
Suasana bahagia yang bercampur haru hari itu berubah menjadi begitu hangat saat ratu hanya memberi hukuman kurungan kepada peri Marlos dan Nonnus secara terpisah namun di tempat yang sama. Ratu pun juga menyetujui tentang pembuatan aturan sistem kerajaan yang telah di sarankan oleh Lobelia.
Misi pertama mereka di dunia peri telah berjalan dengan baik. Banyaknya peri yang tak terjamah sekarang dapat di akui kembali dan keadilan serta keamanan juga kejujuran dari rakyat peri mulai di berlakukan.
"Nona Lobelia," sahut Qin Perak.
"Iya.. oh kau, penasihat."
"Panggil nama saya saja nona, tidak perlu sekaku itu."
"Baik, Qin. Ada apa?"
''Terimakasih kau telah mengubah segalanya menjadi lebih tertata di dunia kami."
"Sudah sewajarnya Qin untuk saling 'gotong royong'. Saya merasa sangat terbantu karena sudah di ijinkan tinggal di sini dan saya pun merasa bahagia di sini di tambah lagi saya selalu di temani Ellgar."
"Iya, nona. Dimana Ellgar ?"
"Dia sedang menemani Soni, dan Grek."
"Oh, mereka bertiga sudah akrab?!"
"Hahaha... kau bisa saja Qin. Lalu kemana putri Belle?"
"Dia sedang bersama Sila, berkeliling seperti biasa mengawasi para peri."
"Baiklah, sepertinya saya harus kembali ke rumah," senyum Lobelia.
"Apa mau saya temani ?"
"Tidak... tidak perlu, Qin."
"Baiklah, berhati hatilan di jalan pulang."
"Iya, terimakasih Qin."
Ratu Pheesa berhari hari telah membuat peraturan barunya yang berlembar lembar dokumen, hingga dia kualahan walaupun telah di bantu Belle dan yang lain. Sehingga, Ratu meminta bantuan agar Lobelia dapat membantunya.
Tuk... Tuk... Tuk...
"Ellgar..." seru Belle di balik pintu yang di bukakan olehnya.
"Iya, putri ini saya. Ada keperluan apa kemari?"
"Bolehkan saya masuk?"
"Silahkan."
''Huuuuaaaaargh !!!" Belle terlihat kelelahan hingga menggeram.
Mata Ellgar dan Lobelia yang melihatnya ikut terkejut sehingga dia berkata, "Kau kenapa...?"
"Huh! apa kau tahu?! semenjak di berlakukan peraturan itu, semuanya jadi super sibuk bahkan saya pun di buat hampir gila bolak balik melakukan ini dan itu. Sila, Soni, dan Grek sampai kualahan. Kakak sudah tidak sanggup menyelesaikanya," ucap Belle berbicara cepat dan tubuhnya mondar mandir lalu mengambil kursi posisi duduk tegap kemudian meniup poni panjangnya.
"Hahahahah...."
"Huh! baru kali ini saya melihat kalian tertawa lepas di balik keseriusan dan misteriusnya kalian."
Ellgar dan Lobelia hanya melongo
"Kami pun dapat tertawa seperti yang lain," ucap Ellgar."
"Iya itu benar," sambung Lobelia.
"Hahahahahah...." tertawa bersamaan.
"Lalu bagaimana?" tanya Lobelia.
"Kakak meminta kau untuk membantunya."
"Baiklah."
"Kau mau?"
"Untuk hal baik, kenap tidak?!"
"Argh !! syukurlah... beban ku segera berkurang."
"Hahahahahah," tawa Ellgar dan Lobelia juga Belle.
''Sstt... mari berangkat," pinta Belle.
Belle, Lobelia serta Ellgar membantu Ratu Pheesa setiap harinya. sedikit demi sedikit dari beban tersebut mulai berkurang, Ratu mulai sibuk setelah semua dokumenya di selesaikan.
Setelah semua selesai dengan urusanya, Ratu memberikan seluruh rakyat peri surat undangan pesta dansa di kediamanya besok.
Dirumah Ellgar dan Lobelia duduk berdua di atap rumah atau loteng kayu di bawah sinar matahari senja dan Lobelia memulai obrolan.
"Kemana liontinmu? apakah ikut mengecil? jika iya kenapa saat kita mengecil liontin mu tak terlihat lagi," tanya Lobelia mengawasi Ellgar
"Kau teliti sekali sayang..."
"Kemana?"
''Waktu itu memang saya tinggalkan di kaki pohon itu. Namun, saya sembunyikan di rerumputan di balik bebatuan. Setelah kita bebas, saya kembali ke tempat itu dan mengambilnya."
"Lalu?"
"Liontin itu tidak mengecil seperti kita. Jadi, saya hanya mengambil stonenya saja. Karena, jika saya harus membawa semuanya, saya tidak yakin akan mampu."
"Hihi.. Hehe... kau benar juga."
"Kau meledek?"
"Sudah sudah... ada yang ingin saya bicarakan pada mu."
"Apa itu?"
"Tentang Ecidna. Kau ingat naga yang waktu itu? lelaki itu juga memanggilnya dengan sebutan Ecidna."
"Kau benar. Lalu ?"
"Kita harus ke wilayah timur dan mencarinya. Naga itu sepertinya tidak ada niatan jahat dengan kita."
"Apa kau serius?"
"Kapan aku tidak pernah serius dengan kau, sayang."
"Saya tahu tapi ?"
"Tidak ada tapi! ini adalah kesempatan bagus dengan penggunaan tubuh mungil ini. Kita bisa dengan leluasa mencarinya."
"Baiklah, sayang."
"Jangan lupa untuk selalu membawa liontin naganya."
"Iya, sayang."
Keesokan harinya di acara pesta dansa semua telah berkumpul dan menari nari bersama. Hari itu begitu indah, tidak lupa dengan Marlos dan Nonnus yang di bebaskan sementara dari hukuman kurungan selama pesta berlangsung dan tetap dalam pengawasan. Seperti biasa Sila dan Belle sibuk dengan lembaran tugasnya dari Ratu Pheesa hingga membuatnya sibuk mondar mandir seperti cacing kepanasan karena harus mendata keseluruhan peri yang hadir. Baik peri dengan kekuatan atau yang tanpa kekuatan dan bakat alami.
"Wahai seluruh rakyatku ! di malam bahagia ini saya akan kabarkan tentang kebijakan dan tugas baru yang di persiapkan untuk para pahlawan kita," umum sang Ratu.
"Yaaay..... " sorak sorai para peri.
Isi , "Ellgar akan di karuniai menjadi peri penjaga istana bersama Soni dan Grek lalu Sila dan Belle kan menjadi badan pengawas kerajaan peri dan Lobelia akan menjadi penanggung jawab istana beserta di berikan gelar sebagai ibu medis."
"Tunggu Ratu !" seru Lobelia di kerumunan.
"Iya, Lobelia."
"Maaf bukan maksut kami menolak tapi, saya dan Ellgar tidak dapat menerimanya karena kami akan pergi ke sebuah tempat untuk sementara waktu."
"Kemana Lobelia ?"
"Ke tempat lama kami, hanya sebentar. Sebelum saya berangkat saya akan membuat banyak resep obat agar dapat di konsumsi untuk semuanya."
"Kau sungguh mulia. Baiklah... jika memang begitu kami akan menunggu."
" Terimakasih Ratu," jawab Ellgar dan Lobelia.
# Di tempat lain
"Agaphi, saya sudah tak sanggup menahan beban ini. Rasanya begitu sakit, saya akan menemuinya."
"Saya harus menemani mu Dewi."
"Tidak perlu, tolong jaga mansion atas. Jika memang dia dari awal berniat seperti itu. Aku merasa sungguh bersalah karena telah egois padanya."
"Dewi..."
"Saya akan segera menemui paman Baron."
"Dewi... Dewi tolong pikirkanlah dulu. Jangan ambil keputusan saat emosional kau tidak stabil."
"Terimakasih, Agaphi."
"Tapi, keputusan saya telah bulat."