
Keduanya keluar dari persembunyian. Mereka kembali berjalan berharap segera menemukan sebuah pemukiman yang dapat menolongnya, dan memberikan tempat tinggal. Berhari hari yang mereka tempuh sebelumnya hanya hutan, dan lembah saja. Keduanya berhenti di sebuah aliran sungai untuk minum sebentar lalu kemudian, " Hei...!" sahut seorang pria dari arah belakang mereka, yang ternyata adalah Apollodorus.
"Apollodorus," seru Lobelia.
"Jadi, itu dia?"tanya Ellgar.
"Iya... itu Apollodorus yang saya ceritakan pada kau," jawabnya.
"Kau jangan melupakan ucapan mu, Lobelia." Sahut Apollodorus.
Lobelia tidak membalas, dan hanya diam saja.
"Tentukan, iya atau tidak?" tanya Apollodorus, memaksa.
"Kau sudah tahu jawabanya pasti TIDAK..!" jawab Lobelia.
"Heh..!! kau meremehkan ku. Kau akan tahu akibatnya. Hari ini kalian akan mati di tangan ku." Ucap Apollodorus, yang menyerang dengan langkah cepat lalu di respon langkahnya oleh lobelia dan Ellgar.
"Cepat sekali," seru Ellgar menjauh lalu mengambil posisi bersiap untuk memanah.
Saat ini Lobelia tengah bertarung melawan Apollodorus. Lobelia, melawanya dengan kondisi pedang yang masih tertanam di sabuknya, dan Apollodorus melawan dengan tangan kosong. Langkah maju, mundur dari keduanya saat bertarung, dan sesekali mengeluarkan kekuatan spiritual magisnya masing masing. Wilayah yang mereka pijak, seakan ikut terhentak. Angin yang berhembus dengan getaran dari kekuatan mereka membaluti pertempuran itu. Ellgar, tetap turut serta membantu dengan mulai mengeluarkan seluruh anak panahnya yang telah di baluti racun pelumpuh. Seperti yang di ketahui, bahwa Lobelia mahir dalam bidang pembuatan racun, dan sejenisnya. Matanya terus mengawasi langkah keduanya dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Dia siap membidikan di bagian vital.
"Saya harap kali ini tepat sasaran," ungkapnya dengan serius.
Saat dia telah mencapai titik kesempurnaaan membidik dia berteriak, " Lobelia, minggir...!!!" respon Lobelia, cepat sehingga panah itu tepat mengenai bagian vital Apollodorus. Anak panah itu tertancap tepat di dada kirinya, dan efek dari racun pelumpuh mulai berjalan.
"Kurang ajar!" ujar Apollodorus yang murka karena, tubuhnya tidak dapat bergerak seakan melemas begitu saja perlahan mati rasa bahkan tidak mampu berdiri kembali, dan hanya tangan saja yang dapat dia gerakan untuk saat ini.
Lobelia dan Ellgar, memastikan jika dia mati mereka dapat melihat jasadnya langsung. Ellgar, saat masih terfokus pada kondisi Apollodorus yang tengah berjuang dari kematianya di kagetkan oleh sesuatu yang terasa bergetar dari tubuhnya dan menyala nyala. Benar saja itu adalah, signal dari liontin yang dia pakai. Menandakan bahwa keberadaan monster naga Ecidna berada di dekatnya.
"Hah, apa ini...? kenapa liontin ini terus menyala, dan bisa bergerak dengan sendirinya," tanya Ellgar.
"Coba perhatikan," respon dari Lobelia, sigap menganalisa. "Dia ingin kita ke arah sana. Lihat...! dia menarik kau pergi menuju ke tempat itu," sambungnya dengan menunjuk ke salah satu lembah besar.
Di saat yang bersamaan Ecidna yang sedang terkurung, juga merasakanya lalu membuatnya membuka mata. Namun, karena kecerobohan Lobelia yang tanpa sengaja menjatuhkan liontin Ellgar ke dalam air, membuatnya kembali meredup dan seketika itu pula Ecidna juga tertidur kembali. Untung saja mereka berdua dapat menemukan liontin itu di dalam air.
Di saat kesibukan mereka pada liontin Ellgar, Apollodorus melihat dengan jelas bahwa itu liontin naga monster Ecidna dari pemilik terdahulu yang berasal dari kekaisaran Hong. Dia tahu persis bahwa pemiliknya adalah, seorang putri dari raja pertama di sana. Namun, saat ini semuanya telah mati karena perang antar kerajaan. Sontak itu membuat Apollodorus terkejut, kenapa bisa liontin tersebut ada di tangan pemuda itu. Tidak banyak pikir Apollodorus segera mengambil langkah dengan mengeluarkan Blood Storm miliknya yang kemudian terdengar, ''Dummm....duummm...." suara dentuman di capur aliran merah semerah darah menghantam wilayah tersebut.
Blood storm di respon cepat oleh Lobelia dengan membuat dinding pelindung di sekitar mereka. Namun, blood storm miliknya begitu kuat sehingga, membuat Lobelia kualahan dan memuntahkan darah sampai mengalir ke lehernya.
"Lobelia, kita sudahi saja. Saya tidak bisa melihat kau seperti ini," ujar Ellgar.
"Kau tenanglah. Saya tidak apa apa. Tekad ini sudah kuat dan tepat. Saya tidak akan berhenti, dan mati sini dengan mudahnya. Saya tidak akan tenang jika melihat musuh ini hidup lebih lama," ungkap Lobelia.
"Tapi, lihatlah kondisi kau sekarang. Kau mulai kehilangan kekuatan."
Tidak ada jawaban dari Lobelia.
Dengan setengah dari kemampuan Lobelia saat ini, dia telah menyiapkan rencana terakhirnya dengan melempar belati racunya yang telah dia selipkan di accesories kepalanya ke arah Apollodorus. Namun, rencananya gagal karena blood storm miliknya merespon dengan cepat hingga sebelum belati itu sampai dia sudah di lenyapkan oleh blood storm.
"Hosh..hosh...! anak panah kau, masih ada berapa?" tanya Lobelia pada Ellgar, terengah engah.
"Satu, tinggal satu...!"
"Kali ini saya berharap pada kau. Bekukan blood storm miliknya."
"Gi..gimana caranya," jawab Ellgar.
Lobelia, mulai mentrasfer kekuatan dari elemen air yang telah di bekukan ke dalam anak panah milik Ellgar dan berkata, "tembakan seperti tadi. Kali ini sasaranya di bagian lautan semerah darah ini. Huh...huh...!" kekuatanya melemah hingga membuat dinding pelindung ikut melemah.
"Tak tak tak, kratak..." suara dari blood storm milik Apollodorus yang mulai membeku perlahan.
"Ayo, ini kesempatan kita untuk kabur. Pembekuan ini tidak akan bertahan lama karean tidak sebanding dengan lautan merah ini." Ucap Lobelia yang mengeluarkan kertas bagau spiritualnya, dan mulai menaikinya.
"Baik." Jawab Ellgar, mengikuti Lobelia.
"Kurang ajar, kecolongan lagi. Tunggu saja kedatangan ku untuk mencari kalian setelah ini." Teriak Apollodorus, mendendam.
Apollodorus, yang telah melumpuhkan monster naga Ecidna segera bergegas pergi menemuinya di tempat yang telah dia sediakan.
"Kau...! sembuhkanlah tuanmu ini." Ucap Apollodorus kepada Ecidna.
Naga itu di kurung, serta dirantai dengan belenggu api hitam yang menyelimutinya. Api hitam merupakan kekuatan magis hitam yang mampu melumpuhkan monster naga tertua, dan berasal dari turun temurun kerajaan Thebes.
"Apa kau juga merasakan kedatanganya?" tanya Apllodorus.
"Tapi sayangnya yang ini bukan wanita, melainkan seorang pria." Sambungnya lagi berbicara pada Ecidna yang tidak dapat jawaban sama sekali.
"Baik. Ini sudah tiba waktunya menjalin kontrak darah dengan kau." Ucapnya memegang kepala Ecidna.
Saat melakukan kontrak darah, dia menggunakan api hitam ke tubuh Ecidna, dan sontak membuat Ecidna meraung kesakitan. Dengan merapal mantra dan mengeluarkan darahnya, di teteskan pada tungku kecil berbentuk segitiga. Suara raunganya sampai terdengar di telingan Ellgar juga Lobelia.
Grrrrrr...aaaak..auuuuuunngg....
Pekikan suara Ecidna di sertai raungan yang yang bergema ke seluruh penjuru berulang kali, seperti kesakitan.
"Suara apa itu Lobelia," seru Ellgar.
Lobelia, membalasnya dengan gelengan kepala sambil menahan rasa sakit di dadanya.
"Sebaiknya percepat. Kekuatan saya telah melemah. Bawa saya ke tempat tenang, di lembah itu." Pinta dari Lobelia, menunjukan tempat.
Ellgar, sepanjang perjalanan selalu melihat kebawah, dimana sekelilingnya telah menjadi tanah yang gundul dan kering. Dia baru saja menyadari betapa hebatnya kekuatan dari blood storm milik Apollodorus itu, yang mampu melahap apa saja di sekitarnya dengan cepat.