
Sesampainya di istana, kedua matanya menatap dalam ke atas singgasana megah yang di selimuti oleh energi positif yang kuat dari dudukan sang ratu lalu Lobelia bergumam, "inikah sang ratu peri..."dia setengah terkejut dengan keagungan yang dimiliki oleh ratu peri tersebut. Ratu itu di balut dengan gaun emas, serta rambut indah keemasan dengan mahkota megahnya juga, dia memiliki sayap yang cantik lebih besar ukuranya daripada yang lainya. Dia terlihat begitu mempesona dan anggun. Berbeda dengan Belle yang lebih ke usia remaja itu. Dia cenderung lebih seperti kekanakan, imut, dan tidak mau mengalah. Wajar jika dia sering melakukan kesalahan karena lebih memilih egonya. Belle, di balut dengan gaun putih yang elegan, rambut silver yang di gerai di lengkapi dengan aksesories kupu-kupu di kepalanya yang elok di pandang. Belle, selalu memegang seruling bambu putih di tangan kirinya, suara yang nyaring di dengar itu berbeda dengan suara lembut dari sang ratu. "Siapa kalian....?" ucapan pertama yang keluar dari bibir mungil itu dengan kondisi mendekat ke arah Lobelia, suaranya lembut bak dewi kayangan.
"Sa...saya Lobelia, baginda ratu." Jawaban yang di keluarkan Lobelia dengan terbata, karena posisi ratu yang begitu dekat denganya.
"O.. saya Pheesa. Siapa yang tengah bersama kau...?" tanya ratu Pheesa.
"Dia pasangan saya, Ellgar..." jawab Lobelia.
"Apa tujuan kalian datang kemari?" tanyanya lagi sedikit menjauh dengan suara lantang, tetap anggun.
"Sebelumnya kami datang dari dunia yang berbeda, dan tujuan kami adalah mencari kebebasan untuk bersama," jawabnya lagi dengan sikap beraninya.
"Dunia berbeda yang seperti apa...?"
"Dunia yang saya maksut adalah, dunia yang di penuhi dengan ambisi kekuatan spiritual, dunia dengan banyaknya para pertapaan, dan dunia dengan aturan-aturanya untuk orang-orang tertentu saja," jawab Lobelia.
"Apa ada yang seperti itu?"
"Iya... ada ratu. Itu adalah dunia, dimana yang kuat dialah yang berkuasa, dimana yang lemah, dialah yang tertindas."
"Lalu aturanya..??"
"Aturan itu hanya berlaku untuk orang-orang super power saja. Jika dia terpilih maka aturan berlaku, itu lah dimana dunia dengan skema antara langit dan bumi."
"Kenapa saya baru mendengar tentang hal itu?" tanya ratu Pheesa.
"Iya benar...! kami juga baru mendengarnya." Sahut Soni, Sila, dan Grek.
"Dia tidak berbohong," balas Ellgar yang sedari tadi hanya berdiam diri.
"Saya perlu bukti yang akurat," jawab ratu Pheesa.
"Kami berdua adalah buktinya. Saya terlahir dari kalangan bawah yang diibaratkan sebagai bumi, dan dia terlahir dari kalangan atas yang diibaratkan sebagai langit." Jawab Ellgar, tegas.
"Apa kau mempercayai mereka ratu?"
"Sebentar.. ..! penasihat Qin...Qin Perak." Seru sang ratu.
"Iya ratu..."
"Bagaimana dengan pendapat kau..."
"Biarkan mereka menceritakan kejadianya, dan kita bisa mengambil jalan keluar bersama tanpa harus menyakiti."
"Hmmh....baiklah."
"Ceritakan apa yang telah terjadi," seru sang ratu pada keduanya.
"Tunggu...!!" seru Qin perak. "Kau boleh bercerita sesuai dengan keadaan kau saat ini saja," sambungnya.
Lobelia, bingung maksut dari penasihat tersebut dan berkata, "baik...mari dengarkan saya untuk bercerita...****" Lobelia, menceritakan semua yang telah terjadi tanpa menyebutkan bahwa, mereka adalah manusia dan Lobelia yang sesungguhnya adalah seorang spiritualis tahap manusia suci. Setelah dia menceritakan pertemuanya dengan penguasa Apollodorus, ratu Pheesa memotongnya dan berkata, "apakah Apollodorus itu juga seorang peri...?? jika benar dia tinggal di mana?? kenapa kami tidak pernah mendengar namanya..." suara lembut yang awalnya begitu tenang kini menjadi sedikit panik. Lobelia, menoleh ke arah Ellgar, "bukan... dia adalah manusia, ratu..." jawabnya jujur.
Seisi ruangan di istana tersebut saling berbisik satu sama lain. Mereka berpikir bahwa dia sedang berhalusinasi karena, selama mereka keluar hutan peri selalu menemui atau melihat manusia dengan hal-hal yang baik saja, dan tidak pernah ada kejahatan sama sekali. Dengan kata lain mereka, sesama manusia hidup damai berdampingan.
"Setelah ini... saya berharap ratu dapat menerima kami, dan memberikan kami berdua untuk ijin tinggal," pinta Lobelia.
"Saya tidak bisa langsung mempercayai kalian, apalagi memberi tempat tinggal. Kau terlalu banyak berkhayal, kau akan saya kirim kembali ke tempat asal, dan tidak dapat masuk ke pintu utama lagi." Jawab sang ratu Pheesa, memberi
keputusan.
"Tapi kak... saya melihat dari mata keduanya bahwa mereka berkata jujur. Jika kau tidak mempercayai mereka, maka biarkan mereka tinggal tidak perlu mengusirnya. Saya yang akan bertanggung jawab," timbal Belle yang menentang keputusan dari kakaknya.
"Saya mengakui kesalahan saya di masa lalu. Tapi untuk kali ini saya benar-benar telah belajar kakak ratu, tolong... percayalah."
"Apa yang telah kau petik," tanyanya.
"Itu... tentang diri saya sendiri. Bagaimana saya dapat belajar dari kesalahan, dan bukan rasa bersalah yang berlarut hingga membuat sebuah penyesalan seumur hidup. Saya telah mendapatkan kemampuan untuk membedakanya."
"Penasihat Qin...bagaimana menurut kau," ujar ratu meminta pendapat dari Qin Perak.
"Menurut saya biarkanlah mereka tinggal. Jika ada niat buruk dari mereka, kita bisa menghukumnya. Ratu, ingatlah... bukankah tidak mudah untuk lolos dari sang Phon, si pintu utama hutan peri kita,'' jawabnya bijak.
"Kau benar..." balas ratu yang kemudian mendekat pada Lobelia juga Ellgar dan berkata, "Lobelia, dan Ellgar, ya... baiklah. Saya mengijinkan hak tinggal untuk keduanya di bawah pengawasan Belle, dan Sila." Ucapnya tegas.
Ratu Pheesa, kali ini mempercayai adiknya. Dia berpikir keras bahwa mereka dapat di beri kesempatan tinggal. Apalagi sang penasihat sudah memberikan wejangan juga, agar tidak saling menyakiti.
Tempat tinggal Lobelia dan Ellgar, sedikit terasingkan dari penduduk peri yang lain. Karena, untuk menghindari segala konflik kedepanya.
"Kalian dapat tinggal di pohon ini. Memang sedikit jauh dari yang lain, tapi percayalah saya akan selalu berkunjung kemari." Ujar Belle.
"Terimakasih..." ucap keduanya.
"Sila... kau bisa kembali terlebih dulu."
"Baik...putri Belle." Sila terbang meninggalkan mereka bertiga, dan kembali bertugas di istana.
Suasana menjadi canggung. Mereka bertiga hanya berdiam diri, dan tidak mengeluarkan sepatah dua patah katapun. Akhirnya Belle mengeluarkan jurus jitunya, ''baiklah... jika memang sudah tidak ada yang bisa saya bantu, saya pamit untuk kembali..." ucapnya sambil
terbang kearah pintu.
"Tunggu...!!" Ellgar, memberhentikanya.
"Ya..."
"Mengapa...!! Mengapa di saat yang lain tidak mempercayai kami, tapi kau sebagai putri adik dari sang ratu malah mempercayai kami," tanya Ellgar, tegas.
"Duduklah...." ucap Belle, mempersilahkan kemudian menyambung pembicaraan kembali. "Saya barusan hanya mengetes saja, karena kalian diam seribu bahasa dan suasana jadi tidak enak. Hehehe..."
Ellgar dan Lobelia hanya saling menatap dengan tatapan tidak mengerti.
"Jadi kalian ingin tahu... jawabanya ada di lengan kanan kalian," ujar Belle tersenyum.
Lobelia, dan Ellgar makin tidak mengerti hingga membuat keduanya bergegas mengangkat lengan baju kananan mereka.
.
.
.
Penasaran apa yang ada di lengan kanan Lobelia dan Ellgar, standby terus untuk episode 28.
.
.
.
Akhirnya Author dapat Up lagi, kemarin lama banget gak Up karena kondisi yang kurang fit saja. Kasih Like, dan Komentarnya agar tetap semangat berkarya.
Thank You...♥