
...Tiiiit.... tit...ttiiit...
"Kenapa kau berbunyi ? Bagaimana jika ada manusia yang dengar." Ucap Lobelia. Kini Ellgar, berada tepat di pangkuanya. Lobelia, mengabaikan kompas yang sedari tadi berbunyi dan memilih untuk merawat Ellgar yang tengah pingsan. Selang beberapa menit kemudian Ellgar telah siuman, dan kini Lobelia pun lega dan menanyai apa yang telah terjadi padanya.
"Kau tak apa? kau tiba tiba terjatuh di belakang saya." Ucqp Lobelia memalingkan wajah karna tersipu malu.
"Pusing."
"O,oh... berbaringlah," ucap Lobelia menunjuk ke pangkuanya.
"Saya..."
"Ya"
"Apa kau masih marah padaku?"
"Apa kau pingsan karna itu?"
"Iya"
"Tidak ! Saya tidak marah lagi denga mu. Kau jangan berpikir berlebihan, jaga diri mu. Kita sudah berada di kerajaan Timur."
"Apa sudah dekat???"
"Tidak. Kita telah di ibu kota. Lihatlah..!" ucap Lobelia, membuka tirai.
"Tunggu...!! saya ingin mengatakan satu hal lain pada mu."
"Apa?"
"Saat melewati rumah besar itu saya mendapatkan satu ingatan yang cukup kuat."
"Apa itu?"
"Saya melihat gambaran seorang anak kecil wanita. Dia tinggal di sana tapi saya tidak tahu dia siapa dan anehnya saya melihat sosk laki laki yang mirip dengan saya juga."
"Tunggu...! kenapa pas sekali dengan bunyi kompas ini. Dia juga tadi mengarahkan saya untuk ke sana tapi saya memilih tinggal untuk merawat kau."
"Apa sebaiknya kita mencari taunya?"
"Ehem... kau benar."
"Kau setuju?"
"Saya setuju."
"Baiklah...ayo."
Tubuh kecil bersayap itu berjalan menuju tempat yang telah di tentukan dengan melewati orang orang yang tengah berlalu lalang untuk berniaga.
"Ini rumah bordil?!"
"Apa itu, Ellgar?"
"Kau juga tidak tau?"
Lobelia menggeleng.
"Mari cari tau..." mereka berpencar mengelilingi rumah bordil itu untuk mencari informasi seputar masa lalu rumah bordil tersebut.
"Apa yang kau temukan?"
"Tidak ada."
"Akh... sama. Apa yang bisa kita cari dari sini."
Lagi-lagi pada saat kebingungan kompas itu berbunyi. Kali ini dia seolah seperti menarik mereka berdua ke dalam sebuah ruang ganti wanita.
''Siapa mereka?"
"ssst... coba dengarkan."
"Apa kau tau? bagaimana rumah bordil ini di bentuk?" ucap si biru. Dari balik bilik terlihat tirai kain yang tipis menembus pandangan Ellgar dan Lobelia.
"Tidak. Saya di jual kemari dan ini sudah menjadi rumah bordil seperti ini." Ucap si kuning.
"Iya. Aku juga."
"Sama," balas yang lain sahut sahutan.
"Setau saya rumah ini dulu milik pebisnis pedagang kaya raya yang memilik anak wanita seorang sarjana berprestasi tetapi menderita penyakit dingin." Ucap si biru.
"Kau kata siapa?" tanya si hijau.
"Para pejabat yang datang kemari."
"Iya, itu benar. Saya juga dapat info bahwa sang anak dulu begitu dekat dengan purtri mahkota kerajaan Hong." Timpal si Ungu.
"Kau tahu juga?!"
"Ialah... saya juga haus informasi."
"Tapi, kenapa sekarang pemimpinya raja kerajaan barat?"
"Ssssttt...pelankan suara mu. Ini semua berkat kerjasamanya dengan Raja barat daya yaitu, Apollodorus."
"Kalau begitu mari dekati dia agar kita menjadi wanita yang lebih terpandang. Aku sudah bosan jadi budak kasur para hidung belang itu."
"Ya, kau benar."
"Kau dengar itu," tanya Ellgar.
"Ya, Ellgar. Mereka menyebut nama orangbyang sama."
"Apollodorus..."ucap keduanya bersamaan.
Kerjaan timur Hong saat ini memperkuat system perdaganganya, termasuk perdagangan manusia.
"Kau tak apa?" tanya Ellgar.
"Uhuk...uhuk..."
"Jangan bergerak..."
Dari balik cahaya yang remang remang kedua mata itu terbuka dan melihat ke atap sebuah gubuk kecil..."seperti ada yang berbicara?!" menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Istrahatalah.."
"Siapa yang berbicara pada ku?"
"Kita..."suara kecil itu muncul kembali.
"Siapa?!"
"Tepat di atas kepala mu."
"ssi... si-a-pa kalian?"
"Saya Ellgar dan ini Lobelia."
"Aku melihat peri? Apa aku bermimpi?"
"Tidak, ini nyata. Siapa nama kau?"
"Li, Lin Wang."
"Halo...Lin wang. Aku Lobelia yang sedari tadi mengobati kau."
"Kau...?"
"Ya"
"Aku ingin pingsang kembali."
"Tidak, tidak, tidak. Aku sedang dalam bahaya jadi segeralah pergi dari sini."
"Ah ! kau benar."
"Tunggu...!! kami ikut."
"Kalian...? baiklah."