
Lobelia, menaiki daun itu dan Ellgar kemudian menuju ke kerajaan peri.
"Rau, ratu di mana ratu?"
"Ellgar...Ellgar, saya di sini."
"Ratu, mari segera ke sang Phon dan buat pertahanan di sana sementara sembari menunggu kedatangan dari Lobelia."
"Lobelia ? kemana Lobelia?"
"Dia tengah mencari bantuan ke gunung."
"Gunung ?!"
"Saya jelaskan nanti saja. Mari, segera bawa semua yang tersisa untuk membuat tempat tinggal di sang Phon sementara."
"Baik"
***
Lobelia, Kini dia telah sampai di mansion bawah gunung Melian.
"Gedubrak !!"
Suara barang yang dijatuhkan oleh Lobelia tepat di kamar Sera.
"Apa itu?"
"Sera," seruan suara kecil dari Lobelia.
"Hah, kau siapa?"
"Lobelia."
"Lobelia?? Mengapa kau sekecil ini."
" Aku tak punya waktu. Antar aku pada tetua Mansion atas."
"Ba...baiklah."
Sera, kemudian bergegas pergi dengan langkah cepat menuju Mansion atas tapi setengah jalan aja bingung harus menemui siapa di mansion atas. Saat ini mansion atas masih kalut atas kepergian Te Heya, hinggga akhirnya dia bertekad menemui Grece di kuil bawah.
"Kau membawa saya ke mana?! Bukankah saya bilang untuk ke Mansion atas. Saya ingin meminta bantuan pada guru, Te Heya."
"Banyak hal yang tlah terjadi saat kau pergi, saat ini saya hanya mampu membawa mu pada Grece."
"Kuil bawah?"
"Ya"
"Grece," seru Sera.
''Ya, ada apa?"
"Hosh...hooosh!"
" Tenanglah. Mengapakah berlarian?"
"Ini...!" sodornya kepada Grece.
"Apa ini," tanya Grace pandangnya dengan seksama lalu disambung nya, "ini... ini peri?"
"Ya, lebih tepatnya peri Lobelia."
"Lo...lobelia!"
"Berhenti... ! Saya tidak punya banyak waktu, langsung saja. Saya membutuhkan bantuan kalian atau gunung Melian untuk memberi tempat tinggal pada rakyat peri."
"Ah..! sebaiknya kau bertemu dengannya saja."
"Hey, hey,,, hey... siapa? saya hanya butuh Te Heya, " ungkapnya. Grece, kemudian memandang kepada Sera. Dan Sera membalas dengan menggelengkan kepalanya.
"Nanti ku beritahu."
Dengan sigap Grece dan Sera membawanya pada Agaphi, dengan harapan agar dia dapat membawanya pada Elevern karena Grece dan Sera tak mampu terbang menuju kuil suci yang berada di atas awan.
"Mansion prajurit?!" tanya Lobelia.
"Jendral Agaphi dan Xin," seru Sera.
"Jendral...?" tanya Lobelia.
"Ada apa?"
"Lobelia? mana?"
"Ini," sodornya peri kecil itu.
"Kau, Lobelia."
"Ya"
"Ada apa?"
"Saya membutuhkan bantuan kalian untuk memberi tempat tinggal pada rakyat peri di sini. Tempat tinggal kami di Barat daya ada badai besar."
"Oh, kali ini jangan pada ku. Ini adalah tanggung jawab Elevern."
"Kau benar," sambung Xin.
"Hey...! Ada apa dengan kalian?! kalian kan bisa membawaku pada guru. Kenapa dari tadi tubuhku harus di oper terus."
"Waktu mu tak banyak kan?"
"Ya"
"Baik"
Agaphi, dengan segera menuju kuil suci dan membawa Lobelia kepadanya di sana pun sangat kebetulan ada Dewa kehidupan yaitu, Morpha yang mulai melihat pertahanan segel Lotus.
"Kenapa bisa ada Dewa kehidupan kemari Bukankah itu tugas Te Heya?"
"Kau akan tahu nanti."
"Permisi, dewa...mohon ijin" sujud Agaphi.
"Bangunlah... katakan, ada apa?"
"Lobelia, ingin berbicara dengan engkau," tangan Agapgi, menyodorkan dengan hormat posisi bersimpuh.
"Kau...? katakan ada apa, anak ku?"
"Hamba lobelia, menghadap mu. Hamba ingin meminta bantuan dari engkau untuk memberi tempat tinggal pada rakyat peri di sini karena wilayah kami terkena serangan bencana yang dahsyat."
"Dimana itu?"
"Baray daya, Dewa..."
"Oh, anak ku. Kau ada di barat daya."
"Ya, Dewa"
"Maafkan aku. Aku lah yang menyebabkan bencana besar tersebut. Ini akibat ulah Apollodorus yang telah menyebabkan anak asuh ku, Te Heya."
"Guru? ada apa dengan guru, Dewa."
"Sehari yang lalu dia dibunuh oleh Apollodorus bersama Singa emas nya."
Lobelia, kemudian melemas dan berkata... "makam..makam nya guru ada di mana Dewa?"
tanyanya.
"Dia lenyap tak berjasad."
"Tidak ! guru ku!" Lobelia, menangis sejadi jadinya.
"Sudahlah anakku, semuanya telah terjadi. Mari kita ikhlaskan Te Heya, dan mari segera menuju hutan peri Barat Daya. Elvern, kamu jaga gunung Melian dan Lysandra juga Agaphi mari ikut denganku."
"Baik. Kami siap menerima titah dari sang Dewa."
Kini para peri selanjutnya telah diselamatkan hingga ke gunungg Melian hanya saja telah banyak dari rakyat peri yang keracunan asap tersebut dan mati, salah satunya adalah Marlos. Marlos, mengobarkan dirinya untuk yang lain karena nyawa yang lain lebih penting terlebih lagi adiknya Nonnus. Marlos, terjatuh saat pertolongan dari burung burung elang bantuan Dewa kehidupan.
Saat mereka telah berkumpul semua di Gunung Melian, Dewa kehidupan kini membaginya menjadi 3 dan memberi hadiah terakhir untuk para peri agar dapat bertahan dan menjadikan mereka berubah menjadi manusia setengah peri atau Elv. Serta Lobelia dan Ellgar, kini telah kembali ke tubuh normalnya.
Di sebuah acara pemakaman besar, Dewa kehidupan mengemukakan setelah acara pemakaman, "Saat ini Gunung Melian terbagi menjadi tiga bagian yaitu yang pertama mansion pertapaan yang kedua mansio seni beladiri dan yang ketiga mansion para Elv."
Tempatnya, 1. Mansion Pertapaan di bagian atas, 2. Mansion seni bela diri di bagian bawah, dan 3. Mansion para Elv di hutan Melian.
Seluruh penduduk mansion kala itu berkumpul dan bersorak sorai kemudian kembali ke tempat masing-masing setelah berdoa untuk para pejuang yang telah gugur.