
"Tang.... tang, tang. "
Suara pedang yang di tempa.
Ellgar, melepas baju atasnya karena, tubuhnya terasa gerah seharian menempa pedang tersebut.
"Paman itu...pria itu siapa? "
Seketika Lobelia, melongo melihat pemandangan tubuh yang indah dengan keringat yang bercucuran.
"Itu Ellgar, dia salah satu dari pandai besi di sini yang paling terampil," jawabnya.
"O,oh... " jawab Lobelia.
Mukanya kini memerah, godaan Lobelia yang seorang Putri kecantikan dari gunung suci mulai datang dengan melihat Ellgar. Mereka berdua pun berjalan ke arah Ellgar, dan tuan Xirius.
Ellgar, yang tanpa sengaja memandang ke arahnya, seketika jantungnya ikut berdebar. Kali ini dia seperti melihat dewi yang jatuh dari langit tertinggi, dan tidak seperti waktu pertama kali dia bertemu dengan Te Heya yang di penuhi tatapan dingin padanya.
Ellgar, memberikan senyumanya pada Lobelia, dan lobelia membalasnya dengan senyumanya.
"Nak, dia adalah Lobelia dari mansion atas pafiliun bangau emas. Dia ingin di buatkan persenjataan baru katanya," ujar Baron.
"Bukanya sudah di kirimkan pedang?" tanya Ellgar.
"Saya membutuhkan sebuah tombak," balas Lobelia.
"Ah!!! ya baiklah." Jawaban Ellgar dengan memandanginya tersenyum.
"Tuan sedang menempa pedang. Itu sepertinya berat."
Lobelia menanyakan tentang pedang tempaanya dimana, dia kepikiran tentang pedang permintaan gurunya pada mereka.
"Iya, ini pesanan dari penanggung jawab melian."
"Guruku?" tanya Lobelia.
"Yang saya tau dia bernama Te Heya, kau mau apa ke sini. Jika sudah selesai dengan urusan mu kembalilah, biarkan dia fokus dengan pekerjaanya!" seru Xirius menyela.
"Apa kalian sering bertemu?" tanya Lobelia yang mengabaikan tuan Xirius.
"Tidak! kami hanya bertemu sekali, dan itu pun dia sangat dingin pada ku," balasnya.
"Hei, kau! "
Suara teriakan lantang dari tuan Xirius karena, diabaikan.
"Sudah...sudah. Selesaikan pekerjaan mu nak, tuan Xirius akan marah jika kau banyak berhenti. Nona Lobelia, mari saya antar kembali," potong Baron.
"Tidak. Saya tidak mau pergi, saya ingin tahu tentang pedang itu," balas Lobelia.
Lobelia, sangat berani tanpa ragu namun, terkadang keberanianya itu terlalu berlebihan sehingga, membuatnya terlihat kekanakan.
"Lobelia, kami pun tidak tahu tentang pedang itu dan untuk siapa? guru mu hanya memintanya untuk membuat pedang itu."
Baron mengungkakan pada Lobelia dengan lembut.
"Kalo gitu maafkan saya paman, tuan. Saya tetap ingin di tempat ini."
"Huuft....!!!"
Helaan napas dari tuan Xirius setengah sebal.
Selang beberapa menit kemudian.
Tuan Xirius, yang tidak suka melihat pemandangan itu, seketika menghampiri Lobelia secara langsung. Dia hanya tidak ingin pekerjaan Ellgar terhambat saya.
"Nona kesini tujuan awalnya untuk apa?" tanya Xirius.
Lobelia, yang seketika langsung membaca situasinya, dia mencari alasan untuk tetap di tempat.
"Maafkan saya, tuan Xirius. Bukan maksut saya mengganggu pekerjaan di sini, saya hanya memastikan saja bahwa titipan guru saya di selesaikan dengan baik."
"Apakah benar begitu? Te Heya sendiri yang menyuruh kau untuk memastikan pekerjaan kami?" tanya Xirius penasaran.
"Emm..." angguk Lobelia.
"Kalau memang benar begitu, kenapa kau tadi mengatakan jika ingin tahu tentang pedang ini. Bukankah seharusnya kau sudah tahu, atau jangan jangan kau memang tidak tahu apa apa, dan hanya ingin mencari alasan saja, agar dapat tinggal lebih lama disini."
Xirius membalasnya dengan sindiran pedas karena, satu alasan yang tidak nyambung.
"Tuan, kau jangan seperti itu. Kau juga tiba tiba jadi sangat berlebihan." Seru Ellgar membantunya.
Lobelia, segera mencari alasan agar dapat keluar dari sitiasi ini.
"Baiklah kalau begitu," balas Xirius padanya.
Xirius, melanjutkan pekerjaanya untuk membantu Ellgar. Sebenarnya dia tahu bahwa, Lobelia tengah berbohong tapi dia membiarkanya.
"Nona, jangan di masuk kan ke hati ya. Sebenarnya tuan Xirius orang yang baik, tapi dia juga tegas dalam membimbing saya," ujar Ellgar padanya.
"Iya, tidak apa apa. Kalau begitu saya permisi, dan jangan lupa beberapa tombak yang saya pesan untuk mansion atas," jawabnya tersenyum.
"Iya nona... " balasnya senyum balik dari Ellgar.
Setelah Lobelia sampai ke mansion atas, dia segera mendatangi tetua pafiliun venus yang bernama Agaphi, dia memanggilnya senior Agaphi.
Agaphi, adalah orang yang dari dulu telah menyukai Te Heya tapi, dia tidak berani mengungkapkanya langsung pada murid Dewa kehidupan itu. Itu lah yang membuat dia cukup dekat dengan Lobelia karena, ingin mencari informasi tentang seauatu yang Te Heya suka dan yang lainya.
Saat ini Agaphi telah mencapai tingkat cahaya level 3 ajna, dia sedang melatih para muridnya.
"SENIOR!!!"
Teriak Lobelia yang melambaikan tangan.
"Oh, haaiii ahahahahahha....lama tidak berjumpa dengan kau Lobelia. Oh, bukan maksut saya, putri kecantikan." Balasan dari Agaphi, dengan sambutan memuji.
"Senior jangan berlebihan, sebelumnya saya ingin minta maaf karena, saya tidak pernah mengunjungi mu," ujarnya.
"Tidak apa, saya juga minta maaf karena, telat mengucapkan selamat atas gelar yang kau pakai dari Dewa kehidupan. Dan kali ini, dia pun sudah jauh melampaui saya," jawabnya.
"Iya senior, saya bersyukur telah di berikan gelar ini dan saya kesini ingin bertanya sesuatu kepada mu," balasnya.
"Katakanlah, saya akan selalu menjawabnya jika bisa. Mari masuk sambil minum teh hijau."
Agaphi mengajak Lobelia ke dalam ruanganya.
"Saya ingin bertanya mengenai Gunung ini dan guru saya, Te Heya!" ungkapnya.
"Huuft... baiklah. "
Setelah mengambil napas panjangnya dia memulai pembicaraan dengan memperkenalkan Te Heya terlebih dahulu.
"Te Heya, adalah anak didik Morpha yang kini kalian sebut sebagai Dewa Kehidupan. Dia dulu adalah pimpinan pasukan dari jendral Meirion, yang di tugaskan menjaga gunung ini dari tentara kerjaan Thebes, hingga akhirnya jendral Meirion tewas bersama istrinya."
"Siapa jendral Meirion?" tanya Lobelia, memotongnya.
"Dia... dia adalah ayahnya Te Heya. Setelah kejadian itu Morpha, mengangkatnya menjadi anak didiknya hingga dia menjadi manusia pilihan, dan sekarang tinggal di nirwana. Itulah kenapa para senior yang setingkat lebih tinggi darinya hanya menjadi tetua pafiliun saja, dan tidak menjadi penanggung jawab gunung suci ini. Ketauhilah kami para tetua tidak pernah iri padanya, karena kami tahu itu adalah tanggung jawab yang sangag besar. Gunung ini sekarang menjadi gunung suci terakhir dan menjadi incaran serigala kelaparan di luar sana."
Ungkap Agaphi menyambung ingatan kejadian masa lalu para pejuang Melian.
"Jadi seperti itu, itulah mengapa dia melarang saya mencari tahu tentang keadaan luar. Lalu senior, mengapa melian di bagi menjadi 2 bagian? apa kau tahu?" tanyanya penasaran.
"Tidak..."
Agaphi menggelengkan kepala lalu meminum teh hijaunya.
"Saya sudah mencarinya di buku buku sejarah, namun tidak ada jawaban disana."
"Ah.. iya, seingat saya dulu tempat ini hanya satu bagian saja yaitu, perguruan gunung suci melian, tapi tiba tiba Morpha atas nama Dewa mengumumkan pada kami tentang pembagian tempat di sini dan tidak boleh mengikut campuri masalah satu dengan yang lain alias privasi masing masing. Kau tau kan privasi?"
"Em.. "angguk Lobelia.
"Saat itu... jika tidak salah setelah terjadinya peperangan besar di beberapa kerajaan, serta perebutan kekuasaan pada gunung gunung di berbagai penjuru. Yang paling terkenal hingga ke telinga kami adalah kekejaman Raja wilayah Thebes," sambungnya.
"Siapa itu? dan dimana Thebes itu? " tanya Lobelia yang semakin penasaran.
"Saya pun tidak tahu putri, sejarah hanya mengatakan jika Morpha sudah membunuhnya. Tempat itu tidak jauh dari sini, kau dapat menempuhnya dengan berjalan turun gunung menuju ke arah barat daya."
Lobelia, mendengarkan dengan seksama penjelasan darinya, lalu mulai mengerti tentang sikap gurunya.
"Ha, kau jangan kesana itu berbahaya." Sambungnya memperingatkan.
"Tidak... " menggelengkan kepala. Tiba-tiba Lobelia terdiam, ternyata gurunya sangat ingin melindungi semuanya hingga terkesan over protektif.
"Apa senior tahu tentang mansion bawah?" tanya Lobelia.
"Sebaiknya kau jangan membahas hal ini, di depan orang orang mansion bawah. Setau saya putri, mereka hanya orang luar saja yang di ijinkan tinggal! hanya itu," jelasnya.
Lobelia, yang mengetahui bahwa tidak ada jawaban juga darinya, dia memutuskan untuk kembali ke pafiliun bangau emas.
"Putri! Coba dekati paman Baron, dia yang tahu jawaban dari pertanyaan mu," serunya.
"Emm... "
Selanjutnya Lobelia pergi ke tempat batu pelatihan untuk meningkatkan spiritualnya, mengingat dia tidak pernah mengasahnya dan hanya belajar bela diri saja.