
Istana peri masih seperti biasanya yang di balut dengan segala kesibukan para peri istana, dan perawatan terhadap Ratu yang terbaring lemah. Hari itu tepat hari ke-6 waktu yang di jadwalkan untuk Marlos dalam merawat Ratu Pheesa. Seperti biasa Marlos hanya menambahkan obatnya, dan melihat kondisi Ratu saja.
"Marlos," seru seorang wanita dari belakang.
Marlos meresponya dengan menoleh lalu berkata," Kau...!!" sontak wanita itu membuatnya kaget karena masih berdiri tepat di hadapanya. Sedangkan, Marlos sendiri sudah tahu harusnya dia berada di sel istana peri. Dengan wajah penuh keringat dia menyambungnya lagi. "Kau, kenapa bisa?" dia bertanya tanya tentang mereka yang masih berkeliaran.
"Kenapa kau terkejut? bukankah baru beberapa hari yang lalu kita makan kue bersama?"
"Kau berbicara apa? kita tidak pernah dekat satu sama lain," balasnya lantang di saksikan oleh peri-peri yang lain.
"Ah..benar begitu? Oo...saya memanggil kau hanya karna ini." Ujar Lobelia, mengangkat kertas resep obat milik Marlos.
"Kau! apa maksutnya."
"Seharusnya saya yang menanyakan padamu. Tentang resep ini, obat macam apa yang kau gunakan untuk penyembuhan pada Ratu. Apa kau yakin akan menyembuhkanya? atau... atau jangan-jangan kau tidak mengerti medis dan obat tradisional dari tanaman. Bukankah sumber kita berasal dari mutiara starseed itu..."
Semua peri yang menyaksikanya ikut tercengang dengan ucapan Lobelia. Marlos, yang selama ini dekat sekali dengan Ratu Pheesa tidak mungkin melakukan hal seburuk itu.
"Mengerti. Saya mengerti!" balas Marlos.
"Lalu? bolehkah kau menjawab saya untuk menjelaskan tentang isi dalam lembaran ini," ucap Lobelia.
"Sudah jelas. Ini adalah resep obat, jika memang ada racun di dalamnya Ratu pasti telah mati dari dulu."
"Huh! saya tidak pernah membicarakan tentang racun, wahai peracik racun. Sayang sekali bakat yang di gunakan untuk keburukan." Ujar Lobelia, makin memojokan Marlos untuk segera membuka mulutnya yang bungkam.
"Bicara apa kau! kau yang memaksa ku!"
"Tidak. Saya hanya ingin tahu apa yang kau buat pada Ratu. Saya telah mengecek resep ini dan isinya membuat saya cukup terkejut dengan keberanian kau, Marlos."
"Huuh!! apapun yang kau temukan di sana, kau tidak dapat memojokan saya, dan juga kau harus ingat penyakit ini belum pernah di temui oleh para peri termasuk peri medis. Jadi, jika kau akan menuntut saya maka, tidak akan semudah itu untuk di jatuhi hukuman."
"Kau sebenarnya sedang berbicara apa? ucapan mu terdengar sampai ke telinga saya." Sahut Qin Perak yang diikuti Belle berjalan di belakangnya.
"Putri Belle, Penasihat Qin. Maaf, kalian telah mendengarkan keributan ini, maafkan saya." Dia menunduk sejenak, dan matanya menengok ke atas melihat Qin Perak dan Belle. Dia sedikit berhati hati dalam berbicara karena Lobelia cukup dekat dengan Putri Belle.
"Apa yang kau ucapkan tadi," tanya Belle mempertegas.
"Yang mana, Putri."
''Yang kau ucapkan baru saja pada Lobelia."
"Itu... itu hanya sebuah kesalah pahaman saja," jawabnya.
"Kesalah pahaman yang bagaimana?"
"Tadi, dia berkata bahwa saya mengenalnya, Padahal di sini semua dari rakyat peri tidak ada yang boleh berdekatan denganya."
"Hmm... benar begitu?"
"Benar Putri."
"Baiklah... lalu bagaimana dengan kau Lobelia? apa yang ingin kau katakan."
"Baik Putri. Yang pertama : Saya hanya menyapanya karena kami memang sering bertemu, lebih tepatnya dia dan adiknya yang menemui kami..." hari itu semua berbisik sambung menyambung menyaksikan mereka bak melihat sandiwara. Lobelia berkata lagi," Yang kedua : Saya hanya ingin memastikan apakah dia tahu isi dari lembaran resep obat buatanya sendiri. Yang ketiga : Saya hanya ingin memastikan bahwa dia adalah peri yang sedang baik-baik saja."
"Apa salahnya jika kau menjawab pertanyaan wanitaku," potong Ellgar yang telah berhasil membawa bukti obat-obatan milik Marlos dan menangkap Nonnus.
"Apa ini semua, kenapa kalian memojokan saya." Marlos, berpikir mereka akan membahas hal tentang semua obat miliknya.
"Kakak..." seru Nonnus dengan ketakutan.
"Nonn," tubuhnya di hadang oleh Belle saat akan menghampiri Nonnus.
"Kau tinggal menjawabnya saja," ucap Belle menatap tajam padanya.
"Saya tidak mengetahui penyakit Ratu. Saya hanya mengetahui saja jika penyakitnya susah di sembuhkan, sepertinya datang dari sebuah wabah pada saat kejadian di masa lalu yang membuat dia kritis. Dan mengenai resep, resep itu saya yang buat sendiri. Saya berpikir bahwa, itu dapat membantunya."
"Apa kau gila, kau yakin itu dapat membantu." Potong Lobelia, cepat.
"Tunggu dengarkan saya dulu."
"Jelas obat yang kau gunakan dapat membekukan darah jika di konsumsi terus menerus."
"Jangan sembarangan kau!"
"Saya mengerti tentang pengobatan dan saya mengerti apa yang telah kau berikan pada Ratu," bentak Lobelia.
"Lalu, kau mau apa! Ratu sendiri yang secara pribadi meminta saya untuk merawatnya. Saya pun telah mengatakan resiko dari obat yang saya racik. Obat saya mampu meredakan rasa terbakar dan sesak di dadanya tapi, juga memiliki efek samping, namun beliau telah mengiyakanya." Tegas Marlos begitu berani di depan semua peri termasuk peri-peri istana.
"Lalu bagaimana dengan ini," tanya Sila memotong percakapan mereka dan membuka benda mungil di tanganya.
"Apa yang mau kau katakan lagi," ucap Soni dan Grek yang memegang erat Nonnus agar tidak kabur.
Marlos yang melihat kejadian hari itu seketika membeku sekujur tubuhnya lalu berkata, "ba...bagaimana bisa?" tubuh kecil itu bergetar dan mengeluarkan keringat yang bercucuran. Bibir kecilnya seakan terpaku tak mampu terbuka lagi untuk menjawab mereka. Kedua bola matanya menyaksikan seluruh peri dalam ruangan tersebut tengah menghinanya dengan tatapan yang jijik padanya.
"Apa kau ingin tahu kenapa kami bisa mengetahuinya?" ucap Ellgar, dan di jawab anggukan oleh peri Marlos.
.
.
#FalshBack On
Hari ini Ellgar dan Lobelia, melaksanakan rencana metode AB untuk mencari bukti pada kedua peri kakak beradik Marlos dan Nonnus. Lobelia, meminta bantuan kepada Qin Perak untuk membujuk peri Soni, Sila, dan Grek ikut andil dalam penyergapan ke rumah pohon peri Marlos. Sedangkan, Lobelia ikut andil dalam memojokan Marlos di istana untuk mengulur waktu sampai mereka kembali, di bantu dengan Belle juga Qin Perak. Pergerakan kakak beradik itu sebenarnya sudah menjadi sorotan dari Qin Perak sejak lama. Hanya saja Marlos berhasil mengambil alih hati dari sang Ratu hingga dia mendapat dukungan penuh darinya.
"Kita tunggu saja sebentar di luar sampai Marlos keluar untuk berangkat ke kerajaan. Pada saat itu kita bisa ambil kesempatan untuk menyelinap masuk ke dalam rumah pohon ini," ucap Ellgar memberi instruksi.
"Ya."
Momen yang di tunggu-tunggu oleh ke-4 peri itu pun tiba. Marlos dan Nonnus keluar rumah untuk mengantarnya berangkat ke istana seperti biasa karena hari ini tanggal yang sudah di jadwalkan untuk mengontrolnya. Ke-4 peri itu terbang dalam sekejap masuk melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Ellgar, memberikan instruksi pengkodean tangan tanda siap mengambil posisi masing-masing. Mereka terus mengamati pergerakan dari Nonnus sampai akhirnya, dia memasuki ke sebuah ruangan dan ternyata isinya adalah mutiara starseed yang di sampingnya masih tergeletak kain yang pernah di lihat oleh Sila.
"Jadi, kalian lah yang selama ini telah mencurinya...!!!" seru Sila bernada tinggi.
Karena terkejut Nonnus hampir saja menjatuhkan mutiara itu namun di tangkap oleh Ellgar, Grek, juga Soni.
"Hei..!!! kau. Kau hampir saja menghancurkanya, sudah mengambil tanpa ijin dan sekarang ingin menghancurkanya." Sahut Sila yang tengah murka padanya.
Seketika itu pula Nonnus di pegangi oleh Soni dan Grek. Mereka membagi tugas Ellgar mencari bukti dari kelicikan Marlos, Sila mengamankan mutiara starseed dan Soni, Grek menangkap Nonnus adik dari Marlos untuk di bawa kembali ke kerajaan peri.