
Trisula itu dicegah oleh singa emas tetapi dia tidak mampu menahan nya lebih lama dan trisula api hitam menembus ke tubuh singa emas tersebut. Kini tinggallah, Te Heya sendiri yang menghadapi mereka berdua.
***
Elvern, yang juga telah melakukan kontrak darah dengan Te Heya, di tempatnya di temani oleh Lysandra. Dia juga yang tengah menemani Elevern yang sedang berusaha membuka telepatinya agar dapat berkomunikasi dengan Te Heya. Namun, lagi-lagi usahanya gagal terus tidak ada tanda-tanda dari keberadaan Te Heya.
"Masih saja, saya telah mencobanya berkali-kali," ucap Lysandra.
"Ini pasti ada yang tidak beres."
"Apakah dia dalam bahaya," tanya Lysandra.
"Jika memang dia dalam bahaya seharusnya dia memanggilku, tapi ini tidak. Aku pun bingung dengan perasaan yang tak karuan ini sekarang," ungkap Elevern.
"Sebaiknya saya turun gunung."
"Illios," teriak Elevern.
Mereka pun mengalami perdebatan hebat di altar kuil suci melian.
"Apakah kau lupa bagaimana dengan kondisi Gunung suci ini para tetua sedang tidak stabil dan saling merebutkan posisi Te Heya."
"Lalu bagaimana ?? Apa yang sebenarnya terjadi?"
" Yakinlah... Dewa Morpha, tak akan tinggal diam saja."
"Kau benar."
"Kita hanya perlu percaya padanya."
"Baiklah..."
***
Te Heya, yang geram kala itu matanya berkobar-kobar api dan dia mulai melakukan penyerangan bertubi-tubi pada Apollodorus dan Ecidna. Sekali lagi dua kombinasi itu kekuatannya setingkat dengan manusia setengah dewa yang mana jika dilihat dari levelnya sudah seperti tingkat surgawi tahap lanjutan. Ditambah lagi dengan kecerdikan dari dua kombinasi tersebut Te Heya, yang masih di tingkat cahaya harus menguras banyak energinya dikatakan bahwa Ecidna adalah monster terkuat pada zamannya.
Te Heya, terus membalas serangan mereka dengan pedangnya yang mengeluarkan cahaya kebiruan kemudian memainkan teknik menggandakan pedang bahkan mampu membekukan bloodstorm dalam sekejap.
Pada akhirnya, kali ini Apollodorus berniat untuk mengakhiri pertempuranya dengan mengaktifkan segel Yao. Te Heya sedari tadi telah merasakan ada keanehan pada kedua bola mata Ecidna yang terus mengikuti gerakan pedangnya lalu dia mencobanya sekali lagi dengan gerakan yang sama dan ya, hasilnya memang serangan Te Heya, dapat di kembalikan oleh Ecidna karena tiap pergerakanya yang selalu diawasi gerak-geriknya dan dibaca oleh Ecidna.
"Sepertinya aku tahu siapa yang mereka incar." Gumaman Te Heya. "Aku mulai mengerti sekarang." Te Heya, segera membuka lingkaran portal miliknya dan membuka gerbang telepath kepada Elvern, sembari bertarung dengan keduanya. Saat lingkaran portal merah muncul kemudian di masukanlah pedang kabut es tersebut dan dikirim kembali ke gunung Melian.
"Elvern..."
"Dewi ...! Dewi, ini kau. Saya telah lama menunggu mu."
"Waktu ku tak lama lagi."
"Apa maksut dewi?"
"Saat ini aku berkomunikasi dengan mu, aku yakin Morpha juga mendengarnya tapi aku pun tahu dia tak dapat turun langsung membantu ku disini."
"Dewi saya adalah penjagamu saya selalu siap disisimu."
"Tidak Elevern, kau telah salah paham."
Suara pertarungan ikut terdengar jelas di telinga Elevern.
"Kontrak darah itu bukan untuk kau bersamaku atau kau dapat menjagaku tapi agar kau dapat mengabdikan diri sesuai dengan janjimu dan karena kau adalah seorang pelindung untuk gunung Melian. Jagalah Segel Lotus gunung Melian pada pilar segi lima, jangan kau pedulikan ku."
"Tapi, Dewi..."
"Dengarkan saya, perjuanganku telah sampai di sini singa emas telah mengorbankan nyawanya untukku. Satu pesanku untuk generasi penerus ku, Apollodorus dan Ecidna begitu licik. Naga itu dapat menyerap energi dengan mudahnya sehingga dia juga mudah melihat setiap serangan dari pedang kabut es."
"Dewi," seru Elvern.
"Satu lagi, pedang kabut es akan mencari penggantiku sesuai kemauannya dan pada saat itu pula kau harus menuntun pemilik barunya sampai ke level syurgawi."
..."Duaak..."...
...^^^"Buak..."^^^...
..."Uhukkk.... uhuk...!"...
Te Heya, terkena pukulan apollodorus tepat di dadanya dan memuntahkan darah.
"Jangan khawatirkan aku, kau jagalah pedang kabut es. Dia akan terus tertancap tepat di batu spiritual milik ku dan sampaikan maaf ku pada Morpha, karena hanya sampai di sini saja batas kemampuank u untuk melindungi gunung Mellian."
"Tidak, Dewi....!!!"
"Akkkh....uhuk hoek," Te Heya memuntahkan darah yang lebih banyak dari sebelumnya.
Te Heya, terkena serangan dari bloodstorm. Apollodorus, dengan tega membuat tubuhnya yang telah melemah menjadi bahan pelampiasanya.
"Kau ingat...! ini adalah balasan dari perlakuan lelaki itu pada orang tuaku dulu dan juga balasan karena wanita itu tak mau menjadi wanitaku."
"Lo-belia..."
Elvern, masih ikut mendengarkan pembicaraan mereka karena Te Heya belum menutup gerbang telepath miliknya.
Ecidna, seketika berubah wujud menjadi manusia wanita secantik Dewi berbaju merah dan berkata... "Akulah yang membuat energi terkuras wahai, nona Dewi."
"Kau... uhuk, uhuk. Kau perempuan siluman. Kalian mau apa?!"
"Elvern"
"Ya, Dewi."
"Sepertinya mereka akan membuat ku lenyap dari muka bumi ini tanpa jasad, dan mereka telah mengaktifkan segelnya."
"Dewi. Aku pergi ke sana, segera!"
"Sudah ku bilang, tidak! Kau jaga gunung dengan baik." Te Heya, menutup telepathi miliknya.
Saat ini Te Heya, berada pada posisi di tengah-tengah segel Yao, segel ini berbentuk segitiga sama sisi yang mana tiap sisinya terdapat lingkaran terdiri dari sisi kiri api hitam, sisi kanan blood storm, dan sisi atas api Abadi milik echidna. Segel Yao, berwarna merah gelap yang pada saat pengaktifannya dapat mengeluarkan cahaya begitu terang hingga menembus awan di langit yang mana langit ikut menggelap gulita.