajaan serta beberapa dataran ini. Saya memiliki banyak perempuan di samping saya, dan satu satunya lelaki yang di puja oleh mereka. Yang terakhir, kekuatan saya tak tertandingi. Hahaha...!"


"Sombong sekali kau, Pak tua!"


"Apa kau bilang? ulangi!" sontaknya memerintah.


"Kau sombong sekali, Pak tua." Balas Lobelia, dengan gagah berani.


"Aiyaaa...dari mana kau mampu menyebut Pak tua. Apa kau tidak melihat ketampanan ini, nona."


"Saya tidak melihatnya, melainkan wajah seperti monster."


Sontak pernyataan itu membuatnya kaget karena, sebelumnya tidak ada yang dapat melihat bentukan asli dirinya. Namun, kali ini dia bertemu dengan wanita yang begitu cantik bahkan mampu melihat sosoknya yang asli. Dia mulai berpikir mencari jawaban dari pertanyaanya sendiri. Siapa gerangan wanita yang di hadapanya ini.


"Kau sungguh genius. Pasti... kau seorang master spiritualis?" tanyanya.


"Itu tidak penting. Sekarang menyingkirlah dari hadapan saya."


"Jangan terburu buru, nona. Jika dilihat lihat pedang yang kau bawa unik juga," sambungnya mendekat, mulai memainkan trik.


"Berhenti...!!!" kata Lobelia. "Jangan langkahkan kaki itu lagi, atau saya tebas kedua kaki itu." Tuturnya lantang.


"Kenapa?" maju lagi selangkah.


"CUKUP! Jika saya mengatakan berhenti maka, berhenti!" serunya lagi.


"Atas dasar apa saya harus menuruti kau? kau saja tidak mau menuruti ajakan saya," tanya pria itu memojokanya.


"Saya adalah, seorang spiritualis yang di beri gelar langsung oleh dewa kehidupan, dengan sebutan putri kecantikan tahapan manusia suci dari perguruan gunung suci melian."


Sontak pernyataan itu membuatnya kaget, dan ekspresi wajahnya menunjukan betapa beruntungnya dia bertemu dengan mangsa yang empuk.


"Hoho...lalu apa kau tau tentang rumor di seluruh dataran ini?" tanyanya memainkan trik.


"Tidak! itu tidak penting." Jawab Lobelia.


"Ah...ternyata orang orang gunung memang kuno. Mereka pasti kerjanya hanya tau diam di tempat tanpa mendapatkan informasi yang luas dan penting."


"Apa gunanya itu. Bagi saya itu semua tidak berguna!" balas Lobelia.


"Oh! benar juga yang nona katakan. Jika ada banyak orang yang tidak mengetahui informasi yang berguna ini, maka akan memudahkan saya untuk menguasai seluruh dataran di bumi, termasuk dengan mudahnya menghancurkan gunung suci melian." Tuturnya yang menunjukan kemampuan dirinya dengan badan tinggi besarnya, sontak membuat Lobelia terkejut, dan hal itulah yang sebenarnya pria itu tunggu.


"Sriiing....."


Suara pedang yang terlepas dari sabuknya kemudian mengarah pada prita itu.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Lobelia.


"Bukankah itu tidak penting, dan tidak berguna bagi kau, wahai nona cantik."


"Jangan mempermainkan saya. Cepat, jawab!"


"Jika begitu memohonlah," balasnya menikmati permainanya.


"Jika begitu, saya tidak akan segan lagi memotong leher ini."


"Sraat..." menyatu kembali.


Lobelia kaget, tubunya tidak bisa dia lukai dengan pedangnya.


"Ini rasanya seperti di gigit semut. Apakah itu benar benar sebuah senjata untuk melindungi diri?" ejeknya pada Lobelia.


"Jangan sombong dulu, majulah!"


"Tunggu dulu. Kau terlalu berapi api nona, saya hanya ingin tahu nama di balik paras nan cantik itu nona, dan kau bisa tahu nama saya."


Lobelia, sebenarnya juga ingin tahu siapa pria itu. Apakah benar tubuhnya tidak bisa di lukai, atau karena pedang kebajikan ini yang tidak mampu melukai.


"Lobelia." Ujarnya memperkenalkan diri dengan ekspresi datar.


"Oh...nama yang begitu indah, Lobelia."


"Saya telah memperkenalkan diri, dan sesuai ucapan kau. Tepatilah!"


"Baiklah nona. Perkenalkanlah pria tampan di hadapan kau ini adalah, Apollodorus. Sang penguasa dataran wilayah Thebes, sekaligus raja penerus dari kerajaan Thebes, yang juga seorang penguasa dataran generasi ke 3." Terangnya menyombongkan diri.


"Apakah saya telah berjalan ke arah barat daya?"


"Tepat sekali, nona. Kau telah memasuki wilayah terlarang." Balasnya seakan akan ingin menerkam Lobelia.


Dengan berani Lobelia, mempersilahkan dia untuk memulai pertempuran.


"Apa kau ingin melawan musuh bebuyutan ini?"


tanya Lobelia.


"Akhirnya kau sadar juga."


''Jangan memakai trik dengan saya," ancam Lobelia.


"Bukankah kau tau jika, tubuh ini tidak dapat di lukai, dan kau masih dengan keras kepala ingin melawan musuh bebuyutan ini sendirian."


"Itu lebih mulia!" seru Lobelia, percaya diri.


''Hahaha...! mulia? bagaimana dengan tawaran mulia dari saya, tuan putri?" tanya Apollodorus.


"Apa?"


"Kau jadilah selir saya, dan melian akan aman terkendali."


"Sudah saya katakan, jangan memainkan trik di depan saya!" balas Lobelia, murka. Dia mulai berpikir jika, saat ini dia melawan Apollodorus, tubuhnya masih belum begitu kuat, dan juga dia saat ini tengah terpisah dengan Ellgar.


"Tunggu...! beri saya waktu 3 hari. Saya akan memberi jawaban iya atau tidak."


"Sekarang kau yang sedang memainkan trik. Apa kau berencana kabur?" tanyanya memperhatikan dengan serius.


"Tidak. Bukankah kau tadi mengatakan jika, kau adalah penguasa hebat juga, dataran ini milik kau. Jadi, mau saya lari pun itu percuma saja. Karena, saya dari awal telah mengantarkan nyawa pada kau."


"Benar juga. Baiklah, baiklah..."


"Itu sudah cukup untuk saya berpikir."


"3 hari lagi saya akan datang mencari kau ke segala penjuru. Kau sudah berada di genggaman ini."


Apollodorus, akhirnya pergi. Lobelia, yang tubuhnya terasa berat seakan akan telah lepas hingga ringan begitu saja yang kemudian, membuat tubuhnya lemas seketika.