
Kwaaak.... kwaaakk....
Suara burung gagak yang menemani malam panjang mereka di dalam kegelapan malam yang mereka susuri, kemudian datang bahaya seolah olah sedang bersiap menerkam mereka berdua di antara kepungan binatang buas.
" Jangan takut Lobelia, tetap di belakang saya." Ujar Ellgar, melindunginya.
"Ya, saya pun telah bersiap jika kondisi tidak mendukung selanjutnya," jawabnya.
Yang kemudian di balas anggukan tanda setuju oleh Ellgar.
"Shaaa..... shaaa... "
Angin berhembus kencang. Malam itu menjadi malam perburuan yang diakhiri dengan memakan daging bakar dari para hewan buas tersebut.
"Kamu hebat, Lobelia." Serunya, kagum.
"Itu tidak seberapa di banding dengan latihan saya bertahun tahun, dan hari ini saya bebas."
Ellgar, menjawabnya dengan sebuah senyuman. Terlintas di benaknya memikirkan kekacauan yang mereka perbuat. Datang perasaan yang tidak dapat dia ungkapkan padanya. Kedua hati itu sama sama menutupi diri satu dengan yang lain walaupun telah bersama. Rasanya tidak karuan jika di sampaikan, sakit jika di pendam.
"Kedepanya, silahkan lebih mengandalkan saya untuk menjaga kau," ungkapnya serius pada Lobelia.
"Ya... tapi, jika itu masalah yang cukup besar dan kau tak dapat melakukanya, maka biarkan saya yang melindungi kau."
"Baik..." tersenyum ringan.
Malam itu keduanya tertidur dengan pulas dalam keadaan perut kenyang di bawah pepohonan besar yang beralaskan dedaunan tertata rapi.
"Ciuuuut.... ciuutt.... ciuuut... "
Perlahan matanya terbuka pelan menghadap ke langit. Cahaya dari alam memasuki matanya.
''Uh..! silau. Ternyata sudah pagi," ungkapnya.
"Bangun, bangun Ellgar, " dia membangunkan Ellgar dari tidur pulasnya. "Heii...ayo ini sudah pagi, kita harus bergegas." Timbalnya lagi membangunkan.
"Baiklah... baiklah..."
Setengah perjalanan, tiba tiba Ellgar tersungkur ke tanah, "sruk.. brugh!"
"Kau...!!! kau kenapa?" tanya Lobelia, panik yang kemudian mengecek suhu tubuhnya.
"Astaga! kau demam dalam semalam."
Lobelia, bergegas membuat tubuhnya duduk, dan mencoba menyembuhkanya dengan kekuatanya.
"Kau beristirahatlah, saya akan mencari tumbuh tumbuhan untuk mengobati kau agar lekas sembuh."
"Terimakasih..." balasnya mengecup tangan Lobelia.
Beberapa menit setelah meninggalkan Ellgar, Lobelia tersadar tentang pesan dari Agaphi, agar tidak berjalan ke arah barat daya sehingga, membuatnya bergegas kembali.
Saat dia sampai, sesuai dugaan Ellgar terlentang di tanah dalam keadaan penuh luka di tubuhnya juga memar.
"Kau kenapa?" tanyanya sedih.
"Cepat pergi dari sini! tempat ini tidak aman, " balasnya mengungkapkan rasa was was dan kawatir.
"Ayo, saya akan membopong kau."
Lobelia, membopong Ellgar cukup jauh sampai dia kelelahan. Saat beristirahat sejenak, dia memulai meracik tanaman-tanaman yang terkumpul.
"Minumlah dengan pelan. "
Setelah Ellgar meminumnya, Lobelia bergegas membopong kembali sampai mereka menemukan sebuah gubuk kecil di hutan.
"Permisi... bolehkah kami numpang istirahat sejenak?" tanya Lobelia, yang sayangnya tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya dia membuka pintu secara langsung, dan ternyata isinya kosong tidak berpenghuni.
"Kita malam ini akan beristirahat di sini, sembari menyembuhkan luka kau."
"Iya. .." jawab Ellgar.
Duduk...dan berkata, "katakanlah, apa yang sebenarnya terjadi saat kau saya tinggal tadi."
"Saat kau pergi, tiba tiba datang segerombolan orang. Mereka membawa banyak persenjataan, dan menggunakan tunggangan kuda."
"Kau tahu siapa?"
"Tidak, tapi mereka terlihat seperti para prajurit, dan saat menghampiri saya, mereka mulai membangunkan saya yang sedang berpura pura tertidur."
"Lalu...?"
"Saya sengaja tidak membuka mata karena saya tahu, saya tidak akan mampu melawan mereka. Sampai akhirnya ada seseorang yang menendang saya hingga terbangun."
"Apa yang terjadi? "
''Yang menarik adalah, mereka bertanya apakah jalan ini sudah benar mengarah ke arah gunung melian."
"Apa? lalu kau menjawab apa?"
"Saya bungkam, dan mengatakan tidak tahu. Karena mereka tidak percaya serta, mengatakan saya tidak berguna, kemudian memukuli saya. Waktu itu saya merasa tubuh saya akan benar benar mati. Namun, tiba tiba saja datang seseorang dari atas pohon sekitar 4 orang menggunakan serba hitam, lalu membantu saya hingga, membuat mereka berbalik arah."
"Di hutan seperti ini? apakah benar ada seseorang pengendali spiritual? lalu mengapa mereka ingin ke gunung melian?"
"Saya juga tidak mengerti."
"Ke... kenapa?"
"Sepertinya mereka menyadarinya. Kita tidak boleh meninggalkan jejak."
"mem... memperhatikan?"
Mengawasi sekitar, membaca mantra. "Tertutuplah.... "
"Tempat di sekitar kita telah di tutupi oleh energi magis dari saya, mereka sekarang tidak dapat menemukan kita, dan kau bisa istirahat sampai sembuh." Ungkap Lobelia.
"Siapa mereka?"
"Mansion atas."
Terdiam sejenak, bersamaan.
"Putri, apa sebaiknya..... ma...mari kita kembali. Perasaan saya tidak enak telah meninggalkan melian." Ungkap Ellgar, membujuknya.
"Tidak....!"
"Lobelia...! pikirkan kembali semuanya yang telah kita lakukan."
"Kau ingin mengingkari janji?"
"Tapi... " perkataanya tertahan tidak ingin menyinggungnya.
"Baiklah... mari melanjutkan perjalanan." Tutur Ellgar.
Perdebatan itu seketika berhanti, jika salah satu dari mereka tidak mengalah mungkin saja, akan terjadi hal yang tidak diinginkan.
Ellgar, berbalik arah dan menuju tempat tidur untuk istirahat.
"Klinting... tuk, tuk, tuk, dug."
Sebuah benda jatuh tanpa sengaja dari tubuh Ellgar.
"Apa itu?" tanya Lobelia.
"Ah, ini." menunjukan padanya. "ini benda yang di tinggalkan orang tua saya. Kata paman Baron, saya harus menyimpanya. Siapa tahu berguna suatu hari nanti."
Lobelia, tidak terfokus pada benda tersebut. Jika dilihat lebih dekat itu adalah, liontin naga dari jaman kekaisaran Hong. Itulah mengapa saat di masala lalu, ayah Ellgar dapat mengenal jelas tentang naga Ecidna yang tertidur, dan kisah para serigala putih pejuang dari timur saat berhadapan dengan perompak lembu.
Ayah Ellgar, menikahi seorang wanita dari kekaisaran Hong. Dia dulu adalah seorang pedagang kaya yang kemudian bangkrut akibat ulah saudaranya sendiri hingga, membuat mereka pergi meninggalkan kota, dan berpindah ke tempat terpencil di daerah perbatasan kerajaan Thebes. Ibu Ellgar adalah, seorang wanita terpelajar yang kala itu berteman dengan kawan kecilnya di masa kanak kanak, kemudian memberikan sebuah liontin berwarna merah tua berukirkan naga.
Σ( ° △ °)
"Bagaimana?" tanya Te Heya.
"Dewi, sesuai laporan pengawal bayangan saya mengatakan bahwa, mereka bergegas menuju gunung melian."
"Ternyata begitu cepat."
"Tapi sepertinya bukan dari musuh bebuyutan kita," ungkapnya.
"Tidak apa. Siapapun mereka kita harus sigap menanggapinya. Berita cepat sekali menyebar, kejadian kemarin membuat para penjahat berdatangan."
"Iya, dewi... "
"Bagaimana dengan mereka."
"Pe... pengawal saya kehilangan jejak kedunya."
"Maafkan keteledoran saya, dewi." mengubah posisi menjadi sujud di lantai.
"Bangunlah... kau tidak perlu sampai seperti itu. Biarkan saja, itu keputusanya. Dia telah mengambil jalanya sendiri."
"Tapi... "
"Sudahlah, semua akan baik baik saja."
"Baik. Terimakasih, dewi... "
Dijawabnya dengan anggukan, dan sebuah senyuman ringan.
"Ellvern... "
''Ya, dewi."
"Kau tidak perlu bersusah payah, biarkan gerbang utama menyambutnya. Dan pastikan saja mansion bawah terjaga dengan baik."
"Baik, dewi."
"Baiklah, kalian bisa melanjutkan pekerjaan masing masing."
"Tungggu...! eng... maksutnya maaf dewi, bagaimana dengan para tetua?" timbal Elvern bertanya.
"Jika sudah waktunya, saya akan mengumpulkan mereka."
"Bagaimana dengan Liona?"
"Pastikan saja dia selalu di tempatnya," jawabnya.
"Baik."
"Sekarang, lakukanlah apa yang harus kalian lakukan. Juga, tetap awasi pergerakan dari luar gunung." Perintah Te Heya yang sedang melindungi seluruh rakyatnya.
"Baik, Dewi..." jawab keduanya bersamaan.