Love In The Last Holy Mountain

Love In The Last Holy Mountain
Jawaban Untuk Mereka



Dari sisi tangan kanan terlihat kosong tidak ada luka atau apapun tentang itu. Mata saling memandang tanda bahwa tidak terjadi apa apa. Jari jemari yang lain berusaha memastikan kembali dengan menggesekanya ke atas dan ke bawah, namun benar adanya bahwa tidak terjadi apa apa, dan tangan mereka tetaplah mulus tanpa bekas apapun.


"Apa maksutnya...?" tanya Ellgar.


"Kami tidak menemukan apapun," sambung Lobelia.


"Itulah jawabanya," balas Belle.


"Maksutnya," ucap Ellgar, bertanya.


"Jika kalian berniat buruk dari awal, dan berhasil lolos dari Phon, kalian sudah dapat di pastikan akan mendapat bekas luka di bagian tangan kanan kalian," jawabnya.


"Darimana kau mengetahuinya," balas Ellgar, bertanya.


"Seperti yang saya katakan di istana, bahwa saya telah belajar dan mendapatkan kemampuan untuk membedakanya. Jadi, selama ini saya telah menganalisa para penjahat itu, dan semuanya memiliki tanda bekas luka yang sama. Saat saya menginterogasinya mereka mengatakan bahwa, bekas luka itu di dapat setelah melewati Phon," jelasnya menjawab pertanyaan dari Ellgar.


"Lalu, kau percaya begitu saja?"


"Awalnya saya tidak percaya pada mereka. Tapi, setiap harinya saya terus mengkorek informasi dari mereka satu persatu hingga mereka lelah. Di tambah lagi dengan ancaman kelumpuhan bagi para penjahat itu. Dan mereka semua akhirnya menjawabnya dengan jujur. Penjelasan dari mereka memang berbeda beda tetapi intinya tetap sama."


"Kenapa dengan ancaman yang seperti itu mereka yang awalnya bungkam, tiba-tiba membuka mulut," balas Ellgar, bertanya kembali.


"Bukankah kalian tahu bahwa, kelemahan terbesar bagi para peri adalah kelumpuhan. Dimana sebagian hidup peri bergantung pada sayapnya. Jika ada peri yang tidak dapat terbang, itu adalah hal yang paling memalukan karena akan di kucilkan seumur hidupnya."


"Jadi, begitu... lalu bagaimana dengan penasihat yang bernama Qin Perak itu?"


"Dia sudah melalui prosesnya sendiri dengan lika liku hidupnya. Dia memang mengalami kelumpuhan dari bayi tetapi di balik kekuranganya, dia memiliki kekuatan besar untuk kami para peri. Dan dia sangat berpengaruh bagi kami," jawabnya.


"Baiklah, terimakasih."


"Eits.. tunggu dulu. Ya..ya, kenapa bisa kalian tidak tahu tentang itu. Apa jangan jangan.... kalian sebenarnya bukan peri?" tanya Belle, mengangkat alis.


"Tidak..! kami dari awal memanglah peri. Hanya saja kami tidak tahu yang seperti itu," jawab spontan dari Lobelia.


"Ooh...."


"Tunggu...!! kenapa kau dapat mengerti tentang lengan kami?" seru Ellgar, bertanya untuk memastikan kembali.


"Oh..ya. Kau teliti juga. Kalian memang memakai lengan panjang berbeda dengan kami. Tapi, bukan berati saya tidak dapat mengetahuinya. Itu semua karena saya meneliti Phon."


"Meneliti...??" jawab keduanya.


"Hahahaha...kalian kompak sekali, benar-benar serasi. Hmm....ya, saya menelitinya dengan mengecek bagian dari tubuh Phon. Jadi, dia akan mereflek untuk merubah warna daunya selama beberapa hari jika bertarung dengan peri luar. Posisi tubuhnya pun akan berubah, karena adanya pergeseran pada akar. Tubuhnya yang bergeser terletak pada bagian akar besar yang melilitkan diri di bagian inti, tepatnya di bagian tubuh besarnya yang kokoh."


"O... jadi begitu," jawab Ellgar, mengangguk angguk.


"Ya... baiklah. Kalau begitu kalian beristirahatlah. Saya akan kembali lagi besok," ucap Belle.


"Baik, selamat jalan." Jawaban Lobelia, disambung senyum ringan oleh Ellgar.


#Di tempat lain.


Qin Perak, yang sedang di ruanganya untuk memantau pergerakan rasi bintang, tiba-tiba di kagetkan dengan kedatangan Sila dan berkata," Apa kau yakin mereka dapat di percaya...?" dia mendekat kepada Qin Perak hingga hembusan napasnya terasa.


"Kau gemetar..." balasnya.


"Tidak !! kau salah," Sila mengelaknya.


"Apa yang kau takutkan," tanya Qin Perak.


"Tidak...!! tidak ada."


"Kenapa," tanya Qin Perak.


"Apanya !!! saya baik baik saja," jawabnya bernada panik.


"Kau panik...," tanya Qin Perak.


"Tidak...!!!!"


"Kau masih sama saja."


"Kau pikir Belle telah belajar," bentak Sila bertanya.


"Setidaknya dia telah membuktikanya, dan bukan selalu menjadi penakut yang kemudian berbohong pada diri sendiri. Terimalah kenyataan," jawabnya bijak.


"Aaarrrgh..!" Sila, memegang kepala. "Baik...! baiklah. Ya, saya tengah ketakutan...!! dan saya berbohong."


"Apa yang kau takutkan. Cobalah untuk tenangkan dirimu," ucapnya memberi saran.


"Huuuft..." Sila mengambil napas panjang lalu berkata, "saya masih trauma dengan yang lalu. Saya takut, jika tidak bisa melindungi semua lagi. Dan...dan bagaimana jika ratu terbaring lemah lagi. Kemudian, bagaimana jika rakyat kembali tak terurus. Lalu...lalu saya hanya memelototi wajah mereka dengan gugup, saat mereka semua tengah meminta pertolongan. Kemudian...kemudian saya mulai menyakiti diri sendiri lagi, karena tidak memiliki kemampuan apapun." Ucapnya menjelaskan dengan panik, dan ada getaran pada suaranya, mulai berkaca kaca.


"Tidak, janganlah takut. Cobalah untuk berdamai dengan ketakutanmu. Serta, usahalah untuk jalin kerjasama yang baik dengan lain. Jangan kau membebankan semuanya pada diri sendiri. Kau jangan menjadi berlebihan, mereka bukan penjahat seperti yang lalu, " jawabnya bijak.


"Percayalah... semua baik baik saja. Dewa melindungi."


"Tapi..."


"Kembalilah, dan tenangkan dirimu. Saya tengah bertugas."


"Hmm...baiklah. Terimakasih, kau telah mendengarkan saya."


"Sama-sama..."


...... Duuugghhh ......


Suara tubuh yang bertabrakan.


"Ah..! kalian kenapa buru-buru sekali," seru Sila.


"Kami sedang menuju untuk berkunjung ke teman yang sakit."


"Baik... berhati hatilah," jawab Sila yang tanpa sengaja, kedua bola matanya menoleh pada bungkusan yang mereka bawa dan bergumam, "sepertinya itu terlihat tidak asing. Ah, sudahlah..." dia mengabaikanya, dan bergegas kembali.


Sesampainya di istana, Soni dan Grek menghampirinya dan berkata, " dari mana saja kau..." tubuh-tubuh peri lelaki yang begitu menawan dengan gagah menghadang langkah Sila.


"Hei, kalian...! bisa minggir, saya sedari tadi sedang patroli. Huh..!!"


"Hehe... iya, iya. "Jawaban dari keduanya yang kemudian menjadi lemah lembut.


"Oh....ya. Tadi saya bertemu kakak beradik, Marlos dan Nonnus. Saat berjalan kemari, saya melihat mereka sedang terburu buru. Katanya ingin berkunjung ke teman yang sakit," ucap Sila.


"Apa...? ada yang sakit saat ini? apa itu parah," tanya Grek.


"Entahlah... saya lupa bertanya," jawabnya.


"Lalu bagaimana dengan para peri itu," sambung Soni, bertanya.


"Mereka sedang bersama putri Belle. Saya percaya padanya."


"Baiklah..."


"Ya sudah. Mari kita melanjutkan penjagaan lagi, " ucap Sila.


"Baik.."


Ellgar dan Lobelia, setelah selesai beristirahat berencana untuk berjalan jalan sebentar, sambil mencari tanaman obat jika ada.


"Kalian...!! Hei, hei..!" teriakan dua peri dari kejauhan sambil melambaikan tangan.


"Kau memanggil kami...?" tanya Ellgar.


"Ya.."


"Ada apa?" tanya Ellgar, menjaga Lobelia.


"Perkenalkan saya Marlos, dan ini adik perempuan saya Nonnus," ucapnya memperkenalkan diri.


"Ya, baik. Saya Ellgar dan ini Lobelia."


"Salam kenal..." sambung Lobelia.


Lobelia, mencium bau racun yang cukup kuat dari kakak beradik itu. Kemampuan indra penciumanya dari lahir ini, tidak menghilang bersamaan dengan kekuatanya. Tetapi, Lobelia tetap tenang saat berbicara dengan mereka.


"Kalian ingin kemana?" tanya Marlos, sang kakak.


"Kami hanya berjalan jalan saya," jawab Ellgar, tetap waspada.


"Oh, kalian... sayap kalian indah," timbal Nonnus.


"Terimakasih," jawab Ellgar, datar.


"Juga lebih besar dari milik kami," ucap Nonnus.


Ellgar dan Lobelia, tidak menjawabnya dan hanya menyambutnya dengan senyuman ringan saja untuk kakak beradik itu.


"Baiklah...bagaimana jika kita berjalan bersama," ajak Marlos.


"Apa kau yakin," balas Ellgar, bertanya dengan mengangkat alis.


"Ya..."


"Baik..silahkan," jawab Ellgar, tetap menjaga Lobelia.


Ini baru pertama kalinya ada penduduk peri yang mau mengobrol dengan mereka. Apalagi mengajak untuk berkeliling.