
Ilustrasi Gunung Melian dari Luar
Di malam yang dingin, Te Heya seperti biasa setelah selesai memberi pelatihan pada murid muridnya, dia pergi ke ruang baca seperti yang sering di lakukan Lobelia. Mereka berdua selalu bertukar pikiran di tempat itu. Dia teringat berdebatan terakhir kalinya dengan Lobelia.
"Andaikan kau tahu, jika bukan karena kejadian 10 tahun lalu, saya tidak akan sekeras ini pada kau, Lobelia." Kedua mata itu menatap langit, terlihat pemandangan aurora yang indah. Lobelia, sangat menyukai aurora.
"Apa kau lupa dengan ucapan kau Lobelia," ungkapnya lagi dengan rasa haru bercampur kecewa. Angin dingin malam itu, tiba-tiba berhembus dengan kencang yang bercampur aroma lotus.
"Kau disini rupanya, Dewi."
"Elvern," seru Te Heya.
"Saya mencari cari kau, Dewi."
"Ada apa," balasnya bertanya.
"Apa kau sudah melihat kemajuan beladiri dari mansion bawah?"
"Ya, maaf. Saya hampir melupakan hal itu."
"Kau kenapa, Dewi? bisakah kau berbagi kesedihan dengan pelayan kecil ini," ungkap Elvern.
"Saya hanya teringat dirinya," balas Te Heya.
"Lalu, bagaimana cara saya untuk mengobati kerinduanmu."
"Apakah saya sedang merindu? entahlah. Saya pun tidak mengerti. Malam itu, saya berpikir terlalu banyak. Apakah keputusanya sudah tepat. Saya pikir, dia akan kembali pada saya. Namun, ternyata tidak. Dia lebih memilih kekasihnya dari pada saya. Apakah selama ini, dia tidak menganggap keberadaan gurunya yang telah merawat, melindungi, mendampingi, dan juga mendidiknya sedari kecil."
"Dewi... kau jangan berpikir seperti itu. Saya yakin dia pun merindukan kau. Saya memohon dengan sangat pada kau, Dewi. Kau jangan berlarut larut dalam kerinduan. Cobalah untuk berkomunikasi denganya."
"Elvern... dia telah berubah menjadi makhluk yang berbeda dari sebelumnya. Dimana sang Dewa, telah menolongnya dari kematian, dan mencabut seluruh kekuatanya yang dia dapat dari pelatihan di gunung melian. Dia telah berpetualang di dunia baru, dan saya tidak mampu berkomunikasi denganya lagi."
"Dewi... sss saya... saya tidak tahu harus bagaimana untuk menghibur kau," ungkapnya.
Te Heya, menoleh padanya dan tersenyum lalu berkata," sudahlah... saya yakin dia akan kembali suatu hari nanti. Biarkan dia menemukan apa yang dia cari di luar darinya. Jika itu menurutnya benar."
"Dewi... kau begitu bijak. Semoga kebijakan kau terberkati selalu.'' Balas Elvern, hormat pada tuan kontrak darahnya.
Ilustrasi Elvern
Di tempat lain : Pafiliun Kehijauan
"Tuan, kau sudah lama berdiri di sana. Malam ini begitu dingin, baiknya kau segera masuk."
"Tidak."
"Tuan, saya mendapat kabar bahwa, putri Lobelia telah kehilangan kekuatanya."
"Ya... saya telah memprediksinya sesaat setelah dia berkomunikasi dengan saya. Terimakasih, kau telah bekerja dengan baik. Kembalilah..."
"Baik, Tuan. Saya permisi," pengawal bayangan itu mundur perlahan lalu pergi.
"Permisi Tuan... ada paman Baron dari mansion bawah, dia ingin bertemu dengan mu." Ungkap pelayan pafiliun kehijauan.
"Kau... gantikan baju saya, dan kau persilahkan dia masuk kemari."
"Baik, Tuan..." jawab pelayanya bersamaan.
"Nona Lysandra. Maafkan saya telah menggangu waktu mu," ucap Baron.
"Tidak apa, Paman. Katakan, ada apa?"
"Ini... saya bawakan makanan dengan resep terbaru dari koki kami, mansion bawah. Tadi Elvern dan Dewi Te Heya, telah menemui kami dan menikmatinya. Jadi, tinggal kau yang belum mencicipinya. Jika kau suka, kami akan mengirimnya tiap hari kemari."
"Terimakasih... Paman Baron. Jika mereka suka, maka saya pun menyukainya. Jadi, silahkan bawakan makanan itu kemari," ucap Lysandra.
"Syukurlah...baik kalau begitu. Saya pamit undur diri. Jangan lupa untuk mengenyangkan perut mu dalam kondisi apapun," pesan dari Baron.
"Baik, Paman Baron."
"Lobelia.... bagaimana kabar kau saat ini. Apa kau tahu, sekarang Melian menjadi gunung yang sesuai keinginan kau. Jaga diri mu baik-baik kekasih kecil..."ungkapnya termenung.
Ilustrasi Lysandra/ Illios
"Malam ini begitu dingin. Saya ingin memasang lampion seperti yang sering Lobelia lakukan."
Grece, yang telah terbiasa dengan kehidupan barunya berhari hari mengabdikan diri menjadi biksuni. Menulis ayat-ayat suci, dan berdo'a sepanjang hari di vihara.
Keesokan harinya, Sera dari mansion bawah pergi ke vihara untuk mendo'akan Lobelia, dan Ellgar.
"Selamat siang, Nona Sera." Salam dari Grece yang menyapanya setelah berdo'a.
"Nona Grece... maaf maksutnya selamat siang biksuni," balasnya mengkoreksi diri dengan sopan.
"Tidak apa, kau hanya belum terbiasa. Akhir-akhir ini, saya sering melihat kau datang kemari."
"Iya... saya tengah berdo'a untuk keselamatan, dan kebahagiaan agar menyertai Putri Lobelia, dan juga sahabat Phylos, Ellgar si pandai besi."
"Terimakasih..." ucap Grece.
"Tidak perlu seperti itu... sudah sewajarnya, karena kita semua adalah teman yang akan selalu ada suka maupun duka, walau terpisah oleh jarak sekalipun." Jawab Sera menyentuh tangan Grece, penuh kasih.
"Kau benar... Sera. Syukurlah, semoga kita semua dapat berkumpul kembali di kemudian hari," ucap Grece.
"Aamiiinnn...."
"Lalu... bagaimana dengan perkembangan kalian dalam beladiri ?"
"Semua berjalan dengan baik. Kami begitu antusias untuk giat belajar karena, kami ingin melindungi yang kami cintai."
"Syukurlah... saya juga akan berusaha turut membantu. Saya akan belajar kembali walau inti spiritual saya telah hilang."
"Biksuni... pesan saya, lakukan semampu kau saja. Jangan kau paksakan semuanya sendirian," ucap Sera tersenyum ke arah Grece. "Kita akan berdiri di sini bersama-sama..." sambungnya lagi.
"Baik...." jawab Grece, tersenyum bahagia. "Setelah ini kau mau kemana, Sera...?" sambung Grece, bertanya.
"Saya akan mulai merajut. Jadwal berlatih telah di ganti oleh Paman Baron, menjadi sore hari. Jadi, saya ada kesempatan di waktu luang untuk membuat pakaian."
"Baiklah.... selamat beraktivitas."
Sera, menjawabnya dengan tersenyum dan mengangguk. Kemudian, dia kembali ke mansion bawah untuk melakukan kegiatanya kembali seperti biasa.
"Saya merindukan kau, Lobelia."
Ungkap Grece, memandang ke langit. Dia kemudian melanjutkan untuk memanjatkan do'a di dalam kuil.
Ilustrasi Grece
Di bawah sinar rembulan, di dalam hutan peri
tubuh mungil itu berucap, "saya juga merindukan kalian..."
.
.
.
Ecidna, bersama tuanya yaitu Apollodorus mencoba pergi ke daerah Timur. Wilayah yang telah di kuasai oleh Raja baru itu sekarang menjadi tempat perbudakan. Dia berpikir bahwa Lobelia, bisa saja lari ke sana bersama dengan kekasihnya. Dengan gagahnya dia mendatangi pemilik baru wilayah Timur yaitu, Raja Fedrik dari kerajaan Barat yang kini juga menguasai kerajaan Timur.
"Bagaimana? apa kau telah membaca pesan yang saya kirim," tanya Apollodorus.
"Sudah, kawan... tapi orang-orang saya beserta yang lain belom menemukanya."
"Sudah berapa hari pencarian ?"
"Dihitung 3 hari, sampai dengan hari ini."
"Masih 3 hari. Cari terus sampai ketemu. Jangan terlewatkan. Kau harus menemukan perempuan itu."
"Itu hal yang mudah."
Ecidna, yang tinggal di luar menjadi terkenang dengan masa lalunya. Dia miris melihat wilayah Timur yang kini telah di kuasai oleh kerajaan musuh. Tempat tinggalnya pun telah di hancurkan oleh Apollodorus. Dia pun hanya pasrah karena telah terikat kontrak darah denganya.