
Marlos, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Sayapnya seketika itu pula melemas lalu berkata, "saya membutuhkan mutiara starseed untuk Nonnus. Dia menginginkan kekuatan seperti peri lainya. Dia terlahir dengan kekurangan. Tidak seperti Qin Perak, walaupun kau memiliki sayap yang tidak berfungsi dari lahir, tapi kau memiliki kekuatan besar lainya."
"Semua makhluk di ciptakan dengan keunikan masing-masing. Jangan hanya melihat dari sebelah mata saja apalagi tentang kekuatan. Cobalah untuk menyelami ke dalam diri sendiri sehingga dapat menerimanya." Ungkapan mendalam dari Lobelia.
"Kalian tidak mengerti !" ucap Nonnus.
"Kami mengerti !" balas Ellgar.
"Bahkan kau pun Ellgar dan Lobelia, yang tidak tahu asalnya dari mana? kenapa bisa memiliki keindahan sebesar itu dan sekarang semuanya melihat kau. Kenapa tidak dengan saya?"
"Kau cobalah koreksi dirimu kembali. Dan lihat ke dalam dirimu, kau akan menemukan keindahan yang kau cari beserta kekuatan itu sendiri. Tidak perlu mencarinya di luar apalagi sampai mengorbankan saudara mu sendiri," balas Ellgar.
Sesuai dengan tindak kejahatan yang di lakukan Marlos dan Nonnus, mereka harus di hukum mati di bawah teriknya matahari dan meminum pil beku hingga terbakar dan membatu. Namun, hal itu di gagalkan oleh Lobelia.
"Tunggu ! aturan macam apa itu?"
"Itu bukan aturan. Kami tidak memliki hal semacam itu. Ketetapan di sini sudah turun temurun, dan untuk semua tanpa terkecuali. Jika para peri melakukan tindak kejahatan semuanya wajib membunuh dirinya sendiri," balas Belle.
"Itu terlalu kejam!"
"Ketetapan tetap ketetapan."
"Putri, tunggu sebentar..." potong Qin Perak.
"Ada apa?"
"Mungkin Lobelia ada pendapat lain" ujarnya. Badanya mendekat perlahan ke arah Lobelia. "Silahkan berikan solusi atau usulan dari mu Lobelia," ucapnya menyambungkan.
"Terimakasih... penasihat. Baiklah... karena suda di berikan waktu, saya akan mengatakan pendapat saya. Ketetapan yang berlaku harus menghabisi nyawa sendiri itu terlalu berlebihan. Apalagi kita tahu alasan dari mereka, dan juga harusnya dalam sebuah kerajaan memiliki tatanan hukum seperti aturan yang di berlakukan contohnya seperti bagaimana aturan tentang tindak kejahatan dan sebagainya. Ini bukan ketetapan yang paten, maksutnya sewaktu waktu dapat diubah. Putri harus meresmikan sistem terbaru agar tidak sembarangan peri dapat meremehkan, dan agar mereka mendapatkan haknya. Seluruh makhluk hidup perlu bersosialisasi. Mereka hanya butuh keadilan salah satunya Nonnus. Nonnus, yang keseharianya tidak mendapatkan teman sama sekali karena di kucilkan atau karena berbeda sehingga di nilai aneh. Nonnus hanya butuh keadilan. Saya yakin masih ada peri-peri yang lain juga yang telah merasakanya namun bungkam."
"Saya setuju dengan pendapat mu, Lobelia. Tapi, saya tidak berani memberi keputusan jika itu bukan Ratu," jawab Belle. Sila, spontan menatapnya ketika Belle berkata "jika itu bukan Ratu."
''Ratu sedang sakit. Kau bisa menggantikanya untuk sementara. Kau kan adiknya?!"
"Tidak..!! itu tidak di benarkan. Siapa kau mampu menyuruhnya," seru Sila dengan lantang.
"Lancang!!!" sahut Ellgar.
"Kau...!"
"Siapa kau berani memotong pembicaraan Putri dengan Lobelia?"
"Ucapan Sila benar. Saya pun tidak haus tahta. Jadi, kita tunggu hingga kepulihan Ratu saja," potong Belle.
"Apakah kau berkata yang sebenarnya putri?"
"Ya, saya berkata yang sebenarnya."
"Lalu ... kenapa kau kemarin mengubur baju serta benda-benda milik Ratu Pheesa secara tersembunyi dan tidak memanggilkan atau menyuruh para peri pelayan."
"Kau mengawasi ku Sila... ?"
"I ... Itu... ya!"
"Itu wajar jika kau mengawasi saya. Karena, kau adalah pengawal setia Ratu dari dulu. Wajar jika kau kau tak mempercayai saya."
"Saya hanya butuh jawaban lain yang sesuai dengan pertanyaan saya," tegas Sila.
"Lobelia, mengatakan jika kakak terkena pentakit menular yang bernama tabes. Penyakit itu biasa di derita oleh bangsa manusia. Dia menghimbau agar kita menjauhkan diri dari Ratu termasuk kepada barang-barang dan baju yang sering dia kenakan. Jadi, dia menyarankan untuk menguburnya. Sedangkan, pada saat itu para pelayan istana tengah bersiap untuk melakukan pemerikasaan oleh Lobelia."
"Jadi, itu sebabnya sekarang penjenguk di batasi dan harus pakai tudung?"
"Ya ... itu benar."
"Maafkan saya telah menuduh tanpa menanyai kau dulu, putri."
"Iya, tidak apa... itu adalah sebuah kesalah pahaman kecil saja."
"Terimakasih... putri."
"Mari lupakan dan beri keputusan untuk mereka tanpa harus bunuh diri," timpal Lobelia.
"Bagaimana jika kita menunggu Ratu siuman."
"Berapa lama lagi?"
"Baiklah..."
***
Sekitar 1 menit kemudian...
"Kau telah siuman kakak..."
"Iya, bagaimana dengan mutiaranya?"
"Sudah ketemu dan diamankan kembali."
"Siapa yang melakukanya?"
"Itu..."
"Itu siapa, Belle ?"
"Marlos dan Nonnus."
"Sudah ku duga..."
"Ratu mengetahuinya?"
"Ya.. karena Marlos selama ini mendekati saya hingga saya harus berpura pura terpikat olehnya. Di tambah lagi dia pernah bercerita tentang kisah pilu adiknya."
"Ratu maafkan saya ratu," ucap Marlos memohon.
"Tapi, saya tidak habis pikir kenapa kau bisa secepat itu mengambilnya."
"Itu...itu karena ramalan penasihat Qin," ucap Marlos yang spontan membuat semua kaget.
"Apa !!!"
"Kenapa kau dapat mengetahuinya?"
"Tanpa sengaja saya mendengarnya saat kau berbicara pada sang Phon."
"Kapan?"
"Sesaat setelah Ellgar dan Lobeli di tangkap. Kau diam-diam mendatangi sang Phon dan berbincang bincang padanya."
"Kau mampu mendengarnya?"
"Iya. Bahkan saya pun dapat melihat bentuk asli dari sang Phon tanpa penasihat membukanya."
"Dari mana kau bisa melakukanya. Tidak sembarangan peri bisa hal tersebut. Siapa kau sebenarnya ?!"
"Dari wilayah timur. Saya sebenarnya hanya peri obat biasa, kala itu di mulai saat pertarungan sesama monster terjadi. Saya dan Nonnus terpisah di sana saat saya akan menarik kembali tanganya karena api besar yang menghantam kami di balok kayu dan saya pingsan. Setelah itu saya terbangun tanpa sengaja saya sudah berada di samping salah satu monster ular naga terkuat pada waktu itu. Dia tengah sekarat dan saya menyentuh matanya yang mengeluarkan air mata terakhirnya. Lalu, saya tanpa sengaja dapat mendengar sang ular naga yang berkata, " selamatkan anak ku, Ecidna."
"Lalu bagaimana kau bisa sampai kemari?"
"Saya hanya mengikuti insting. Siapa yang tahu, saya mencari Nonnus sekian tahun berkelana dan bertemu di sini saat sebelum sang Phon hadir waktu dulu."
Beberapa peri menangis mendengar kisah pilu itu.
"Itulah mengapa saya tidak ingin mengecewakanya kembali. Tidak ingin meninggalkanya dalam keadaan apapun lagi seperti dulu. Saya hanya ingin membuatnya di lihat seperti peri-peri yang lain."
"Kakak..."
"Saya sedih jika harus melihatnya menangis. Itulah mengapa saya menggunakan Ellgar juga Lobelia sebagai tameng, juga merayu sang Ratu karena ingin mendapatkan dukungan."
"Kau mengakuinya?" tanya Ratu Pheesa.
"Saya mohon ampun Ratu." Tubunya sujud ke tanah.
"Apa kau dapat di percaya?"
"Sekali lagi saya mohon ampun dan maafkan saya ratu.
"Ratu maafkan kami..." ungkap Nonnus.