Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Aksi Kabur Dari Gunung Melian



╭∩╮(︶︿︶)╭∩╮


Melian benar benar gunung yang di kenal akan sumber kekuatan magisnya yang suci dengan segala misteri di dalamnya. Banyak nyawa yang berbondong bondong dari daerah lain untuk datang berguru. Namun, sejak kejadian 50 tahun yang lalu semua berubah. Para murid saat ini tengah mempersiapkan diri untuk suatu bencana di masa depan jika telah datang waktunya, salah satunya adalah hancurnya keseimbangan bumi di tandai dengan bangkitnya monster naga tertua yang sedang tertidur di tempatnya. Di tambah lagi dengan musuh bebuyutanya yaitu, kerajaan wilayah thebes. Tak banyak dari mereka juga yang tergoda untuk menentang pantangan pantangan yang berlaku. Godaan demi godaan mendatangi para murid di sana. Godaan yang terasa menggebu nggebu seolah mengatakan, "ayo, lakukanlah...!" di dalam kalbu masing masing.


Naik turun mereka lalui, tak banyak juga yang melakukan hasrat berlebih mereka untuk meningkatkan status sosialnya, hingga kejahatan hadir di diri masing masing. Akan tetapi, di sana ada para dewa dewi yang menyongsong dan mengontrolnya sehingga, tidak berakibat fatal pada diri gunung melian, juga para penjahat akan di hukum sesuai dengan hukum yang berlaku.


Kejahatan adalah, sesuatu hal yang datang kapan saja, dia tiba tiba hadir dalam kehidupan manusia, baik hadir dari dalam diri sendiri maupun di luar dari mereka. Itu semua bagaimana cara seorang manusia untuk berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan orang lain, dan berdamai dengan lingkunganya.


"Kali ini, saya tidak akan menghentikan kau... " Ucap Te Heya pada diri sendiri.


"Jika ini di luar dari cinta, saya dapat membantu. Namun, sekarang ini di luar kuasa saya." Ungkapnya lagi.


Di malam yang penuh pertimbangan itu Te Heya, merasakan sesuatu yang pernah dia rasakan saat di tinggalkan oleh Morpha. Sesuatu yang tidak dapat dia lihat itu namun, dapat terasa seperti terbakar lalu perlahan perih seperti terkena sayatan pedang. Matanya yang tengah memandang langit, berbinar pupilnya juga semakin mengecil itu dengan sigapnya menahan terpaan angin yang berhembus kencang bercampur dengan asap yang menyesakan dadanya. Sejenak dia menundukan kepala, mengepalkan, dan menyatukan kedua tanganya lalu berkata, "pergilah...!!!" air matanya tidak terbendung lagi mengucur deras hingga mengenai leher, dan tanganya. "Ini keputusanya, sungguh menyakitkan," sambungnya lagi.


Telingnya dapat mendengar teriakan orang orang, "air... air...pergi ambil air, dan kendalikan apinya dengan kekuatan kalian." Dia menelan ludah sambil mengungkapkan harapanya, "lindungi dia, dewa...saya serahkan dia seutuhnya pada engkau."


"Padamkan!"


"Cepat... cepat!"


Semua orang tengah sibuk memadamkan apinya dengan perlindungan penuh. Api kecil yang menyala itu perlahan membesar, hingga dapat membantu kelancaran untuk kabur bagi Ellgar, dan Lobelia.


"Kau tak apa?" tanya Ellgar.


"Saya tidak apa-apa... " jawabnya yang sebenarnya tengah berbohong. Dia dapat merasakan dari dalam dirinya sesuatu yang tidak nyaman di rasa seperti, perasaan tidak karuan itu, dia tutupi dengan tegar lalu tetap berjalan menyusuri kegelapan malam yang di kelilingi pepohonan besar, hingga menutupi terangnya sinar rembulan.


"Dewi, selanjutnya... selanjutnnya bagaimana?" tanya Ellvern, hati-hati.


"Kemana Illios?"


"Dia tengah membantu yang lain untuk menyembuhkan beberapa pelayan, dan murid yang terkena dampak sesak akibat asap tebal yang beracun itu."


"Baiklah, keahlianya memang pengendalian logam, dan api sekaligus meracik serbuk racun. Tidak heran, jika semua ini terjadi."


"Dewi..." badanya sujud ke lantai, "saya tidak mampu mencegahnya, hukum saya. Saya bahkan tidak mampu melindungi gunung melian." Memohonya kepada Te Heya karena rasa bersalah.


"Tidak...! bangunlah, ini memang seharusnya terjadi. Terkadang apa yang sudah kita rencanakan memang tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi, memang inilah jalanya. Bangun! mari kita ikut membantu yang lain."


"Ba... baik."


Mansion bawah ikut terkena dampaknya, mereka juga ikut membantu atas kebakaran besar itu. Tidak heran jika korbanya banyak dari para mansion bawah yang tidak memiliki kemampuan spiritual.


Apa yang Lobelia saat ini lakukan, tidak pernah terlewat dipikiranya bahwa, akan seperti sekarang ini karena, yang dia tahu hanya bagaimana caranya agar terbebas, dan dapat hidup bersama dengan orang yang dia cintai itu.


Tanya Te Heya yang hampir salah penyebutan di depan banyak orang.


"Salam hormat saya, dewi. Ini akibat dari serbuk racun pelemah tubuh, mereka semua menghirupnya hingga sebagian membuat sesak berat, dan para mansion bawah yang tidak ada inti spiritual mengalami kejang."


"Baiklah... mari saya bantu."


Te Heya, menawarkan jasa dirinya, dia tidak tega melihat lautan manusia yang tergelatak di alas yang membuatnya semakin sakit hati.


"Dewi, bagaimana dengan mereka berdua," bisik Elvern yang di dampingi Lysandra.


"Tetap awasi saja, juga jangan melewatkan apapun dari luar sana, karena asap yang keluar ini dapat memicu para penjahat datang."


"Baik, dewi." Jawab keduanya bersamaan.


"Dan juga fokuslah pada penyembuhan, jangan pikirkan yang telah pergi, lepaskan saja. Biarkan ini menjadi pekerjaan dewa kehidupan."


"Baik."


"Semuanya...!! jangan kawatir. Kita akan melakukan semaksimal mungkin untuk kesembuhan kalian. Semoga semuanya dapat sehat kembali dalam kurun 5 hari kedepan."


"Baik."


"Baik."


Jawab mereka semua sahut sahutan.


"Terimakasih para tetua," jawaban dari paman Baron.


"Sama-sama, paman."


Baron pun, tidak habis pikir jika akan terjadi peristiwa memilukan ini. Selama dia tinggal, sebelumnya selalu baik baik saja, tapi kali ini semua berbeda. Semakin hari semakin banyak kejahatan, mereka memberontak karena hasrat masing masing.


"Jika ini jalan kau nak, semoga kau baik baik saja di luar sana." Gumamnya yang memandang ke atas langit malam.


"Uhuk... uhuk..."


"Paman Baron, kau juga harus di pulihkan mari duduklah dengan tenang." Ujar salah satu murid mansion atas.


"Terimakasih..."


Malam panjang di gunung melian telah selesai, para korban kemudian di tempatkan di tempat penyembuhan, dan selanjutnya mulai memperbaiki kerusakanya.